Dzikir: Oase Ketenangan di Tengah Badai Kehidupan Modern

Dzikir: Oase Ketenangan di Tengah Badai Kehidupan Modern
Oleh: Ust.Akhmad Fakhrur Rouzi, S.H.I., S.H., M.Pd., Gr.
(Anggota CMM dan Guru SMP Muhammadiyah)

 

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

Ketika Dunia Semakin Ramai, Mengapa Hati Semakin Sepi?

Kita hidup pada zaman yang sering disebut sebagai era digital, era informasi, bahkan era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Hampir setiap detik telepon genggam kita dipenuhi berbagai notifikasi. Berita datang silih berganti. Media sosial menghadirkan beragam informasi tanpa henti. Persaingan hidup semakin ketat. Target pekerjaan terus bertambah. Tuntutan ekonomi semakin tinggi. Di sisi lain, manusia juga dibebani dengan tuntutan untuk selalu terlihat sukses, bahagia, dan sempurna.

Akibatnya, tidak sedikit orang mengalami kelelahan mental (mental fatigue), kecemasan (anxiety), bahkan kehilangan makna hidup. Banyak orang tersenyum di depan kamera, tetapi menangis ketika sendirian. Banyak yang memiliki rumah mewah, kendaraan mahal, jabatan tinggi, namun tidak mampu membeli ketenangan batin.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi ternyata tidak selalu sejalan dengan kemajuan spiritual. Kemudahan hidup tidak otomatis menghadirkan kebahagiaan. Sebaliknya, semakin manusia menjauh dari Allah SWT, semakin mudah pula hatinya dikuasai kegelisahan.

Padahal sejak lebih dari empat belas abad yang lalu, Al-Qur'an telah memberikan resep yang sangat sederhana namun luar biasa.

"Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

Ayat ini bukan sekadar motivasi, tetapi merupakan hukum kehidupan. Allah SWT tidak mengatakan bahwa harta akan menenangkan hati, jabatan akan menenangkan hati, ataupun popularitas akan menenangkan hati. Allah  SWT menegaskan bahwa ketenangan sejati hanya diperoleh melalui dzikir kepada-Nya.

Mengapa Manusia Modern Mudah Gelisah?

Pada hakikatnya, manusia terdiri atas jasad, akal, dan ruh. Ketiganya membutuhkan "makanan" yang berbeda. Tubuh membutuhkan makanan bergizi, olahraga, dan istirahat. Akal membutuhkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Sedangkan ruh membutuhkan hubungan yang kuat dengan Allah SWT.

Sayangnya, banyak orang sangat memperhatikan kesehatan fisik dan kecerdasan intelektual, tetapi melupakan kesehatan spiritual. Mereka rajin berolahraga, menjaga pola makan, mengikuti pelatihan, bahkan mengejar berbagai sertifikat, tetapi lupa memberi nutrisi kepada hati.

Akibatnya, hati menjadi kering. Ketika datang masalah kecil saja, jiwa mudah goyah. Saat menghadapi kegagalan, muncul keputusasaan. Ketika melihat keberhasilan orang lain, lahirlah rasa iri. Ketika menghadapi masa depan yang belum pasti, muncullah kecemasan yang berlebihan.

Semua itu merupakan tanda bahwa hati membutuhkan asupan spiritual, dan salah satu asupan terbaik adalah dzikir.

 

Dzikir Bukan Sekadar Ucapan

Sebagian orang memahami dzikir hanya sebagai bacaan setelah shalat. Padahal makna dzikir jauh lebih luas daripada itu. Secara bahasa, dzikir berarti mengingat. Dalam perspektif Islam, dzikir adalah menghadirkan Allah SWT dalam hati, lisan, dan seluruh aktivitas kehidupan.

Ketika seseorang mengucapkan: Subhanallah, ia sedang mengakui kesempurnaan Allah SWT. Alhamdulillah, ia sedang menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah SWT. Allahu Akbar, ia sedang mengakui bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih besar daripada Allah SWT. Laa ilaaha illallah, ia sedang memperbarui komitmen tauhid dalam hidupnya.

Dengan demikian, dzikir bukan hanya aktivitas lisan, melainkan cara hidup seorang mukmin. Ia bekerja sambil mengingat Allah SWT. Ia belajar karena Allah SWT. Ia memimpin dengan amanah karena Allah SWT. Ia mendidik anak sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Inilah dzikir yang hidup.

 

Rasulullah SAW Teladan dalam Berdzikir

Jika ada manusia yang paling dekat dengan Allah SWT, tentu beliau adalah Rasulullah SAW. Namun justru beliau adalah orang yang paling banyak berdzikir. Dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW beristighfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari. Riwayat lain bahkan menyebutkan seratus kali.

Mengapa Rasulullah SAW masih memperbanyak istighfar, padahal beliau adalah manusia pilihan yang telah diampuni dosanya? Jawabannya karena istighfar bukan hanya untuk menghapus dosa, tetapi juga sebagai bentuk kerendahan hati, penghambaan, dan pengakuan bahwa manusia selalu membutuhkan Allah SWT. Semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah SWT, semakin besar pula rasa butuhnya kepada Allah SWT.

 

Dzikir Mengubah Cara Pandang terhadap Masalah

Setiap manusia pasti menghadapi ujian. Tidak ada kehidupan yang sepenuhnya bebas dari masalah. Yang membedakan seorang mukmin dengan orang lain bukan terletak pada banyak sedikitnya masalah, tetapi bagaimana ia memandang masalah tersebut. Orang yang jauh dari Allah SWT akan menganggap ujian sebagai akhir dari segalanya.

Sebaliknya, orang yang dekat kepada Allah SWT memandang ujian sebagai sarana peningkatan derajat. Ia percaya bahwa setiap kesulitan pasti mengandung hikmah. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6). Karena keyakinan itulah, seorang yang rajin berdzikir tidak mudah panik. Ia tidak mudah putus asa. Ia percaya bahwa Allah selalu membersamainya.

Dzikir mengubah hati sebelum mengubah keadaan.

Istighfar: Terapi Spiritual yang Sering Dilupakan

Di antara berbagai bentuk dzikir, istighfar memiliki keutamaan yang sangat besar. Sering kali kita merasa hidup terasa berat, rezeki sempit, hati tidak tenang, hubungan keluarga kurang harmonis. Padahal bisa jadi akar persoalannya adalah banyaknya dosa yang belum kita mohonkan ampun kepada Allah SWT.

Nabi Nuh 'alaihissalam pernah berkata kepada kaumnya, "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu." (QS. Nuh: 10–12)

Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya berdampak pada kehidupan akhirat, tetapi juga membawa keberkahan dalam kehidupan dunia. Istighfar membersihkan hati dari kesombongan, menghapus dosa, membuka pintu rezeki, menghadirkan ketenangan, sekaligus mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Berdzikir dalam Aktivitas Sehari-hari

Keindahan Islam adalah tidak memisahkan ibadah dari kehidupan. Seorang guru yang mengajar dengan ikhlas sedang berdzikir. Petani yang bekerja dengan jujur sedang berdzikir. Dokter yang melayani pasien karena Allah sedang berdzikir. Seorang ibu yang mendidik anak dengan penuh kasih sayang juga sedang berdzikir apabila semua itu diniatkan untuk mencari ridha Allah SWT.

Dengan demikian, dzikir tidak terbatas pada tasbih di tangan, tetapi juga tercermin dalam akhlak, amanah, kejujuran, kepedulian sosial, serta seluruh amal saleh.

Inilah makna firman Allah SWT, "Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Ahzab: 41). Ayat ini mengajarkan bahwa dzikir harus menjadi budaya hidup seorang mukmin.

Muhammadiyah dan Spirit Dzikir yang Mencerahkan

Gerakan Muhammadiyah sejak awal didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan tidak hanya menekankan kemajuan pendidikan dan pelayanan sosial, tetapi juga membangun spiritualitas yang berlandaskan tauhid murni.

Dzikir dalam perspektif Muhammadiyah bukan sekadar ritual yang diulang-ulang tanpa pemahaman, melainkan kesadaran yang melahirkan amal saleh. Mengingat Allah SWT harus berdampak pada lahirnya kejujuran, kedisiplinan, kerja keras, kepedulian terhadap sesama, dan semangat membangun peradaban.

Karena itu, seorang muslim yang banyak berdzikir tetapi masih gemar berdusta, berkhianat, atau merugikan orang lain, perlu kembali mengevaluasi kualitas dzikirnya. Dzikir yang benar akan membentuk karakter yang benar.

Menjadikan Dzikir sebagai Gaya Hidup

Membiasakan dzikir sebenarnya tidak sulit. Yang diperlukan adalah kesungguhan dan konsistensi. Mulailah hari dengan membaca doa bangun tidur dan istighfar. Biasakan membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil setelah shalat.

Perbanyak membaca istighfar ketika menghadapi kesulitan. Biasakan mengucapkan Alhamdulillah setiap menerima nikmat. Sebelum tidur, evaluasi diri dan mohonlah ampun kepada Allah SWT. Sedikit demi sedikit, hati akan merasakan perubahan. Mungkin masalah belum selesai seluruhnya, tetapi hati menjadi lebih kuat dalam menghadapinya.

Penutup

Ketenangan bukanlah hidup tanpa ujian. Ketenangan adalah kemampuan hati untuk tetap dekat kepada Allah di tengah berbagai ujian kehidupan .Dunia modern menawarkan banyak hiburan, tetapi tidak semuanya mampu menghadirkan ketenteraman. Dunia menyediakan berbagai fasilitas, tetapi tidak mampu mengisi kekosongan jiwa.

Hanya Allah SWT yang mampu menenangkan hati manusia. Karena itu, jangan biarkan hari-hari kita habis hanya untuk mengejar urusan dunia. Sisihkan waktu untuk berdzikir. Ringankan lisan dengan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan istighfar. Hadirkan Allah dalam setiap langkah kehidupan.

Semoga Allah SWT menjadikan hati kita senantiasa hidup dengan dzikir, lisan kita basah dengan menyebut nama-Nya, amal kita dipenuhi keikhlasan, dan kehidupan kita selalu berada dalam limpahan rahmat serta keberkahan-Nya.

Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb.


Dzikir: Oase Ketenangan di Tengah Badai Kehidupan Modern Dzikir: Oase Ketenangan di Tengah Badai Kehidupan Modern Reviewed by sangpencerah on September 11, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar: