PUASA DAN ORANG TUA

 PUASA DAN ORANG TUA
Oleh. Ustadz Farid Okbah, MA


 


Prolog:

Orang tua mampu merawat, membesarkan dan bahkan mensukseskan mereka (para anak) tanpa pamrih dan tidak mudah mengeluh dalam situasi dan kondisi apapun, dimanapun mereka berada (hidup) dan mereka rela berbuat apa saja dari hal positif untuk anak-anaknya. Yang ironis justeru anak yang banyak belum tentu mampu merawat dan memberikan perhatian penuh kepada orangtuanya, yang hanya seorang saja, inilah fenomena di akhir zaman sampai sekarang bahkan sampai hari kiamat, mengapa?

Menyoroti berbagai kasus di tanah air dan banyak negara tetangga, yang sepertiga penduduknya orang tua. Bagaimana mereka diperlakukan? Tidak jarang ujungnya di panti jompo. Beda dengan ummat Islam yang diajarkan oleh agamanya untuk menghormati orang tua. Apalagi ketika mereka semakin tua semakin tidak berdaya, lebih membutuhkan perhatian dari pada anaknya, seperti kata orang “ satu orangtua dapat membesarkan 10-12 anak, tapi 10 anak belum tentu bisa merawat dan membahagiakan orantua” kalimat ini memiliki banyak hikmah dan makna filosofis, sekalipun tidak selamanya benar.

Dalam ajaran Islam, berbakti kepada orang tua (birrul walidain) memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bahkan ditempatkan langsung setelah perintah bertauhid kepada Allah SWT. Jika dihadapkan pada pilihan antara puasa sunnah dan berbakti kepada orang tua, berbakti kepada orang tua (melayani dan memenuhi kebutuhan mereka) lebih diutamakan

_Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Israa, 17: 23-24)

 

Tidak ada manusia yang berjasa setelah para Nabi SAW melebihi orang tua. Sebesar apapun yang dilakukan seorang anak kepada orang tuanya tidak sebanding yang telah diberikan orang tua kepada anaknya. Seorang pemuda dari Yaman datang berhaji sambil menggendong ibunya. Setelah tawaf dan sai, pemuda itu menjumpai sahabat Nabi SAW Abdullah bin Umar sambil bertanya: Apakah usaha saya beribadah haji dengan menggendong ibu saya itu sudah bisa membalas kebaikannya? Jawab Ibnu Umar; "Untuk kamu bayar satu nafas saja saat melahirkanmu tidak mampu kamu membayarnya." Ya Maa Syaa Allah.

 

Sebagai anak, siapapun kita, harus sadar prestasi yang telah ditorehkan oleh orang tua kepadanya dengan pengorbanan nyawa, perasaan, peluh, banting tulang dsb. Pantas kalau Alqur'an menyebut hak orang tua begitu besar setelah tauhid,

_Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri_ (QS. An-Nisa', 4: 36)

 

Kewajiban anak kepada orang tuanya suatu keniscayaan,

 

_Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” Mereka itulah orang-orang yang Kami terima amal baiknya yang telah mereka kerjakan dan (orang-orang) yang Kami maafkan kesalahan-kesalahannya, (mereka akan menjadi) penghuni-penghuni surga. Itu janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (QS. Al-Ahqaf, 45: 15-16)

 

Meskipun begitu besar jasa orang tua, bila mengajarkan anaknya menyekutukan Allah SWT tidak boleh diikuti tapi tetap harus bakti dalam urusan dunia,

 

_Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Lukman, 31: 14-15)

 

Karena begitu pentingnya bagi anak menyadari peran besar orang tua yang telah membesarkannya, sehingga para Nabi SAW mengajarkan kita berakhlaq mulia kepada orang tua. Beberapa tamtsil dalam al-qur’an yang ditujukan oleh Allah SWT kepada kita hambaNya, supaya dapat mengambil pelajaran dari kisah masa lalu, untuk memperbaiki di masa depannya, bawah ini tamtsil dalam al-Qur’an.

 

Lihatlah sikap Nabi Nuh alaihissalam,

_Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran.” (QS. Nuh, 28)

 

Nabi Ibrahim alaihissalam,

_Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).” (QS. Ibrahim, 14: 40-41)

 

Nabi Sulaiman alaihissalam,

_Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. An-Naml 19)

 

Nabi Yahya alaihissalam,

_dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa, dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka. (QS. Maryam, 19: 13-14).

 

Terlebih hak ibu yang melebihi hak ayah dalam 3 keadaan. Saat hamil, saat melahirkan, dan saat menyusui. Ketiga keadaan ibu, ayah tidak dapat menggantikannya. Karena itu Rasulullah saw ditanya:

 

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu.” “Lalu siapa lagi?” “Ibumu” “Siapa lagi?” “Ibumu” “Siapa lagi” “Ayahmu.” (HR. Muttafaq’alaih)

 

Malaikat Jibril sudah mengingatkan melalui Rasulullah saw setelah menyebut bahwa celaka orang yang masuk Ramadhan sampai selesai Ramadhan tapi tidak terampunkan dosa-dosanya. Kemudian Jibril melanjutkan:

Kemudian (Jibril) berkata, 'Celakalah seorang hamba yang mendapati orang tuanya atau salah satunya (dalam keadaan tua), tapi tidak dapat masuk ke dalam surga (karena tidak berbakti).' Lalu aku berkata, 'Aamiin.' (HR. Bukhari dalam _Al-Adabul Mufrad_. Shahih)

 

Semoga dengan Ramadhan ini kita kemarin bisa memuliakan kedua orang tua kita kalau masih hidup. Bila sudah meninggal, selain doa kita bisa bersedekah untuk mereka dan memuliakan kerabat dan kawan-kawannya yang masih hidup.

Ridha Allah pada Ridha Orang Tua: Ridha Allah SWT bergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka-Nya ada pada kemurkaan orang tua.

Keutamaan Bakti di Atas Ibadah Sunnah: Berbuat baik dan melayani orang tua lebih utama daripada ibadah sunnah seperti puasa sunnah atau salat sunnah.

Hukum Melawan/Mengabaikan: Melawan atau mengabaikan orang tua untuk ibadah sunnah adalah tindakan durhaka, yang dapat membuat puasa tersebut tidak bernilai di sisi Allah SWT.

Pengecualian (Kewajiban): Jika puasa tersebut adalah puasa wajib (Ramadhan), anak harus tetap berpuasa namun tetap melayani orang tua semampunya tanpa melanggar batasan puasa. Namun, jika orang tua membutuhkan bantuan mendesak yang membahayakan mereka jika tidak dibantu, maka membantu mereka bisa lebih utama.

Sebagai uraian terakhir pada tulisan, Jika orang tua membutuhkan kehadiran atau bantuan, dahulukanlah mereka daripada mengerjakan puasa sunnah. Bakti kepada orang tua adalah jalan utama menuju surga, dan ladang bagi kita untuk meraih surga nanti di hari kiamat.

Wallahu a'lam_.


PUASA DAN ORANG TUA  PUASA DAN ORANG TUA Reviewed by sangpencerah on April 10, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar: