Landasan membangun sebuah rumah tangga ideal dalam Islam, sesuai dengan firman Allah SWT, bahwa setaip pasangan suami istri diupayakan mencapai 3 kondisi dalam perjalanan mahligai rumah tangganya. Diantara yang disebutkan dalam al-qur’an adalah Keluarga Sakinah adalah konsep tentang bangunan keluarga yang mampu menumbuhkan rasa kasih sayang pada anggota keluarga, untuk mewujudkan rasa aman, tentram, damai dan bahagia, sejahtera dunia dan akhirat.
Bangunan keluarga sakinah ini dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah sehingga mendapat ridha Allah SWT dan tercatat di Kantor Urusan Agama, sehingga masing-masing anggota keluarga dapat menjalankan peran sesuai fungsinya. Keluarga sakinah juga dibangun atas fondasi keadilan, keseimbangan, akad yang sangat kuat atau mitsaqan ghalizhan, bergaul secara ma’ruf atau mu’asyarah bil-ma’ruf, dan lain-lain.
“Keberadaan keluarga Sakinah memancarkan kemanfaatan untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia,” tegas Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini.
Dalam membangun Keluarga Sakinah perlu dilandaskan pada lima asas yaitu: pertama, asas karamah insaniyah, yaitu menempatkan manusia (laki-laki dan perempuan) sebagai makhluk Tuhan yang memiliki kemuliaan dan kedudukan utama. a. Pandangan kemanusiaan (humanisme religious) ini dilandasi pesan normatif Allah dalam surah al-Isra’ ayat 70.
Kedua, asas hubungan kesetaraan, yaotu pola hubungan antar manusia yang didasarkan pada sikap penilaian bahwa semua manusia mempunyai nilai sama. Perbedaan status dan peran seseorang tidak menimbulkan perbedaan nilai kemanusiaannya di hadapan orang lain. Hubungan kesetaraan yang dilandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan dan ketakwaan diabadikan Allah dalam surah al-Hujurat ayat 13.
Ketiga, asas keadilan, yaitu adil terhadap diri, kemudian diikuti adil pada pasangan, anak-anak, orangtua, serta kerabat. Adil terhadap diri dalam arti mampu memenuhi kebutuhan dan hak-hak diri, baik kebutuhan badani, jiwani, spiritual, maupun sosial secara seimbang dan baik. Bersikap adil terhadap keluarga nampak dalam perlakuan dan pemenuhan hakhak semua anggota keluarga secara baik dan seimbang. Allah SWT telah mengingatkan agar keadilan dapat ditegakkan dalam keluarga meskipun berat melakukannya, seperti firman Allah SWT dalam surah an-Nisa’ ayat 135.
Keempat, asas mawaddah wa rahmah (kasih sayang), yaitu keadaan jiwa pada masing-masing individu anggota keluarga yang memiliki perasaan lekat secara suka rela pada orang lain, yang diikuti oleh dorongan dan usaha untuk menjaga dan melindunginya. Asas ini menjadi sumber suasana ketentraman, kedamaian, keharmonisan, kekompakan, kehangatan, keadilan, kejujuran, dan keterbukaan dalam rumah tangga untuk terwujudnya kebaikan hidup di dunia dan akhirat yang diridlai Allah SWT sebagaimana dalam surah ar-Rum ayat 21.
Kelima, asas pemenuhan kebutuhan hidup sejahtera dunia akhirat. Secara fitrah manusia lahir membawa beberapa potensi kemanusiaan yang akan berkembang selama hidupnya. Manusia memiliki beberapa kebutuhan yang perlu dipenuhi oleh keluarga untuk mengembangkan potensinya seperti kebutuhan spiritual, kebutuhan pendidikan, kebutuhan ekonomi, kebutuhan hubungan sosial, dan kebutuhan kesehatan dan pengelolaan lingkungan.
Banyak orang mengira hubungan langgeng itu soal menemukan orang yang tepat. Faktanya, penelitian dalam The Seven Principles for Making Marriage Work karya John Gottman menunjukkan bahwa bertahan dalam hubungan lebih banyak soal membangun kebiasaan yang sehat daripada sekadar menunggu pasangan ideal datang. Pasangan yang terlihat mesra puluhan tahun bukan berarti hidupnya tanpa konflik, melainkan tahu bagaimana mengelola konflik dan menjaga kualitas interaksi sehari-hari.
Seperti sepasang tetangga lanjut usia yang setiap sore duduk di teras, menyeruput teh sambil membicarakan hal-hal kecil. Mereka mungkin pernah bertengkar, bahkan berhari-hari tak bicara, tetapi tetap kembali duduk bersama. Bukan karena cinta mereka ajaib, tapi karena kebiasaan mereka menghidupkan cinta itu setiap hari.
1. Menyediakan Waktu Khusus untuk Berdua
Dalam buku The Seven Principles for Making Marriage Work, Gottman menjelaskan bahwa hubungan yang sehat selalu punya “ritual koneksi”, momen yang secara konsisten dilakukan untuk memperkuat kedekatan emosional. Bukan hanya liburan mahal atau kencan istimewa, tetapi juga hal sederhana seperti sarapan bersama atau jalan sore. Ketika pasangan terbiasa menyisihkan waktu khusus, mereka mengirim pesan bahwa hubungan ini prioritas.
Contohnya, pasangan yang selalu mematikan ponsel setelah pukul 8 malam demi berbicara satu sama lain akan cenderung merasa lebih dekat. Tanpa disadari, rutinitas kecil ini menumbuhkan rasa aman dan keterikatan. Inilah mengapa waktu bersama bukan sekadar aktivitas, tetapi sebuah investasi emosional yang melindungi hubungan dari jarak emosional.
2. Menghargai Perbedaan dengan Rasa Ingin Tahu
Menurut Esther Perel dalam Mating in Captivity, daya tarik dalam hubungan justru terjaga ketika pasangan tidak memaksa untuk selalu seragam dalam pandangan dan kebiasaan. Menghargai perbedaan berarti melihatnya sebagai kesempatan untuk mengenal pasangan lebih dalam, bukan ancaman.
Contoh nyatanya, pasangan yang memiliki hobi berbeda—misalnya satu suka hiking, yang lain suka membaca di rumah—tidak memaksakan kesamaan, melainkan saling memberi ruang. Mereka terkadang ikut dalam aktivitas pasangannya bukan untuk mengubah diri, melainkan untuk mengalami sudut pandang yang berbeda. Kebiasaan ini mencegah hubungan terjebak dalam kebosanan sekaligus menumbuhkan rasa hormat.
3. Memvalidasi Perasaan Pasangan
Dalam Nonviolent Communication karya Marshall B. Rosenberg, validasi berarti mengakui perasaan orang lain tanpa menghakimi atau langsung memberi solusi. Pasangan yang terbiasa memvalidasi membangun rasa aman emosional, sehingga konflik tidak membesar menjadi serangan pribadi.
Misalnya, ketika pasangan pulang dengan wajah lelah dan berkata, “Hari ini kacau banget,” respons yang sehat adalah, “Aku bisa ngerti kamu capek banget, mau cerita?” bukan “Ya sudah jangan dipikirin.” Perbedaan kecil ini membentuk pola komunikasi yang menenangkan dan mendekatkan.
4. Mengelola Konflik dengan Humor Sehat
John Gottman mencatat bahwa pasangan yang langgeng sering menggunakan humor ringan di tengah konflik, bukan untuk meremehkan masalah, tetapi untuk mengendurkan ketegangan. Humor sehat membantu otak keluar dari mode defensif dan membuka pintu kompromi.
Bayangkan sepasang suami istri yang sedang berdebat soal cucian, lalu salah satunya berkata sambil tersenyum, “Kalau cucian bisa bicara, dia pasti minta pindah rumah.” Tawa yang muncul membuat energi tegang mereda dan mereka lebih mudah mencari solusi. Kebiasaan ini mengingatkan bahwa masalahnya ada di luar diri mereka, bukan di antara mereka.
5. Menjaga Sentuhan Fisik Sehari-hari
Dalam The Five Love Languages karya Gary Chapman, sentuhan fisik disebut sebagai salah satu bahasa cinta utama. Menjaga kebiasaan ini tidak hanya soal momen intim, tapi juga pelukan, tepukan di bahu, atau genggaman tangan saat berjalan. Sentuhan sederhana memicu pelepasan oksitosin yang meningkatkan rasa keterikatan.
Pasangan yang bahkan di tengah kesibukan masih sempat berpegangan tangan saat menyeberang jalan, tanpa sadar sedang memperkuat koneksi emosional. Kebiasaan ini mengingatkan tubuh bahwa ada kehangatan dan rasa aman yang konstan hadir.
6. Saling Mendukung Pertumbuhan Individu
Dalam Hold Me Tight karya Dr. Sue Johnson, hubungan yang sehat bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga ruang tumbuh. Pasangan yang saling mendukung impian masing-masing menciptakan hubungan yang dinamis dan tidak membatasi.
Misalnya, ketika salah satu ingin mengambil kursus menulis, pasangannya menawarkan dukungan, baik berupa waktu, dorongan moral, atau membantu mengatur urusan rumah. Kebiasaan ini mencegah hubungan menjadi penjara emosional dan justru membuat ikatan semakin kuat karena ada rasa saling percaya.
7. Mengucapkan Terima Kasih Setiap Hari
Robert Emmons dalam Thanks!: How the New Science of Gratitude Can Make You Happier menemukan bahwa kebiasaan mengungkapkan rasa terima kasih secara rutin meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan dalam hubungan. Rasa syukur membuat pasangan lebih fokus pada hal positif dibanding kekurangan.
Pasangan yang saling mengatakan “Terima kasih sudah masak hari ini” atau “Terima kasih udah dengerin aku” sebenarnya sedang mengisi ulang tangki emosional satu sama lain. Kebiasaan ini sederhana, tetapi efeknya jangka panjang karena membuat setiap orang merasa dilihat dan dihargai.
Hubungan langgeng bukan hadiah yang datang begitu saja, melainkan hasil dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. Dari tujuh kebiasaan ini, mana yang sudah jadi bagian dari hubungan Anda, dan mana yang ingin mulai Anda terapkan? Mari kita berbenah dalam keluarga dan berdamai dengan anggota keluarga.
Reviewed by sangpencerah
on
Juni 05, 2026
Rating:





Tidak ada komentar: