“Peringatan Hari Sumpah Pemuda
(HSP) ke-98 Tahun 2026 yang ditetapkan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga
(Kemenpora) adalah "Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk
Indonesia".
Pemuda Indonesia memiliki jejak
sangat penting dalam sejarah perjuangan dan pembentukan Indonesia merdeka. Satu
di antara tonggak Indonesia yang monumental itu ialah Sumpah Pemuda 28 Oktober
1928.
Peristiwa Sumpah Pemuda tersebut
memberi pesan kuat ibarat lukisan di atas kanvas dengan goresan tinta emas pada
panggung sejarah Indonesia. Pertama, betapa para pemuda Indonesia saat itu yang
dipelopori oleh Wage Rudolf Supratman dengan lagu Indonesia Raya-nya, Soegondo,
Muhammad Yamin, serta putra dan putri Indonesia lainnya berjuang gigih untuk
mewujudkan adanya Kongres sejak tahun 1926 di kota Batavia atau Jakarta saat
itu. Kongres sebagai penghimpunan kekuatan kaum muda untuk kemerdekaan
Indonesia.
Kongres bagi para pemuda
Indonesia saat itu merupakan wujud kehendak bersama untuk tujuan merdeka
sekaligus membentuk sebuah bangsa dan negara yang berdaulat. Jiwa perjuangan
tersebut sejalan dengan pandangan Ernest Renan, sejarawan dan filsuf ternama
dari Perancis yang sering dikutip pendapatnya oleh Soekarno. Bahwa bangsa
terjadi karena adanya keinginan untuk hidup bersama dengan jiwa solidaritas
yang luhur. Spirit untuk bersama membangun bangsa itulah sebagai mutiara
berharga dari para pemuda Indonesia di era kebangkitan nasional awal abad
ke-20.
Kedua, Sumpah Pemuda 1928 secara
tegas membuktikan persatuan kaum muda sebagai kunci utama menuju Indonesia
merdeka di tengah keberagaman. Lahirlah tiga ikrar bersejarah yang sangat
substansial. Butir penting ikrarnya ialah: “Kami putra dan putri Indonesia,
mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia”. Kedua: “Kami putra dan
putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia”. Ketiga: “Kami
putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Satu
tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia itu merupakan warisan nilai
sangat berharga yang terus hidup dalam perjalanan Indonesia yang mengandung
jiwa yang hidup untuk kelangsungan Negara Republik Indonesia sepanjang masa.
Warisan Nilai
Kini 98 tahun berlalu dari peristiwa Sumpah Pemuda. Adakah para pemuda
Indonesia memiliki komitmen perjuangan luhur sekaligus jiwa bersatu dalam
membangun Indonesia menuju negara dan bangsa yang benar-benar merdeka, bersatu,
berdaulat, adil dan makmur sebagaimana cita-cita para pendiri Indonesia?
Di tubuh bangsa ini banyak generasi muda yang memiliki potensi dan prestasi
di berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam penguasaan saintek khususnya
teknologi digital. Masih banyak anak-anak bangsa yang berkarakter positif untuk
bekerja keras meraih kesuksesan dalam pendidikan dan dimensi kehidupan lainnya.
Dengan segala keterbatasan banyak anak-anak Indonesia yang kondisi ekonominya
tidak atau kurang berkemampuan namun menunjukkan prestasi dan semangat hidup
yang tinggi. Terdapat banyak anak muda Indonesia yang jujur, terpercaya,
cerdas, berilmu, ber-keahlian, dan berkarakter kuat sebagai modal ruhaniah yang
penting bagi masa depan bangsa.
Presiden Prabowo dalam pidato dan
arahannya di hadapan para Menteri Kabinet Merah Putih menyebutkan, berdasarkan
statistik, sekitar 1 persen dari total populasi suatu negara memiliki IQ di atas
120. Dengan populasi Indonesia mencapai 287 juta jiwa, diperkirakan ada lebih
dari 2 juta anak berpotensi tinggi yang dapat menjadi aset bangsa jika
ditemukan dan dibina secara tepat. Keyakinan Presiden tersebut menunjukkan
optimisme akan potensi generasi bangsa Indonesia yang penting untuk terus
digali dan dikembangkan melalui lembaga pendidikan dan pranata kebudayaan yang
strategis lainnya.
Namun bersamaan dengan itu penting pula menjadi perhatian akan sejumlah
masalah yang dihadapi generasi muda Indonesia. Selain masalah lapangan kerja
yang penting untuk menjamin
kesejahteraan mereka, kaum muda Indonesia juga memiliki problem sosial yang
tidak boleh diabaikan. Polarisasi sosial sebagaimana tampak di media sosial
akibat perbedaan orientasi politik, sosial, keagamaan, dan lain-lain tidak
kalah mengemuka untuk menjadi agenda bersama. Bagaimana merekat dan menyatukan
mereka dalam spirit Persatuan Indonesia
dan Bhineka Tunggal Ika di dunia nyata.
Problem kesehatan mental akibat berbagai tekanan hidup yang sarat beban di
kalangan kaum milenial dan generasi-z dapat menjadi ancaman sosial baru bagi
masa depan pemuda Indonesia. Krisis dan tekanan mental ini dapat berujung pada
penyakit alienasi, frustasi, depresi, dan segala aspek sosiapatik atau generasi
muda yang mengalami sakit secara individual dan sosial. Bila problem
psikososial ini berkelanjutan akan melumpuhkan saraf kehidupan generasi muda
sebagai pewaris masa depan Indonesia.
Masalah lain adalah kemiskinan literasi dan etika digital yang dialami
generasi belia Indonesia. Sebagaimana temuan Microsoft tahun 2022, bahwa tingkat digility orang Indonesia rendah
dalam kehidupan dunia digital dan media sosial. Problem literasi dan etika
digital tersebut jika dibiarkan akan mengarahkan pada krisis kehidupan secara
luas seperti dideskripsikan oleh Francis Fukuyama tentang fenomena “The Great
Disruption” yakni kerusakan dan perubahan dramatis dalam tatanan sosial dan
moralitas, serta terjadinya kemunduran nilai-nilai dan etika kehidupan.
Goncangan besar yang merusak struktur sosial dan kemanusiaan tersebut dapat
mengancam masa depan umat manusia, termasuk di dalamnya generasi muda.
Kaum muda juga makin menyebar peran dan
arena diasporanya dalam berbagai institusi publik, termasuk dalam
kepemimpinan di pemerintahan. Namun bersamaan dengan itu pragmatisme,
oportunisme, materialisme, dan hedonisme
mulai menggejala dalam kehidupan sebagian kaum muda Indonesia. Mentalitas
menerabas, hidup dalam gelimang materi dan kesenangan inderawi, serta menempuh
segala cara dalam mencapai tujuan dapat merusak jati diri dan keberadaan
generasi muda Indonesia yang semestinya menjadi pewaris masa depan Indonesia.
Karenanya, diharapkan seluruh pemuda Indonesia dalam berbagai struktur
demografi dan lingkup sosialnya yang heterogen dapat menyerap warisan nilai dan
spirit perjuangan para pemuda Indonesia
dalam Kongres tahun 1928 yang bersejarah itu. Generasi Muda Indonesia saat ini
hendaknya menyerap nilai kegigihan, karakter luhur, dan spirit bersatu pada
diri kaum muda yang melahirkan Sumpah Pemuda. Kaum muda Indonesia jangan
bersembunyi di balik jubah kesuksesan dan proteksi para orang tuanya, sebab hal
itu dapat melemahkan jiwa dan masa depannya yang sarat tantangan. Jadilah diri
sendiri yang sukses meraih masa depan dengan jiwa mandiri sembari tetap menjaga
sikap hormat kepada orangtua sebagai bukti keluhuran budi pekerti kaum muda Ibu
Pertiwi.
Aktualisasi Diri
Kaum muda Indonesia saat ini makin potensial dan luas spektrum
pergerakannya. Jika di masa lalu para pemuda-pemudi Indonesia mampu berjuang
untuk Indonesia merdeka dalam segala keterbatasan. Kini, seluruh kaum muda
Indonesia semestinya makin luas peranannya dalam membangun bangsa dan negara
menuju terwujudnya cita-cita Indonesia merdeka. Agendanya adalah bagaimana
mengaktualisasikan diri secara cerdas dan bijaksana dalam dinamika kehidupan
bersama di Bumi Indonesia.
Kaum muda berilmu jadilah suluh dan pencerah Indonesia dengan sikap
cendekia (ulul albab) untuk membangun peradaban Indonesia. Pada saat yang
sama tetap konsisten merawat jiwa kritis nan bijaksana sebagaimana karakter
luhur kebudayaan bangsa. Ilmu, kecerdasan, penguasaan teknologi, dan segala
kemampuan diri niscaya dijadikan sebagai modal strategis bagi kemajuan
Indonesia. Kecendekiawanan yang mumpuni tidak meniscayakan hidup di atas menara
gading yang tinggi, sementara kaki tak berpijak di bumi sendiri. Jadilah para
akademisi, ilmuwan, dan kaum muda berilmu sebagai aktor perubahan menuju
Indonesia berkemajuan. Jauhi sikap takabur seolah diri serbabisa dan merasa
paling benar sendirian. Jadilah para pemilik ilmu yang bermahligaikan hikmah
untuk membawa maslahat bagi kehidupan semesta.
Para pemuda aktivis perubahan jadilah pejuang-pejuang civil-society yang
ikut serta membangun Indonesia secara demokratis dan menjunjung tinggi hak
asasi manusia sebagaimana perintah konstitusi. Jadikan demokrasi sebagai
instrumen mewujudkan tujuan negara Indonesia dengan tetap bertumpu pada sila
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan. Bukan demokrasi dan paham hak asasi manusia yang
sebebas-bebasnya, yang tidak berpijak di bumi Indonesia. Kembangkan sikap moderat,
toleran, dan menjunjung tinggi kebersamaan karena Indonesia itu milik bersama.
Paham hak asasi manusia mesti terkoneksi
dan bertumpu pada nilai-nilai agama yang hidup di Indonesia, Pancasila sebagai
dasar negara, dan kebudayaan luhur bangsa.
Para politisi muda berkiprahlah dengan sepenuh jiwa raga untuk memajukan
dan menjayakan Indonesia. Kekuasaan, otoritas, akses, dan segala instrumen
politik mesti dijadikan alat utama mensejahterakan rakyat dan membawa Indonesia
ke tujuan semula. Jangan menjadi politisi dan pemimpin karbitan, sebab jika
berhasil pun hanya beroleh kuasa semu dan akan menjadi beban berat bagi
Indonesia. Berpolitiklah dengan wajar dan menempuh jalan akal sehat berbasis
nilai dan etika utama. Dunia politik tidak untuk meraih kemegahan harta, tahta,
dan pesona dunia yang menjadikan diri tersandera dalam keglamoran hidup sarat maya, apalagi membuat
rakyat nestapa. Jadilah teladan utama sebagaimana kehidupan para pejuang dan
pendiri Indonesia nan sederhana tapi berkhidmat dan mencintai negeri penuh
karisma tinggi.
Setelah 98 tahun Sumpah Pemuda, diharapkan pula para Srikandi muda
Indonesia semakin memperoleh kebijakan imperatif negara dan ruang aktualisasi
publik yang luas tanpa sekat diskriminasi. Para kaum mudi dan putri-putri
Indonesia itu berhak memperoleh akses luas dalam bidang politik, ekonomi,
budaya, dan berbagai ranah kehidupan lainnya secara demokratis untuk
bersama-sama membangun Indonesia yang berkemajuan. Para Srikandi Indonesia itu
sungguh besar potensi dan kompetensinya, sehingga memiliki hak dan segala akses
yang luas secara setara dalam berbangsa dan bernegara.
Kaum muda Indonesia juga diharapkan makin banyak menempuh jalan
berwirausaha, berniaga, dan menjadi aktor-aktor ekonomi yang sukses di negeri
sendiri. Ke depan makin banyak anak-anak Indonesia yang kaya hasil dari jerih
payah dengan keringat sendiri, bukan melalui jalan katrol oligarki yang
menjerat negeri. Para pengusaha anak-anak negeri itu sepenuh hati mencintai
Indonesia dengan jiwa-raga mulia serta mau hidup suka dan duka di bumi
tercinta. Bukan tipologi pengusaha yang menjadikan Indonesia sekadar objek
mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, setelah terkuras ditinggalkan bak kata
pepatah “Indonesia habis manis sepah dibuang”. Jadilah para pengusaha muda yang
cinta dan peduli bangsa, serta menjadi pembawa tatanan ekonomi berkeadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Para pimpinan dan aktivis organisasi dan gerakan kepemudaan yang
memperingati 98 Sumpah Pemuda, jangan merayakannya dalam baju kemegahan dan
glorifikasi yang semu sarat seremonial semata. Wujudkan dan aktualisasikan
nilai, spirit, dan cita-cita Sumpah Pemuda itu dalam kehidupan nyata
berindonesia, baik dalam kehidupan
individu lebih-lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadikan
Pancasila, agama, dan kebudayaan luhur Indonesia sebagai trilogi nilai utama dalam
menjalani kehidupan berbangsa, bernegara,
dan relasi kemanusiaan semesta menuju Indonesia Emas tahun 2045 dan kejayaan
masa depan Indonesia Raya.
Naskah dirilis dari SM
Reviewed by sangpencerah
on
November 06, 2026
Rating:





Tidak ada komentar: