Seorang
muslim/mukmin wajib melaksanakan shalat dan tidak boleh
meninggalkannya, karena shalat adalah tiang agama dan pembeda utama
keimanan. Meninggalkan shalat dengan sengaja dianggap sebagai dosa besar,
bahkan lebih berat daripada perbuatan maksiat lainnya. Umat Islam diimbau
menjaga shalat meski dalam situasi sibuk
Nabi
SAW bersabda: “Perumpamaan salat lima waktu seperti sungai yang mengalir deras
di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian, dia mandi padanya sebanyak
lima kali.” (HR. Muslim).
Diupayakan
Jangan lupa shalat Ashar.
"Peliharalah
semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah
(dalam shalatmu) dengan khusyuk." (QS. Al-Baqarah: 238)
Shalat
Ashar disebut Al-Wustho dalam al-Qur'an, karena memiliki keistimewaan. Dari
segi bahasa, Dalam bahasa Arab, kata Wustha
adalah bentuk muannats (feminin) dari kata Awsath (أوسط). Maknanya bukan sekadar
"tengah" secara posisi, tetapi juga berarti:
1.
Yang terbaik .
2.
Yang paling adil/seimbang.
3.
Yang paling utama.
Dengan
menyebutnya Wustha, Allah SWT ingin memberi isyarat bahwa shalat ini memiliki
keutamaan yang lebih dibandingkan shalat-shalat lainnya di sisi-Nya.
Rasulullah
SAW mengindentifikasi keimanan muslim dilihat dari keta'atannya mendirikan
shalat Ashar, atau melalaikannya dengan kesibukan duniawi sebagai karakter
orang kafir.
"Mereka
(kaum kafir) telah menyibukkan kami dari Shalat Wustha, (yaitu) Shalat Ashar.
Semoga Allah memenuhi rumah-rumah dan kuburan mereka dengan api." (HR.
Muslim No. 627, HR. Bukhari No. 2931).
Peringatan
dari nabi bagi yang menginggalkan shalat Ashar:
"Barangsiapa
meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya." (HR. Bukhari no.
553)
Rasulullah
SAW mengibaratkan orang yang terlewat shalat Ashar seperti orang yang
kehilangan seluruh keluarga dan harta bendanya.
"Orang
yang kehilangan (melewatkan) shalat Ashar, seolah-olah dia telah kehilangan
keluarga dan hartanya." (HR. Bukhari no. 552 & Muslim no. 626)
Keistimewaan
shalat Ashar. Para Malaikat yang bertugas malam dan siang bergantian dan
berkumpul pada waktu Ashar.
Para
malaikat malam dan malaikat siang silih berganti mendatangi kalian, dan mereka
berkumpul pada waktu shalat Subuh dan shalat Ashar." (HR. Bukhari no. 555
& Muslim no. 632)
Setelah
mengerjakan shalat Ashar, lanjut banyak bertasbih memuji Allah, dan membaca
al-Qur'an.
"...dan
bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari (Subuh) dan sebelum
terbenamnya (Ashar)." (QS.Qaf :39)
Sebelum
datang waktu maghrib, baiknya kita membersihkan rumah dari sampah dan kotoran,
serta menutup rapat pintu dan jendela. Sebelum maghrib jangan lupa tutup pintu
dan jendela, ya. Tidak menutup pintu dan jendela di waktu maghrib juga dapat menjauhkan
rizki selama 40 hari. (Fi kitabil ta'lim muta'alim - Syaikh Jurnuzi).
Saat
adzan maghrib, TV dimatikan. Shalat
jama'ah di Masjid. Anak-anak wajib mengaji al-Qur'an setelah shalat maghrib. Biar
jadi anak shaleh-shalehah, bekali agama utk masa depannya. Galakan tersu
program "Maghrib Mengaji" Bukan malah Maghrib Nonton TV, atau Maghrib
Buka HP...
.
Pahala
anak kecil yang belajar mengaji, mendapatkan dua pahala:
Satu untuk orang tuanya, dua untuk dirinya. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa
membaca al-qur'an dan mengamalkannya maka kedua orang tuanya pada hari kiamat
akan dipakaikan mahkota yang cahayanya lebih bagus daripada cahaya matahari
menembus rumah-rumah di dunia." (HR. Abu Dawud dan al-Hakim dari Mu'adz
bin Jabal. Shahih. Al- Matjarur-Rabih hlm. 524 nomor 1084).
Sampai
si anak dewasa. Baru segala amalnya, dosa dan pahalanya buat dirinya sendiri.
Kewajiban orang tua pada anak, dari sejak lahir sampai menikahkan anaknya.
Sudah selesai.
Setelah
anak menikah, orang tua jangan ikut campur lagi urusan rumah tangga
anak-anaknya. Kecuali mendoakan yang terbaik agar sakinah dan bahagia. Tidak
perlu juga mengharapkan balas jasa, balas budi dari anak-anaknya.
Sedari
kecil dididik putra-putri kita jadi anak shaleh-shalehah. Agar setelah dewasa
dan menikah, anak yang shaleh akan tetap berbakti pada orang tuanya. Walau
sudah menikah, masih suka menengok orang tuanya, mengirimi uang dan makanan.
Setelah
dewasa dan menikah, Anaknya akan teringat jasa kedua orang tuanya yang telah
mendidiknya jadi sukses sekarang.
Allah
SWT berfirman:
"Dan
Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya.
(QS. Al-ankabut: 8 )
Pesan
moral:
Sebelum
terlambat, sebagai orang tua, didiklah putra-putrinya menjadi insan yang
beriman dan bertakwa, jadi anak shaleh-shalehah. Bisa ngaji Qur'an, berakhlak baik, dan
menghormati orang lain, terutama orang tua dan gurunya.
Allah
SWT memerintahkan:
Wahai
orang yang beriman, didiklah dirimu dan keluargamu agar terhindar dari siksa
api neraka. (QS. At-Tahrim: 6)
Minimal
setelah orang tua di usia senja, atau meninggal dunia. Punya investasi berharga
yaitu Doa dari anak shaleh, itulah yang akan jadi bekal orang tuanya kelak di
alam kubur dan yaumil akhirat.
Rasulullah
SAW bersabda, dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan dari Abu Hurairah:
"Ketika
seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara),
yakni sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa untuknya.
(HR. Bukhari)
Dan
kita semua adalah seorang anak dari orang tua kita. Wajib mendoakan kedua orang
tua kita, berbakti selagi ada di dunia. Agar orang tua kita bahagia di usia
senjanya. Tidak kecewa melihat anaknya. Tidak ada yang paling penting
dirindukan oleh kedua orang tua, kecuali Doa dari anak yang shaleh/ah untuk
kedua orang tuanya. "Ya Allah ya Tuhanku ampunilah aku dan kedua orang
tuaku dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka mengasuh kami di waktu
kecil".
Bagi
mereka yang meninggalkan salat bukan karena mengingkari kewajibannya, tetapi
karena kemalasan, ancaman neraka tetap mengintai. Dalam surat Al-Muddatstsir
ayat 41-43, Allah SWT mengisahkan dialog dengan orang-orang yang berdosa:
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: Kami
dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.”
Dalam
ayat di atas jelas bahwa meninggalkan shalat karena lalai atau malas pun
termasuk dosa yang berat. Bagi yang sering meninggalkan salat, tidak ada jalan
lain selain bertaubat, menyesali perbuatannya, dan bertekad untuk tidak
mengulanginya lagi.
Shalat,
dalam esensinya, bukan hanya ibadah yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya,
tetapi juga menjadi penjaga diri dari kemaksiatan dan dosa. Kesadaran akan
pentingnya shalat harus senantiasa dijaga agar terhindar dari ancaman kekufuran
dan siksa neraka.
Jadi
setiap keyakinan harus dibuktikan kepada Allah SWT, dan disaksikan malaikat dan
manusia di bumi, Pembeda Iman: Shalat adalah tiang agama;
menegakkannya berarti memperkokoh agama, meninggalkannya berarti
meruntuhkannya.
Hukum
Meninggalkan: Sengaja meninggalkan shalat
wajib, meskipun karena malas, merupakan dosa besar yang diancam neraka.
Kondisi
Darurat: Hanya empat golongan yang dibolehkan meninggalkan shalat:
wanita haid/nifas, orang gila, anak belum baligh, dan non-muslim.
Ketentuan
syari’at menekankan pentingnya shalat sesuai contoh Nabi Muhammad SAW,
termasuk rukun, syarat, dan tumakninah.
Qadha
Shalat: Bagi yang meninggalkan shalat karena lupa atau tertidur,
wajib mengqadhanya segera setelah ingat.
Reviewed by sangpencerah
on
Juni 11, 2026
Rating:





Tidak ada komentar: