LENTERA PENDIDIKAN; Memulai Babak Baru

  LENTERA PENDIDIKAN
Memulai Babak Baru
Oleh: Tim Redaksi MPID PDM Kota Malang


Lembaga pendidikan di Indonesia berperan sebagai ekosistem pendukung utama. Fokus utamanya mencakup pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang dikenal dengan istilah  (MPLS) yang ramah anak dan penerapan budaya sekolah aman yang bebas dari segala bentuk kekerasan dn bullying.

Penyelenggaraan MPLS Edukatif dan Inklusif: Sekolah wajib mematuhi panduan Permendikbudristek/Kemendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 yang melarang keras praktik perpeloncoan, kekerasan, hingga penggunaan atribut yang tidak relevan dan kurang mendidik.

Penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman: Satuan pendidikan mengimplementasikan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 untuk membangun lingkungan belajar bebas perundungan yang mendukung kesehatan mental  murid , mulai dari tingat endidikan PAUD-TK, SDN/SDS, SMPN/SMPS, SMAN/SMAS, SMK dan yang sederjat.

Fasilitasi Penyesuaian Kurikulum: Lembaga memastikan kelancaran administrasi kelas dan pembaruan Capaian Pembelajaran, seperti penyesuaian pada mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti melalui Keputusan Kepala BKPDM.

Transformasi Peran Pendidik (Guru sebagai Mentor): Guru beralih peran dari sekadar pemberi materi menjadi mentor yang memetakan potensi dan minat karier murid secara personal.

Tidak kalah pentingnya, dari adaptasi para murid di Lembaga Pendidikan, supaya merasa lebih nyaman belajarnya dan aman dalam prosesnya, mka diperlukan suatu terobosan dari sarana prasarana, yang menjadi salah satu motiasi murid bersemangat dalam menempuh belajarnya. Diantara wujud nyata dari kenyamanan dan keamanan satuan Pendidikan, maka dua ormas terbesar yang berposisi di Bumi Pertiwi ini, melangkah lebih maju dan berkembang untuk anak bangsa, misalnya;

Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah resmi menjalin kerja sama dengan Pearson Indonesia melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Hotel JW Marriott, Kuningan, Jakarta, Sabtu (4/7/2026). Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pengembangan kompetensi Bahasa Inggris bagi guru dan peserta didik di lingkungan madrasah dan sekolah Ma’arif se-Jawa Tengah.

Dalam kesempatan tersebut, Vice President Asia–English Language Learning sekaligus Executive Director Pearson Australia, David Lyons, menyampaikan dukungan penuh Pearson terhadap ikhtiar peningkatan kualitas pendidikan Bahasa Inggris yang tengah dikembangkan LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah.

“Kami sangat mendukung pengembangan kualitas pendidikan Bahasa Inggris yang dilaksanakan oleh LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kerja sama yang lebih erat dan berkelanjutan di masa mendatang,” ujar David Lyons.


Pelaksana Harian (Plh) Ketua LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah, Hidayatun, menjelaskan bahwa saat ini LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah membina lebih dari 4.000 madrasah dan sekolah dari berbagai jenjang pendidikan. Menurutnya, penguatan Bahasa Inggris menjadi salah satu langkah penting untuk mewujudkan lembaga pendidikan Ma’arif yang mampu bersaing di tingkat global.

Itulah salah satu wujud sarana yang dipersiapkan oleh Lembaga ma’arif yang notabenenya di bawah naungan nahdlatul Ulama’ yang memiliki Lembaga Pendidikan cukup banyak di Indonesia. Sedangkan jumlaah Lembaga Pendidikan yang telah ada yaitu; Nahdlatul Ulama (NU) mengelola puluhan ribu lembaga pendidikan di Indonesia, yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Maarif NU) dan pesantren melalui Rabithah Ma'ahidil Islamiyah (RMI). Saat ini NU memiliki sekitar 26.000 pesantren, 13.000 PAUD, 15.000 sekolah dan madrasah, serta 183 perguruan tinggi.


Dalam waktu yang bersamaan, Muhammadiyah mengembangkan sayap lembaganya untuk mencerdaskan anak bangsa dibumi pertiwi tercita ini, yaitu sebagai berikut:

Komitmen Muhammadiyah dalam membangun pendidikan kembali mendapat apresiasi dari pemerintah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menilai keberhasilan organisasi tersebut mendirikan gedung Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi bukti kuat bahwa masyarakat mampu berkontribusi besar terhadap kemajuan pendidikan nasional tanpa bergantung pada anggaran negara.

Pernyataan itu disampaikan Abdul Mu’ti saat meresmikan gedung baru MSUS di Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Minggu (5/7/2026). Ia mengungkapkan rasa apresiasinya setelah mengetahui pembangunan sekolah tersebut yang menelan biaya sekitar Rp35 miliar dilakukan sepenuhnya melalui kemandirian Muhammadiyah.

“Kami berterima kasih kepada Muhammadiyah, tadi Pak Ketua PWM menyampaikan senilai Rp35 miliar tanpa pengajuan revitalisasi serupiah pun. Kalau mengajukan saya menjawab tidak ada anggaran sebesar itu,” ujar Mu’ti.

Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat, organisasi sosial, dan lembaga pendidikan. Model kolaborasi seperti ini dinilai dapat mempercepat pemerataan akses pendidikan yang berkualitas.

Abdul Mu’ti mengatakan kehadiran MSUS juga selaras dengan arah pembangunan sumber daya manusia yang menjadi salah satu prioritas pemerintah.

Ia menilai konsep pendidikan yang diterapkan sekolah tersebut mampu menggabungkan kurikulum nasional dengan program-program internasional tanpa mengabaikan identitas budaya lokal. “Sekolah ini dikembangkan dengan pendekatan kurikulum nasional dan berbagai tambahan program internasional, tetapi tidak meninggalkan akar budaya masyarakat Yogyakarta. Ini bisa menjadi model penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang memenuhi standar nasional sekaligus tetap menjaga kekuatan budaya lokal,” katanya.

Meski memberikan apresiasi tinggi terhadap MSUS, Mu’ti mengingatkan bahwa kualitas sekolah di lingkungan Muhammadiyah belum seluruhnya merata.

Menurut dia, tantangan tersebut tidak hanya dihadapi Muhammadiyah, tetapi juga menjadi persoalan nasional yang masih harus diselesaikan pemerintah.

Ia menilai pemerataan mutu pendidikan memerlukan penguatan tata kelola dan manajemen agar sekolah-sekolah yang berada di berbagai daerah dapat berkembang dengan kualitas yang lebih seimbang.

MSUS sendiri lahir dari kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta, dan PDM Bantul.

Sinergi tersebut menjadi contoh bagaimana amal usaha Muhammadiyah dapat saling mendukung untuk memperkuat layanan pendidikan.

Di sisi lain, pemerintah juga terus menyiapkan langkah untuk mengurangi kesenjangan kualitas sekolah di berbagai wilayah. Abdul Mu’ti mengungkapkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah membentuk direktorat baru yang fokus pada peningkatan mutu pendidikan.

Selain itu, kementerian juga menugaskan staf khusus untuk menangani pengembangan pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), termasuk memprioritaskan revitalisasi sekolah yang kondisi sarana dan prasarananya masih jauh dari standar.

“Di kementerian kami bentuk direktorat baru kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan dan ada staf khusus yang kami tugaskan untuk menangani pendidikan di daerah 3T. Sekolah-sekolah yang fasilitasnya masih jauh dari ideal akan kami prioritaskan untuk revitalisasi,” tutur Mu’ti.

Apresiasi terhadap pembangunan MSUS memperlihatkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dinilai menjadi salah satu kunci mempercepat peningkatan mutu pendidikan nasional.

Di tengah keterbatasan fiskal, inisiatif mandiri dari organisasi pendidikan seperti Muhammadiyah dinilai dapat menjadi inspirasi bagi berbagai lembaga lain dalam menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan.

Muhammadiyah dengan Gerakan berkemajuan khususnya di bidang Pendidikan selalu melakukan hal-hal baru dalam dunia Pendidikan yang dikelolanya dengan jumlah yang tidak sedikit dan telah terbukti mengantarkan anak bangsa ini pada tarap kehidupan yang wajar dan manusiawi.

 

Sebagai salah satu pergerakan ormas berabad-abad di Indonesia maka kedua ormas ini sama-sama bergerak di bidang Pendidikan, selain Gerakan-gerakan lainnya yang juga menjalankan pembinaan dan pelayanan yang mencerahkan.

Lembaga pendidian yang dimiliki oleh Muhammadiyah yaitu; Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD/TK ABA): Terdapat lebih dari 23.000 lembaga yang umumnya dikelola oleh Aisyiyah.  Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen): Tercatat antara 3.334 hingga 5.346 sekolah. Angka 5.346 merupakan total sekolah dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA.   Pesantren: Terdapat 326 pondok pesantren yang tersebar di berbagai wilayah.  Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA): Menurut arsip data terakhir, terdapat 162 hingga 172 institusi yang terdiri dari universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, dan akademi.



LENTERA PENDIDIKAN; Memulai Babak Baru LENTERA PENDIDIKAN; Memulai Babak Baru Reviewed by sangpencerah on Juli 17, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar: