Prolog:
Orang tua mampu merawat, membesarkan dan bahkan mensukseskan
mereka (para anak) tanpa pamrih dan tidak mudah mengeluh dalam situasi dan
kondisi apapun, dimanapun mereka berada (hidup) dan mereka rela berbuat apa
saja dari hal positif untuk anak-anaknya. Yang ironis justeru anak yang banyak
belum tentu mampu merawat dan memberikan perhatian penuh kepada orangtuanya,
yang hanya seorang saja, inilah fenomena di akhir zaman sampai sekarang bahkan
sampai hari kiamat, mengapa?
Menyoroti berbagai kasus di tanah air dan banyak negara tetangga, yang
sepertiga penduduknya orang tua. Bagaimana mereka diperlakukan? Tidak jarang
ujungnya di panti jompo. Beda dengan ummat Islam yang diajarkan oleh agamanya
untuk menghormati orang tua. Apalagi ketika mereka semakin tua semakin tidak
berdaya, lebih membutuhkan perhatian dari pada anaknya, seperti kata orang “
satu orangtua dapat membesarkan 10-12 anak, tapi 10 anak belum tentu bisa
merawat dan membahagiakan orantua” kalimat ini memiliki banyak hikmah dan makna
filosofis, sekalipun tidak selamanya benar.
Dalam ajaran Islam, berbakti kepada orang tua (birrul walidain)
memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bahkan ditempatkan langsung setelah
perintah bertauhid kepada Allah SWT. Jika dihadapkan pada pilihan antara puasa
sunnah dan berbakti kepada orang tua, berbakti kepada orang tua
(melayani dan memenuhi kebutuhan mereka) lebih diutamakan
_Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain
Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara
keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan
janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan
yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang
dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua
telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Israa, 17: 23-24)
Tidak ada manusia yang berjasa setelah para Nabi SAW melebihi
orang tua. Sebesar apapun yang dilakukan seorang anak kepada orang tuanya tidak
sebanding yang telah diberikan orang tua kepada anaknya. Seorang pemuda dari
Yaman datang berhaji sambil menggendong ibunya. Setelah tawaf dan sai, pemuda
itu menjumpai sahabat Nabi SAW Abdullah bin Umar sambil bertanya: Apakah usaha
saya beribadah haji dengan menggendong ibu saya itu sudah bisa membalas
kebaikannya? Jawab Ibnu Umar; "Untuk kamu bayar satu nafas saja saat
melahirkanmu tidak mampu kamu membayarnya." Ya Maa Syaa Allah.
Sebagai anak, siapapun kita, harus sadar prestasi yang telah
ditorehkan oleh orang tua kepadanya dengan pengorbanan nyawa, perasaan, peluh,
banting tulang dsb. Pantas kalau Alqur'an menyebut hak orang tua begitu besar
setelah tauhid,
_Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman
sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak
menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri_ (QS. An-Nisa', 4: 36)
Kewajiban anak kepada orang tuanya suatu keniscayaan,
_Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada
kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan
melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya
selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan
umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku
petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan
kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang
Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak
cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang
muslim.” Mereka itulah orang-orang yang Kami terima amal baiknya yang telah
mereka kerjakan dan (orang-orang) yang Kami maafkan kesalahan-kesalahannya,
(mereka akan menjadi) penghuni-penghuni surga. Itu janji yang benar yang telah
dijanjikan kepada mereka. (QS.
Al-Ahqaf, 45: 15-16)
Meskipun begitu besar jasa orang tua, bila mengajarkan anaknya
menyekutukan Allah SWT tidak boleh diikuti tapi tetap harus bakti dalam urusan
dunia,
_Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada
kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku
dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. Dan jika keduanya
memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai
ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya
di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian
hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang
telah kamu kerjakan. (QS.
Lukman, 31: 14-15)
Karena begitu pentingnya bagi anak menyadari peran besar orang tua
yang telah membesarkannya, sehingga para Nabi SAW mengajarkan kita berakhlaq
mulia kepada orang tua. Beberapa tamtsil dalam al-qur’an yang ditujukan oleh
Allah SWT kepada kita hambaNya, supaya dapat mengambil pelajaran dari kisah
masa lalu, untuk memperbaiki di masa depannya, bawah ini tamtsil dalam
al-Qur’an.
Lihatlah sikap Nabi Nuh alaihissalam,
_Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang
memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan
perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu
selain kehancuran.” (QS. Nuh, 28)
Nabi Ibrahim alaihissalam,
_Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap
melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami,
ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari
diadakan perhitungan (hari Kiamat).” (QS. Ibrahim, 14: 40-41)
Nabi Sulaiman alaihissalam,
_Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar)
perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham
untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan
kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai;
dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang
saleh.” (QS. An-Naml 19)
Nabi Yahya alaihissalam,
_dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami
dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa, dan sangat berbakti
kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang
yang durhaka. (QS.
Maryam, 19: 13-14).
Terlebih hak ibu yang melebihi hak ayah dalam 3 keadaan. Saat
hamil, saat melahirkan, dan saat menyusui. Ketiga keadaan ibu, ayah tidak dapat
menggantikannya. Karena itu Rasulullah saw ditanya:
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku
perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu.” “Lalu siapa lagi?” “Ibumu”
“Siapa lagi?” “Ibumu” “Siapa lagi” “Ayahmu.” (HR. Muttafaq’alaih)
Malaikat Jibril sudah mengingatkan melalui Rasulullah saw setelah
menyebut bahwa celaka orang yang masuk Ramadhan sampai selesai Ramadhan tapi
tidak terampunkan dosa-dosanya. Kemudian Jibril melanjutkan:
Kemudian (Jibril) berkata, 'Celakalah seorang hamba yang
mendapati orang tuanya atau salah satunya (dalam keadaan tua), tapi tidak dapat
masuk ke dalam surga (karena tidak berbakti).' Lalu aku berkata, 'Aamiin.' (HR.
Bukhari dalam _Al-Adabul Mufrad_. Shahih)
Semoga dengan Ramadhan ini kita kemarin bisa memuliakan kedua
orang tua kita kalau masih hidup. Bila sudah meninggal, selain doa kita bisa
bersedekah untuk mereka dan memuliakan kerabat dan kawan-kawannya yang masih
hidup.
Ridha Allah pada Ridha Orang Tua: Ridha Allah SWT bergantung pada ridha kedua orang tua, dan
murka-Nya ada pada kemurkaan orang tua.
Keutamaan Bakti di Atas Ibadah Sunnah: Berbuat baik dan melayani orang tua lebih utama daripada
ibadah sunnah seperti puasa sunnah atau salat sunnah.
Hukum Melawan/Mengabaikan: Melawan atau mengabaikan orang tua untuk ibadah sunnah
adalah tindakan durhaka, yang dapat membuat puasa tersebut tidak bernilai di
sisi Allah SWT.
Pengecualian (Kewajiban): Jika puasa tersebut adalah puasa wajib (Ramadhan),
anak harus tetap berpuasa namun tetap melayani orang tua semampunya tanpa
melanggar batasan puasa. Namun, jika orang tua membutuhkan bantuan mendesak
yang membahayakan mereka jika tidak dibantu, maka membantu mereka bisa lebih
utama.
Sebagai uraian terakhir pada tulisan, Jika orang tua membutuhkan
kehadiran atau bantuan, dahulukanlah mereka daripada mengerjakan puasa sunnah.
Bakti kepada orang tua adalah jalan utama menuju surga, dan ladang bagi kita
untuk meraih surga nanti di hari kiamat.
Wallahu a'lam_.
Reviewed by sangpencerah
on
April 10, 2026
Rating:





Tidak ada komentar: