Dalam dunia dakwah, Islam menganjurkan untuk di lakukan secara bertahap, tapi juga bisa dilakukan secara instan, tergantung pada kond
isi masyarakat muslim yang dihadapi nya.
– Fase Dakwah
Sirriyah
Perjalanan
dakwah Rasulullah SAW. memiliki tahapan-tahapan. Pada fase paling awal, dakwah
tidak langsung diumumkan kepada publik Makkah. Rasulullah SAW. memulai dari
lingkaran terdekat, orang-orang yang mengenal kejujuran beliau, dan
pribadi-pribadi yang siap menerima kebenaran. Fase ini biasa disebut dakwah
sirriyah.
Peta 23 Tahun
Dakwah Rasulullah
Di sinilah
letak salah satu pelajaran penting bagi gerakan Islam. Dakwah membutuhkan
keberanian, tetapi keberanian tidak identik dengan tergesa-gesa. Dakwah juga
membutuhkan strategi, pembacaan situasi, dan penyiapan kader agar risalah tetap
hidup dan bertumbuh.
Kitab Ar-Rahiq
Al-Makhtum karya Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri membagi perjalanan dakwah
Rasulullah SAW. selama kurang lebih 23 tahun ke dalam dua fase besar. Pertama,
fase Makkah yang berlangsung sekitar 13 tahun. Kedua, fase Madinah yang
berlangsung 10 tahun penuh.
Fase Makkah
sendiri terbagi lagi menjadi tiga periode. Periode pertama adalah dakwah
sirriyah selama kurang lebih tiga tahun. Periode kedua adalah dakwah terbuka di
tengah penduduk Makkah, dimulai sejak awal tahun keempat kenabian hingga
sekitar akhir tahun kesepuluh. Periode ketiga adalah dakwah yang mulai meluas
ke luar kota Makkah, berlangsung sejak akhir tahun kesepuluh kenabian hingga
hijrah ke Madinah.
Bagi
Muhammadiyah, yang namanya dinisbahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW.,
pembacaan seperti ini penting. Mengikuti Nabi bukan hanya mencintai beliau
secara emosional, tetapi juga belajar dari cara beliau membangun manusia,
mengelola dakwah, menghadapi realitas sosial, dan menegakkan risalah secara
bertahap.
Al-Qur’an
sebagai Fondasi Gerakan
Sebelum masuk
pada rincian dakwah sirriyah, kajian ini mengingatkan kembali empat ayat yang
menjelaskan tugas utama Rasulullah SAW.: QS. Al-Baqarah: 129, QS. Al-Baqarah:
151, QS. Ali Imran: 164, dan QS. Al-Jumu’ah: 2. Dari ayat-ayat itu tampak empat
pilar dakwah Nabi: membacakan ayat-ayat Allah SWT, menyucikan jiwa, mengajarkan
Al-Quran, dan mengajarkan Al-Hikmah.
Al-Kitab dalam
penjelasan para ulama merujuk kepada Al-Qur’an, sedangkan Al-Hikmah merujuk
kepada sunah Rasulullah SAW. Dari sini terlihat bahwa umat ini dibangun dengan
wahyu, ilmu, penyucian jiwa, dan keteladanan Nabi SAW. Dakwah bukan sekadar
ajakan moral, melainkan proses pendidikan yang menyentuh akidah, ibadah,
akhlaq, ilmu, dan orientasi hidup.
Wahyu pertama yang turun juga menegaskan hal tersebut:
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan; Dia menciptakan manusia dari
sesuatu yang melekat. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar
dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Lima ayat pertama ini menunjukkan bahwa kebangkitan umat dimulai dari ilmu.
Ilmu itu bersumber dari wahyu, diturunkan kepada Rasulullah SAW., lalu
diajarkan kepada manusia. Karena itu, dakwah Rasulullah SAW. sejak awal tidak
dapat dilepaskan dari qiraah, tilawah, dan tadabur: membaca Al-Qur’an dengan
benar, mengikuti petunjuknya, dan merenungkan maknanya sampai melahirkan amal.
Rasulullah SAW.
juga tidak bertindak berdasarkan hawa nafsu. Setiap langkah besar dalam dakwah
beliau berada dalam bimbingan wahyu.
Ia tidak
berbicara menurut hawa nafsu. Yang disampaikannya tidak lain adalah wahyu yang
diwahyukan. (QS.
An-Najm: 3-4)
Dengan
demikian, dakwah sirriyah merupakan bagian dari hikmah kenabian: memulai dari
fondasi iman, ilmu, dan pembinaan orang-orang pertama yang kelak memikul beban
dakwah.
Mengapa Makkah Menjadi Medan yang Berat
Makkah pada masa itu adalah pusat keagamaan bangsa Arab. Di sana berdiri
Ka’bah, rumah suci yang jejaknya kembali kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
alaihimas salam. Namun pada saat yang sama, Makkah juga telah dipenuhi berhala
yang disucikan oleh berbagai kabilah Arab.
Dalam lintasan sejarah, ajaran tauhid yang ditinggalkan Nabi Ibrahim dan
Nabi Ismail mengalami perubahan panjang. Pada masa tertentu, Amr bin Luhay dari
Khuza’ah dikenal sebagai tokoh yang membawa berhala dari Syam ke Makkah. Sejak
saat itu, penyembahan berhala semakin mengakar di Jazirah Arab.
Karena Makkah adalah pusat keagamaan dan pusat kepentingan sosial-politik
Quraisy, memperbaiki masyarakat dari inti kota itu bukan perkara ringan.
Perubahan dari luar akan sangat sulit. Perbaikan harus dimulai dari dalam, dari
pusat masyarakat, dari orang-orang yang hidup di tengah realitas itu sendiri.
Usaha seperti ini membutuhkan tekad yang tidak mudah diguncang. Dakwah
kepada tauhid berarti menyentuh keyakinan, tradisi leluhur, kedudukan sosial,
ekonomi haji, dan otoritas para pemuka Quraisy. Karena itu, memulai dakwah
secara privat kepada orang-orang terdekat adalah langkah yang sangat bijaksana.
Lingkaran Pertama yang Menerima Islam
Rasulullah SAW. memulai dakwah dari orang-orang terdekat. Orang pertama
yang menerima Islam adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid ra., istri
beliau yang paling mengenal kejujuran, ketulusan, dan kemuliaan akhlak
Rasulullah SAW.
Setelah itu, termasuk generasi paling awal yang menerima Islam adalah Zaid
bin Haritsah ra., yang berada dalam pengasuhan Rasulullah SAW.; Ali bin Abi
Thalib ra., sepupu beliau yang saat itu masih belia dan hidup dalam tanggungan
Nabi; serta Abu Bakar ash-Shiddiq ra., sahabat paling dekat Rasulullah SAW.
Keempat pribadi ini menunjukkan bahwa dakwah pertama kali tumbuh dari
rumah, keluarga, dan persahabatan yang paling terpercaya. Khadijah ra.
memberi dukungan batin dan keyakinan. Zaid ra. menerima Islam dari lingkungan
rumah Nabi. Ali ra. menjadi gambaran pentingnya pembinaan generasi muda. Abu
Bakar ra. menjadi contoh sahabat yang tidak hanya menerima kebenaran, tetapi
segera bergerak mengajak orang lain.
Peran Abu Bakar
sangat menonjol. Ia dikenal sebagai orang yang jujur, dermawan, berakhlaq baik,
memiliki hubungan sosial yang luas, dan dipercaya masyarakat. Dari dakwah Abu
Bakar, masuk Islam beberapa tokoh besar generasi awal, di antaranya Utsman bin
Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan
Thalhah bin Ubaidillah radhiallahu anhum.
Di sini tampak
kaidah penting: sebelum seseorang mengajak orang lain kepada kebaikan,
integritas dirinya memiliki pengaruh besar. Abu Bakar memiliki kredibilitas.
Orang percaya kepada dakwahnya karena mereka telah mengenal keluhuran
pribadinya.
Darul Arqam dan
Kaderisasi Awal Islam
Di antara nama
penting dalam fase dakwah sirriyah adalah Arqam bin Abil Arqam ra. Rumahnya
menjadi tempat berkumpul dan pembinaan kaum muslimin awal. Dari rumah inilah
dakwah memperoleh ruang yang relatif aman untuk belajar, menguatkan iman, dan
menyusun langkah.
Arqam berasal
dari Bani Makhzum, kabilah yang juga melahirkan Abu Jahal, salah satu tokoh
paling keras yang memusuhi Rasulullah SAW. Justru karena itu, rumah Arqam
memiliki posisi yang unik. Ia tidak langsung dicurigai sebagai pusat pertemuan
pengikut Nabi. Arqam juga masih sangat muda, tetapi rumahnya menjadi salah satu
titik penting dalam sejarah kaderisasi Islam.
Nama Arqam
kemudian hidup dalam tradisi pembinaan Muhammadiyah melalui istilah Baitul
Arqam. Ini bukan sekadar nama program. Ia mengingatkan bahwa gerakan Islam
membutuhkan tempat pembinaan, suasana belajar, kedisiplinan, persaudaraan, dan
kader-kader yang ditempa dengan ilmu serta iman.
Dakwah
sirriyah, karena itu, tidak boleh dipahami sebagai masa pasif. Justru pada masa
ini fondasi manusia dibangun. Orang-orang awal dibina dengan wahyu. Mereka
belajar tauhid, membersihkan keyakinan dari syirik, memperbaiki orientasi
hidup, dan mulai menjalankan ibadah sesuai tuntunan yang sampai kepada mereka.
Bersambung …
Reviewed by sangpencerah
on
September 18, 2026
Rating:





Tidak ada komentar: