Relevansi Dakwah Rasullullah SAW dengan Dakwah Muda Masa kini (2)

Relevansi Dakwah Rasullullah SAW dengan Dakwah Muda Masa kini (2)
oleh: Aditya Satrya Wibawa Utama
(Anggota PCIM Jerman)

 


Sirriyah Bukan Takut, Tetapi Tidak Mengumumkan

Salah satu catatan penting dalam kajian adalah pemaknaan istilah dakwah sirriyah. Jika diterjemahkan secara sederhana sebagai “dakwah sembunyi-sembunyi”, bisa muncul kesan bahwa Rasulullah SAW. berdakwah karena takut. Padahal yang dimaksud bukanlah bersembunyi dalam arti pengecut atau menghindari tanggung jawab.

Dakwah sirriyah adalah dakwah yang belum diumumkan secara publik. Ia bersifat personal, privat, dan fardiyah. Rasulullah SAW. mengajak orang per orang, terutama mereka yang memiliki kedekatan, kepercayaan, dan kesiapan menerima kebenaran. Pada saat yang sama, sebagian kabar tentang dakwah beliau telah sampai kepada Quraisy secara global.

Perbedaan ini penting. Ada masa ketika dakwah harus dilakukan melalui pembinaan kecil, percakapan personal, dan penguatan internal. Ada pula masa ketika dakwah harus dinyatakan secara terbuka. Keduanya bukan pertentangan. Keduanya adalah bagian dari tahapan dakwah yang diatur dengan hikmah.

 

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dapat mengambil pelajaran dari sini. Ada kerja-kerja dakwah yang tampak di ruang publik: ceramah, pendidikan, layanan sosial, media, dan advokasi. Namun ada pula kerja-kerja yang tidak selalu terlihat: pembinaan kader, pendampingan personal, penguatan keluarga, halaqah ilmu, pelatihan mubalig, dan konsolidasi jamaah. Tanpa kerja yang tidak selalu tampak itu, dakwah publik mudah kehilangan akar.

 

Dari Privat Menuju Terang-Terangan

Setelah kurang lebih tiga tahun, turun perintah Allah agar Rasulullah SAW. memberi peringatan kepada kerabat terdekat:

Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (QS. Asy-Syu’ara: 214)

Ayat ini menjadi penanda dimulainya fase dakwah yang lebih terbuka, dimulai dari keluarga besar Rasulullah SAW. Beliau mengumpulkan kerabat-kerabat beliau dari Bani Hasyim dan keluarga dekat. Dalam pertemuan pertama, sebelum Rasulullah SAW. menyampaikan maksudnya, Abu Lahab lebih dulu berbicara dan menekan beliau. Ia memperingatkan bahwa keluarga mereka tidak akan sanggup menghadapi seluruh bangsa Arab jika ajaran Nabi menimbulkan pertentangan besar.

Rasulullah SAW. diam. Beliau tidak membalas, tidak memaksakan diri untuk berbicara, dan tidak mengubah majelis itu menjadi pertengkaran. Pertemuan pertama bubar tanpa beliau menyampaikan dakwahnya.

Kemudian Rasulullah SAW. mengundang mereka kembali. Pada pertemuan kedua, beliau segera menyampaikan risalah. Beliau menegaskan bahwa beliau adalah utusan Allah SWT kepada kerabatnya secara khusus dan kepada manusia secara umum. Beliau mengingatkan tentang kematian, kebangkitan, hisab, surga, dan neraka.

Respons keluarga besar beliau terbelah. Abu Thalib menunjukkan simpati dan menyatakan akan melindungi Rasulullah SAW., meskipun ia tetap berada di atas agama Abdul Muthalib. Sebaliknya, Abu Lahab menolak keras. Dari sinilah ketegangan dalam keluarga besar Bani Hasyim mulai tampak jelas.

 

Peristiwa ini memperlihatkan betapa beratnya jalan dakwah Rasulullah SAW. Penentangan tidak hanya datang dari orang jauh, tetapi juga dari keluarga dekat. Dalam perjalanan berikutnya, tekanan terhadap Nabi bahkan datang dari paman beliau sendiri dan istrinya, Ummu Jamil. Gangguan fisik, penghinaan, pelemparan kotoran, dan permusuhan sosial menjadi bagian dari ujian yang harus beliau hadapi.

Kesabaran Rasulullah SAW. dalam pertemuan pertama memberi pelajaran besar. Tidak setiap provokasi harus langsung dijawab. Tidak setiap majelis harus dimenangkan dengan suara paling keras. Ada saatnya seorang dai menahan diri, menjaga tujuan, lalu mencari kesempatan yang lebih tepat untuk menyampaikan kebenaran.

 

Bekal Da’i dari Surah Asy-Syu’ara

Perintah dalam QS. Asy-Syu’ara: 214 tidak berdiri sendiri. Surah Asy-Syu’ara memuat kisah para nabi dan kaum mereka: Nabi Musa, Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Saleh, Nabi Ibrahim, Nabi Luth, dan penduduk Aikah. Di dalamnya tergambar pola dakwah, penolakan, ancaman, kesabaran, dan pertolongan Allah.

Karena itu, ketika Rasulullah SAW. menerima perintah untuk memperingatkan kerabat terdekat, Al-Qur’an juga telah memberikan bekal naratif tentang risiko dakwah. Para dai tidak berjalan di ruang kosong. Mereka meneruskan jalan para nabi yang menghadapi penolakan, cemoohan, tekanan keluarga, tekanan penguasa, dan ancaman masyarakat.

Membaca sirah bersama Al-Qur’an membuat kita tidak hanya mengetahui kronologi. Kita juga menangkap hikmah di balik peristiwa. Sirah menunjukkan bagaimana wahyu dijalankan dalam sejarah. Al-Qur’an memberi bingkai makna, arah, dan keteguhan.

 

Relevansi bagi Da'i Muda

Dakwah sirriyah memberi sejumlah pelajaran penting bagi Da'i Muda  hari ini.

Pertama, dakwah harus berangkat dari ilmu. Wahyu pertama adalah perintah membaca. Tugas Rasulullah SAW. adalah membacakan ayat, menyucikan jiwa, dan mengajarkan Kitab serta Hikmah. Karena itu, gerakan dakwah Islam perlu terus menguatkan tradisi ilmu: membaca, mengkaji, menulis, mengajar, dan membina umat dengan dasar yang kokoh.

Kedua, dakwah membutuhkan tahapan. Tidak semua hal harus dilakukan sekaligus. Ada masa menyiapkan kader, ada masa memperkuat jamaah, ada masa memperluas dakwah, dan ada masa membangun institusi. Gerakan yang ingin bertahan panjang harus memahami ritme ini.

Ketiga, dakwah dimulai dari lingkaran terdekat. Rumah, keluarga, sahabat, komunitas kecil, dan jamaah inti adalah medan dakwah pertama. Kekuatan umat tidak hanya dibentuk dari panggung besar, tetapi dari hubungan-hubungan dekat yang dibina dengan iman dan akhlak.

Keempat, integritas dai sangat menentukan. Abu Bakar ra. diterima karena dikenal sebagai pribadi yang jujur, baik, dermawan, dan terpercaya. Di tengah masyarakat modern yang kritis, mubaligh dan Da'i  juga membutuhkan kredibilitas moral, kecakapan ilmu, dan keteladanan sosial.

Kelima, pembinaan kader muda harus diperkuat. Arqam bin Abil Arqam menunjukkan bahwa anak muda dapat memikul peran strategis dalam dakwah. Rumahnya menjadi pusat pembinaan awal Islam. Semangat Baitul Arqam bagi anak muda  harus terus menjadi ruang kaderisasi yang serius.

Keenam, dakwah harus siap menghadapi penolakan. Rasulullah SAW. ditentang oleh sebagian keluarga dekatnya sendiri. Seorang dai tidak boleh rapuh ketika kebaikan disalahpahami. Namun keteguhan itu harus tetap disertai adab, kesabaran, dan kemampuan memilih waktu yang tepat.

Ketujuh, dakwah publik perlu ditopang kerja privat yang kuat. Ceramah, media, pengajian besar, dan program sosial adalah wajah yang terlihat. Di balik itu, harus ada pembinaan kecil, penguatan jamaah, pendampingan personal, pelatihan dai, dan pengorganisasian yang rapi.

 

Penutup

Dakwah sirriyah adalah fase awal yang menentukan dalam sejarah Islam. Dari rumah Rasulullah SAW., dari keimanan Khadijah ra., dari ketulusan Ali dan Zaid, dari gerak Abu Bakar ra, dan dari rumah Arqam ra, tumbuh generasi pertama yang kelak mengubah sejarah.

Fase ini mengajarkan bahwa dakwah tidak dibangun dengan ketergesaan. Ia dimulai dengan wahyu, ilmu, penyucian jiwa, integritas, kedekatan personal, dan kad
erisasi yang sabar. Ketika waktunya tiba, dakwah bergerak dari ruang privat menuju ruang publik dengan kesiapan yang lebih matang.

Bagi Da'i Saat ini  pelajaran ini sangat dekat. Menjadi pengikut Muhammad SAW. berarti meneladani cara beliau membangun umat: memulai dari ilmu, meneguhkan tauhid, membina manusia, menguatkan kader, membaca realitas, dan terus bergerak dengan hikmah. Dari fase yang tampak kecil dan senyap, Allah menumbuhkan perubahan besar bagi umat manusia.




Relevansi Dakwah Rasullullah SAW dengan Dakwah Muda Masa kini (2)  Relevansi Dakwah Rasullullah SAW dengan Dakwah Muda Masa kini (2) Reviewed by sangpencerah on September 25, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar: