MANUSIA TIDAK BISA MENGHINDAR

 MANUSIA TIDAK BISA MENGHINDAR
Oleh. Tim Redaksi MPID PDM Kota Malang

 

Firman Allah SWT:

Setiap umat punya ajal (batas waktu) apabila datang ajal itu, maka tidak bisa diundur dan juga tidak bisa diamajukan (sesaatpu) (QS. Al-A’raf;7:34)

Semua peristiwa di dunia ini semuanya bisa dihindari oleh manusia sebelum datang ajal, karena pada hakikatnya manusia itu terbatas oleh waktu di dunia ini. Namun satu fenomena yang tidak akan bisa dihindari oleh seluruh manusia yaitu Kematian kematian merupakan satu kepastian yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Dalam al-Qur’an ajal serigkali disebut dengan umur/usia, padahal sebenarnya dua hal yang berbeda yaitu. Ajal adalah ketentuan Allah SWT yang tidak akan dapat dimajukan ataupun dimundurkan. Sedangkan umur/usia adalah kualitas dari ajal itu sendiri.

 

Kemana Ruh akan Pergi?Manusia pasti akan merasakan mati. Dan kematian ini tak hanya dialami oleh manusia, semua yang bernyawa pun akan merasakan yang Namanya kematian. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (Q.S. Al-Ankabut: 57).

 

Menyoal kematian manusia, ada pertanyaan yang sering kali terlintas terpikirkan. Setelah manusia meninggal dunia, di manakah ruh manusia itu akan tinggal?

 

Sebelumnya kita harus mengetahui bahwa jiwa manusia itu

memiliki 4 alam, yakni:

 

1.    Alam kandungan

       Tempatnya sempit, terbatas, dan diliputi kegelapan lapis tiga karena di dalam perut ibunya.

2.    Alam dunia

       Tempat di mana tumbuh dan berkembang. Di sinilah tempat berbuat kebaikan dan keburukan dan tempat mengumpulkan bekal menuju alam selanjutnya.

3.    Alam kubur (barzah)

       Tempatnya lebih luas dan lebih besar dibandingkan alam dunia, bisa diibaratkan seperti luasanya dunia jika dibandingkan dengan perut ibu saat masih di kandungan.

4.    Alam yang kekal (surga atau neraka)

       Alam penghabisan, karena setelah ini tidak ada alam lagi.

 

Menurut Ibnul Qayyim dalam  buku Fiqih Sunah karya Sayyid Sabiq, para ulama telah menyampaikan pendapatnya terkait kediaman ruh setelah wafat. Menurut Ibnul Qayyim, ulama berpendapat bahwa kediaman ruh itu ada di alam barzah yang kondisinya bertingkat-tingkat. Ada yang berada di tempat tertinggi, yaitu ruh para Nabi. Tempat mereka juga berbeda-beda kelasnya sebagaimana disaksikan Nabi Muhammad SAW. pada malam Isra Mi’raj.

Menurut Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnahnya, hakikat ruh itu tidak sama dengan jasad. Walaupun misalnya ruh itu ada di langit yang penuh kenikmatan layaknya surga, ruh tetap dapat berhubungan dengan kubur di mana tempat ia dimakamkan atau tempat ia meninggal. Hal itu karena ruh bisa bergerak dengan cepat.

 

Selain itu, ruh pun bisa merasakan sakit (karena disiksa atau mendapat penderitaan) yang rasa sakitnya bisa melebihi sakit di dunia. Ruh juga bisa merasa sehat, senang, susah, merintih, dan bisa merasakan kebebasan serta terbelenggu. Saat ruh masih berada dalam jasadnya, maka ia seperti bayi dalam kandungan. Sementara saat ruh keluar dari jasadnya, maka ia seperti bayi yang telah keluar dari kandungan ibunya.

 

Tempat Tinggal Ruh

Tempat ruhnya manusia itu berbeda-beda. Ada yang tempatnya mulia di tempat yang tertinggi (langit ketujuh) yang indah layaknya surga. Namun, ada juga yang masih di bumi dan tidak bisa naik ke langit. Tempat-tempat tinggal ruh yang berbeda-beda ini berdasarkan penglihatan langsung Nabi Muhammad SAW. ketika diajak Malaikat Jibril melakukan perjalanan Isra Mi’raj ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh. Berikut penjelasan tempat tinggal ruh seperti yang redaksi rangkum dalam buku Fiqih Sunah Sayyid Sabiq:

 

1.    Ruh para syuhada tempatnya di dalam tempat makanan burung hijau yang berterbangan di surga ke sana kemari.

2.    Ruh para syuhada yang masih memiliki utang ruhnya masih tertahan belum bisa masuk surga karena utangnya yang belum dibayar.

3.    Ada ruh yang tertahan di pintu surga seperti yang disampaikan dalam hadits Nabi SAW., “Aku melihat saudara kalian tertahan di pintu surga.”

4.    Ada ruh yang masih tertahan di kuburannya, sebagaimana hadits seorang pencuri mantel yang mati sebagai syahid. Ketika kaum muslimin berkata, “Ia akan masuk surga.” Rasulullah lalu bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya mantel yang ia curi akan menjadi api di dalam kuburannya.”

5.    Ada ruh yang tempatnya di pintu surga, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Abbas, “Para syuhada berada di sungai yang berada di pintu surga di dalam sebuah kubah hijau. Rezeki mereka datang pagi dan sore.” (H.R. Ahmad).

6.    Ada ruh yang khusus diberikan dua sayap oleh Allah SWT. seperti pada Ja’far bin Abu Thalib yang bisa terbang ke mana saja di surga.

7.    Ada ruh yang tertahan di bumi dan tidak bisa terbang ke langit. Ruh yang seperti ini adalah ruh yang sebelumnya adalah ruh yang hina karena hanya mementingkan urusan duniawi dan hanya layak berada di bumi dan tidak pantas naik ke langit. Ruh ini juga yang selama hidup di dunia tidak berusaha mengenal Allah SWT., mencintai, dan mendekat kepada-Nya.

8.    Ada ruh yang setelah terlepas dari jasadnya dikumpulkan dengan orang-orang yang mulia kawan-kawan seperjuangannya dan akan tinggal bersama mereka karena selama di dunia selalu berusaha mencintai dan medekat kepada Allah SWT.

9.    Ada ruh yang berada di dalam tungku para pelacur dan ada ruh yang berada di dalam sungai darah. Di sana mereka berenang di sana dan menelan batu.

 

Itulah penjelasan dan gambaran tempat tinggal ruh manusia setelah meninggal dunia. Semoga bisa menjadi tambahan wawasan. Dan semoga bisa menjadi motivasi tersendiri untuk memaksimalkan amal baik di dunia agar kelak mendapatkan kenikmatan setelah wafat. ketika seorang meninggal (mati, berpisah jasad dari ruhnya), maka ia tidak akan kembali ke alam dunia. Pada hari kiamat nanti, orang-orang kafir akan memohon kepada Allah SWT agar dikembalikan lagi ke dunia untuk beramal shalih, tetapi permintaan itu tidak dikabulkan oleh Allah SWT. Ada beberapa pendapat tentang keberadaan ruh setelah meninggal hingga hari kiamat. Dari sekian banyak pendapat yang ada, tidak satu pun yang menerangkan bahwa ada ruh yang gentayangan. Ruh orang-orang beriman berada di alam barzakh yang luas, yang di dalamnya ada ketenteraman dan rezeki serta kenikmatan, sedangkan ruh orang-orang kafir berada di barzakh yang sempit, yang di dalamnya hanya ada kesusahan dan siksa. Allah SWT berfirman: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja, dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitkan”. [QS. al-Mukminun (23): 100]

 

Memang ada sebagian kalangan yang berkeyakinan dan menyatakan bahwa ruh orang Islam yang meninggal akan berputar-putar di sekitar rumahnya selama satu bulan sejak meninggalnya dan setelah itu berputar-putar sekitar makamnya selama satu tahun. Keyakinan tersebut berdasarkan pada hadits yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.

(Diriwayatkan) dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah SAW bahwa apabila seorang mukmin meninggal dunia, maka arwahnya berkeliling-keliling diseputar rumahnya selama satu bulan. Ia memperhatikan keluarga yang ditinggalkannya bagaimana mereka membagi hartanya dan membayarkan hutangnya. Apabila telah sampai satu bulan, maka arwahnya itu dikembalikan ke makamnya dan ia berkeliling –keliling di seputar kuburannya selama satu tahun, sambil memperhatikan orang yang mendatanginya dan mendoakannya serta yang bersedih atasnya. Apabila telah sampai satu tahun, maka arwahnya dinaikkan ditempat dimana para arwah berkumpul menanti hari ditiupnya sangkakala.

 

Firman Allah SWT; “setiap yang bernyawa akan merasakan mati, hanya pada hari qiamatlah disempurnakan belasannya. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya(semu)" QS. ali-Imran;185

 

Namun setelah ditelusuri dan diteliti, yaitu menggunakan Program al-Maktabah asy-Syamilah (edisi 2), Program al-Jami’ al-Akbar (edisi 2), dan Program al-Jami’ al-Kabir (edisis 4, 2007-2008) kami tidak menemukan sumber hadits yang dinyatakan di atas. Dapat dinyatakan bahwa hadits yang sedang kita selidiki ini tidak tercantum dalam satupun dari sumber-sumber orisinal hadits yang ada.

Oleh sebab itulah maka keberdaan Ruh itu disisi Allah SWT bukan gentayangan Dimana-mana dan kemana-mana, Wallahu A’lam bis Shawab!

 




MANUSIA TIDAK BISA MENGHINDAR  MANUSIA TIDAK BISA MENGHINDAR Reviewed by sangpencerah on April 17, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar: