TARKUS SHALAH

 TARKUS SHALAH
Oleh: Syarifah Maysarah
(Pemerhati Sosial Kemasyarakatan)


 

Seorang muslim/mukmin wajib melaksanakan shalat dan tidak boleh meninggalkannya, karena shalat adalah tiang agama dan pembeda utama keimanan. Meninggalkan shalat dengan sengaja dianggap sebagai dosa besar, bahkan lebih berat daripada perbuatan maksiat lainnya. Umat Islam diimbau menjaga shalat meski dalam situasi sibuk

Nabi SAW bersabda: “Perumpamaan salat lima waktu seperti sungai yang mengalir deras di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian, dia mandi padanya sebanyak lima kali.” (HR. Muslim).

Diupayakan Jangan lupa shalat Ashar.

"Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk." (QS. Al-Baqarah: 238)

Shalat Ashar disebut Al-Wustho dalam al-Qur'an, karena memiliki keistimewaan. Dari segi bahasa, Dalam bahasa Arab, kata Wustha  adalah bentuk muannats (feminin) dari kata Awsath (أوسط). Maknanya bukan sekadar "tengah" secara posisi, tetapi juga berarti:

1. Yang terbaik .

2. Yang paling adil/seimbang.

3. Yang paling utama.

Dengan menyebutnya Wustha, Allah SWT ingin memberi isyarat bahwa shalat ini memiliki keutamaan yang lebih dibandingkan shalat-shalat lainnya di sisi-Nya.

 

Rasulullah SAW mengindentifikasi keimanan muslim dilihat dari keta'atannya mendirikan shalat Ashar, atau melalaikannya dengan kesibukan duniawi sebagai karakter orang kafir.

"Mereka (kaum kafir) telah menyibukkan kami dari Shalat Wustha, (yaitu) Shalat Ashar. Semoga Allah memenuhi rumah-rumah dan kuburan mereka dengan api." (HR. Muslim No. 627, HR. Bukhari No. 2931).

Peringatan dari nabi bagi yang menginggalkan shalat Ashar:

"Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya." (HR. Bukhari no. 553)

Rasulullah SAW mengibaratkan orang yang terlewat shalat Ashar seperti orang yang kehilangan seluruh keluarga dan harta bendanya.

"Orang yang kehilangan (melewatkan) shalat Ashar, seolah-olah dia telah kehilangan keluarga dan hartanya." (HR. Bukhari no. 552 & Muslim no. 626)

Keistimewaan shalat Ashar. Para Malaikat yang bertugas malam dan siang bergantian dan berkumpul pada waktu Ashar.

Para malaikat malam dan malaikat siang silih berganti mendatangi kalian, dan mereka berkumpul pada waktu shalat Subuh dan shalat Ashar." (HR. Bukhari no. 555 & Muslim no. 632)

Setelah mengerjakan shalat Ashar, lanjut banyak bertasbih memuji Allah, dan membaca al-Qur'an.

"...dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari (Subuh) dan sebelum terbenamnya (Ashar)." (QS.Qaf :39)

 

Sebelum datang waktu maghrib, baiknya kita membersihkan rumah dari sampah dan kotoran, serta menutup rapat pintu dan jendela. Sebelum maghrib jangan lupa tutup pintu dan jendela, ya. Tidak menutup pintu dan jendela di waktu maghrib juga dapat menjauhkan rizki selama 40 hari. (Fi kitabil ta'lim muta'alim - Syaikh Jurnuzi).

Saat adzan maghrib, TV dimatikan.  Shalat jama'ah di Masjid. Anak-anak wajib mengaji al-Qur'an setelah shalat maghrib. Biar jadi anak shaleh-shalehah, bekali agama utk masa depannya. Galakan tersu program "Maghrib Mengaji" Bukan malah Maghrib Nonton TV, atau Maghrib Buka HP...

.

Pahala anak kecil yang belajar mengaji, mendapatkan dua pahala:

Satu untuk orang tuanya, dua untuk dirinya. Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa membaca al-qur'an dan mengamalkannya maka kedua orang tuanya pada hari kiamat akan dipakaikan mahkota yang cahayanya lebih bagus daripada cahaya matahari menembus rumah-rumah di dunia." (HR. Abu Dawud dan al-Hakim dari Mu'adz bin Jabal. Shahih. Al- Matjarur-Rabih hlm. 524 nomor 1084).

Sampai si anak dewasa. Baru segala amalnya, dosa dan pahalanya buat dirinya sendiri. Kewajiban orang tua pada anak, dari sejak lahir sampai menikahkan anaknya. Sudah selesai.

Setelah anak menikah, orang tua jangan ikut campur lagi urusan rumah tangga anak-anaknya. Kecuali mendoakan yang terbaik agar sakinah dan bahagia. Tidak perlu juga mengharapkan balas jasa, balas budi dari anak-anaknya.

Sedari kecil dididik putra-putri kita jadi anak shaleh-shalehah. Agar setelah dewasa dan menikah, anak yang shaleh akan tetap berbakti pada orang tuanya. Walau sudah menikah, masih suka menengok orang tuanya, mengirimi uang dan makanan.

Setelah dewasa dan menikah, Anaknya akan teringat jasa kedua orang tuanya yang telah mendidiknya jadi sukses sekarang.

Allah SWT berfirman:

"Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. (QS. Al-ankabut: 8 )

Pesan moral:

Sebelum terlambat, sebagai orang tua, didiklah putra-putrinya menjadi insan yang beriman dan bertakwa, jadi anak shaleh-shalehah.  Bisa ngaji Qur'an, berakhlak baik, dan menghormati orang lain, terutama orang tua dan gurunya.

Allah SWT memerintahkan:

Wahai orang yang beriman, didiklah dirimu dan keluargamu agar terhindar dari siksa api neraka. (QS. At-Tahrim: 6)

 

Minimal setelah orang tua di usia senja, atau meninggal dunia. Punya investasi berharga yaitu Doa dari anak shaleh, itulah yang akan jadi bekal orang tuanya kelak di alam kubur dan yaumil akhirat.

 

Rasulullah SAW  bersabda, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

"Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara), yakni sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa untuknya. (HR. Bukhari)

Dan kita semua adalah seorang anak dari orang tua kita. Wajib mendoakan kedua orang tua kita, berbakti selagi ada di dunia. Agar orang tua kita bahagia di usia senjanya. Tidak kecewa melihat anaknya. Tidak ada yang paling penting dirindukan oleh kedua orang tua, kecuali Doa dari anak yang shaleh/ah untuk kedua orang tuanya. "Ya Allah ya Tuhanku ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka mengasuh kami di waktu kecil".

Bagi mereka yang meninggalkan salat bukan karena mengingkari kewajibannya, tetapi karena kemalasan, ancaman neraka tetap mengintai. Dalam surat Al-Muddatstsir ayat 41-43, Allah SWT mengisahkan dialog dengan orang-orang yang berdosa: “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.”

Dalam ayat di atas jelas bahwa meninggalkan shalat karena lalai atau malas pun termasuk dosa yang berat. Bagi yang sering meninggalkan salat, tidak ada jalan lain selain bertaubat, menyesali perbuatannya, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Shalat, dalam esensinya, bukan hanya ibadah yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya, tetapi juga menjadi penjaga diri dari kemaksiatan dan dosa. Kesadaran akan pentingnya shalat harus senantiasa dijaga agar terhindar dari ancaman kekufuran dan siksa neraka.

Jadi setiap keyakinan harus dibuktikan kepada Allah SWT, dan disaksikan malaikat dan manusia di bumi, Pembeda Iman: Shalat adalah tiang agama; menegakkannya berarti memperkokoh agama, meninggalkannya berarti meruntuhkannya.

Hukum Meninggalkan: Sengaja meninggalkan shalat wajib, meskipun karena malas, merupakan dosa besar yang diancam neraka.

Kondisi Darurat: Hanya empat golongan yang dibolehkan meninggalkan shalat: wanita haid/nifas, orang gila, anak belum baligh, dan non-muslim.

Ketentuan syari’at  menekankan pentingnya shalat sesuai contoh Nabi Muhammad SAW, termasuk rukun, syarat, dan tumakninah.

Qadha Shalat: Bagi yang meninggalkan shalat karena lupa atau tertidur, wajib mengqadhanya segera setelah ingat.

 

TARKUS SHALAH  TARKUS SHALAH Reviewed by sangpencerah on Juni 11, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar: