Harta untuk Akhirat,
Kebahagiaan di Dunia
Secara alamiah, manusia memiliki
kecenderungan psikologis yang kuat untuk mencintai harta benda dan pencapaian
material di dunia ini. Keterikatan emosional terhadap kekayaan sering kali
menjadi motivasi utama dalam bekerja dan mengumpulkan aset sepanjang hidup.
Namun, kebahagiaan yang bersumber dari penumpukan materi semata bersifat fana
dan sering kali berujung pada rasa hampa ketika dihadapkan pada realitas kematian.
Kebahagiaan manusia yang sesungguhnya di dunia adalah ketika ia berada bersama
harta tercintanya, terlebih apabila harta tersebut dapat dikonversi menjadi
amal yang mendampinginya hingga ke akhirat kelak
Harta yang dikumpulkan dengan
keringat dan air mata, apakah itu hanya akan jadi tumpukan emas yang akan lapuk
dimakan zaman? Atau, maukah menjadikannya sahabat setia yang mendampingimu
hingga gerbang akhirat, membuka pintu surga yang penuh kenikmatan abadi?
Kebahagiaan sejati manusia di dunia bukanlah pada tumpukan harta yang egois,
melainkan saat harta tercintamu—keluarga, anak, istri, dan amal
shaleh—menemanimu di dunia dan akhirat. Harta bukan musuh, tapi alat untuk
istiqamah, untuk tetap teguh di jalan Allah SWT. Sebuah ajakan istiqamah:
jadikan hartamu jembatan ke surga, agar bahagia di dunia dan selamat di
akhirat. Maka perlu penghayatan untuk harapan masa depan.
Kebahagiaan duniawi yang rapuh
sering kali menipu kita. Kita sibuk mengejar deretan nol di rekening, rumah
mewah, mobil mengkilap, tapi saat maut menjemput, harta itu seringkali terlambat
tak berguna jika tidak dirancang untuk pendamping setia saat tidak ada dunia.
Rasulullah SAW bersabda, "Apabila anak Adam meninggal dunia, maka
terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya" (HR. Muslim no. 1631).
Harta untuk akhirat berarti mengubahnya menjadi sedekah jariyah sumur, masjid,
sekolah, sarana prasarana kemaslahatan umat atau Pendidikan anak yang shalih yang
terus mengalir pahalanya meski kita telah tiada. Ini bukan ajakan idealis, tapi
panggilan emosional: ingatlah ibu yang menangis saat melahirkan kita, ayah yang
rela lapar demi sekolah kita. Jadikan harta dan keshalehan sebagai kita balasan
atas kasih mereka, agar mereka bangga di hari kiamat.
Sebuah renungan dari peringatan
suci. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Kahfi ayat 46:
الْمَالُ
وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ
خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
Harta dan anak-anak
adalah perhiasan kehidupan dunia, sedang amal-amal shaleh yang tetap (sedekah
jariyah) adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik
harapannya."
Ayat ini seperti tamparan lembut
bagi hati yang lalai. Harta adalah perhiasan dunia, indah tapi sementara. Tapi
amal shaleh—termasuk hartamu yang kau alokasikan untuk akhirat—adalah "al-baqiyatush shalihat", yang
kekal. Bayangkan, saat kita berdiri di padang mahsyar, harta dunia lenyap, tapi
sumur yang kita bangun melalui lembaga zakat masih mendampingi dan mengalirkan
pahala, anak yang kita didik dengan ilmu agama mendoakan. InsyaAllah air mata
akan mengalir rasa bahagia, bukan rasa penyesalan yang tiada berguna.
Sebuah kebajikan ketika menafkahakn
harga yang dicintai sebagaimana kisah sahabat Abu Thalhah al-Anshari mensedekahkan
harta berupa kebun kurma Bernama Bairuha’ yang terletak tidak jauh dari Masjid
Madinah, sebagai harta paling dicintai dan dibanggakannya. Tatkala turun surat Ali Imran ayat 92. Dimana
saat itu Abu Thalhah sedang pulang dari luar kota, ia mendengar orang-orang di
Madinah sedang membicarakan tentang turunya ayat 92 dari QS Ali Imran yang
berbunyi: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna),
sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang
kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”.
Maka tatkala ia mendengar ayat
tersebut segeralah pergi menuju ke Rasulullah SAW untuk menanyakan kebenaran
tentang turunya ayat tersebut, lau Nabi SAW pun menjawab: “benar”, lalu Abu
Thalhah pun berkata: “Aku ingin
mengamalkan apa-apa yang diperintahkan Allah, yakni menyedekahkan yang
kucintai, wahai Rasulullah. Semoga sedekahku ini mendapatkan kebaikan sekaligus
menjadi simpanan di sisi Allah,”
Abu Thalhah lalu menyedekahkan
kebun kurma Bairuha’ kesayangannya tersebut. Kebun itu bukan hanya luas, tapi
juga area perkebunan itu ditumbuhi banyak pohon kurma yang subur dan berbuah
manis. Bahkan beberapa kali, Nabi SAW mencicipi hasil kebun milik sahabatnya
itu
Bahkan dari Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ
طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ فَإِنَّ اللهَ يَقْبَلُهَا
بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ
فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ.
“Barangsiapa yang bersedekah
dengan sesuatu yang senilai dengan sebutir kurma dari usaha yang halal,
sedangkan Allah tidaklah menerima kecuali yang thayyib (yang baik), maka Allah
akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya kemudian mengembangkannya
untuk pemiliknya seperti seorang di antara kalian membesarkan kuda kecilnya
hingga sedekah tersebut menjadi besar seperti gunung.” (HR. Bukhari, no. 1410
dan Muslim, no. 1014)
Investasi abadi untuk akhirat begitu
sangat menguntungkan dan berlipat, bahkan dalam hal benda yang kadang bernilai
sangat kecil bagi kita. Namun keistiqamaan beramal shaleh meskipun kecil itulah
yang dicintai oleh Allah SWT. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam
bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ
قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh
Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun
ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. HR
Bukhari 6464 dan Muslim 2818
Reviewed by sangpencerah
on
Juli 02, 2026
Rating:


.png)


Tidak ada komentar: