Kebuntuan Humanisme Modern

 Kebuntuan Humanisme Modern
Oleh: Agus Willis
(Pengamat Sosial Keagamaan)

 


Firman Allah Swt. Dalam QS An-Najm 32

فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ


"...Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa."

Ayat ini menegaskan beberapa prinsip penting:

  1. Larangan Merasa Suci/Merasa Benar: Allah SWT melarang manusia untuk menyombongkan diri, merasa paling suci, atau menganggap amal ibadah kita sudah pasti diterima.
  2. Hanya Allah SWT yang Tahu: Manusia tidak berhak menilai kesucian atau ketakwaan seseorang karena hanya Allah SWT yang mengetahui hakikat hati dan kadar ketaqwaan hamba-Nya.

Memperhatikan ayat di atas mengajarkan kepada kita bagaimana menjalankan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa memamerkan segala aktifitas yang telah dan sedang kita lakukan.

Berangkat dari sebuah kisah Desa Batur: Jalan Keluar dari Kebuntuan Humanisme Modern

Di sebuah lereng curam, di mana kabut Dieng turun seperti kain mori yang memeluk bumi, sebuah desa bernama Batur di Banjarnegara sedang menggerakkan dunia. Mereka tidak sedang berpidato tentang teori-teori sosial yang rumit, melainkan sedang mempraktikkan sebuah simfoni kemanusiaan yang mengetuk kesadaran kita yang paling dalam. Ketika ribuan paket daging qurban bergerak melintasi sekat-sekat geografis dan administratif untuk mengenyangkan perut sesama yang tak mereka kenal namanya, air mata yang menetes dari balik layar ponsel kita sesungguhnya adalah sebuah alarm psikologis. Ia adalah rasa takjub sekaligus rasa malu yang akut atas egoisme kita sendiri.

 

Desa Batur bukan sekadar titik di peta pegunungan Jawa Tengah. Batur adalah sebuah paradigma, sebuah kompas peradaban yang hidup di tengah dunia yang sedang limbung. Di era ketika ruang digital kita dipenuhi oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—sebuah dunia yang dingin di mana chip komputer mampu menghitung segalanya secara efisien namun kehilangan kemampuan untuk peduli—masyarakat Batur justru mendemonstrasikan bekerjanya sejenis perangkat lunak ilahi (divine software): sinergi sempurna antara akal dan wahyu.

 

Fenomena ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi formalisme beragama kita hari ini. Kita tidak perlu membaca kitab bertumpuk-tumpuk kalau ujungnya hanya membuat kita merasa paling suci, merasa paling benar, atau merasa menguasai teks suci karena aktif menghafal hadis, tetapi di saat yang sama mengabaikan jeritan di ruang sosial. Agama yang terjebak pada sekadar teks dan ritual kosmetik akan kehilangan ruhnya. Batur mengajarkan bahwa keberagamaan yang sejati tidak diuji di atas mimbar yang sunyi, melainkan di atas tanah sosial yang riuh, di mana ego harus ditekuk demi tegaknya martabat sesama.

 

Untuk memahami mengapa fenomena Batur begitu menggetarkan, kita harus berani menengok luka batin sejarah peradaban modern. Modernitas Barat sejak awal kelahirannya telah kehilangan jangkar moralitasnya. Lahir dari trauma Abad Pertengahan, di mana tirani institusi agama mengasingkan bahkan membunuh intelektualisme, manusia modern bangkit dengan dendam sejarah. Mereka memanjakan rasio, memuja pikiran bebas, dan merasa jijik pada moralitas yang pernah menyakiti mereka. Agama diusir ke ruang privat yang sunyi.

 

Namun, sains dan teknologi yang dikembangkan secara luar biasa tanpa kompas spiritual itu akhirnya berujung pada petaka. Industrialisasi kematian mewujud dalam Perang Dunia pertama dan kedua. Puncaknya, ketika manusia kehilangan arah dan didera frustrasi akut, bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Itulah monumen dehumanisasi yang paling sempurna di etalase sains modern: kecerdasan intelegensi berada di titik tertinggi, sementara kecerdasan ruhani berada di titik nol. Manusia tidak tahu cara menghentikan monster yang mereka ciptakan sendiri.

 

Kebuntuan ini sempat disadari oleh para pemikir dunia. Para filsuf Prancis mencoba merumuskan eksistensialisme yang akhirnya terperosok dalam labirin nihilisme—sebuah kesimpulan bahwa hidup ini absurd dan tak bermakna. Sementara di Inggris, para pemikir mencoba membangun moralitas sekuler non-agama berbasis kesepakatan rasional.

 

Hasilnya? Perang, genosida, dan konflik geopolitik terus terjadi hingga hari ini. Humanisme sekuler terbukti rapuh karena sifatnya yang transaksional. Ia menjelma menjadi "humanisme sesaat" yang munafik dan selektif; berteriak tentang hak asasi manusia, namun mendadak buta dan tuli ketika korban kemanusiaan berbeda warna kulit, berbeda haluan politik, atau berbeda sekat primordial.

 

Di tengah kegelapan etis itulah Desa Batur hadir sebagai oase. Batur menawarkan Humanisme Teosentris, sebuah penghargaan terhadap manusia yang tumbuh dari lubuk spiritualitas yang paling dalam, yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat primordial. Apa yang dipraktikkan secara organik oleh warga Batur sesungguhnya merupakan gaung hidup dari warisan intelektual para filsuf Islam klasik, sebuah jembatan emas yang menjembatani jurang pemisah antara langit wahyu dan bumi kemanusiaan.

 

Ketika warga Batur mengerahkan akal kolektif mereka untuk mengelola manajemen tabungan kurban demi kemaslahatan sosial, kita sedang melihat bekerjanya tesis Ibnu Rusyd (Averroes).

 

Filsuf besar dari Cordoba ini menegaskan bahwa syariat dan akal tidak pernah bertentangan; seluruh hukum Tuhan diturunkan bukan untuk kepentingan-Nya, melainkan demi menjaga esensi kemanusiaan itu sendiri. Keberadaan ratusan hewan kurban di Batur adalah wujud nyata dari pemeliharaan jiwa dan harta masyarakat secara universal.

 

Lebih dari itu, keteraturan sosial yang masif di lereng Dieng ini merefleksikan konsep Al-Madinah al-Fadhilah (Kota Utama) yang digagas oleh Al-Farabi. Bagi Al-Farabi, manusia hanya bisa mencapai kesempurnaan sejati jika mereka saling bekerja sama (ta’awun) untuk meraih kebahagiaan kolektif, bukan kebahagiaan individualis yang egois. Di Batur, kebahagiaan itu tidak ditimbun, melainkan dialirkan secara terstruktur.

 

Aliran daging kurban yang melintasi batas kabupaten hingga ke Wonosobo, Cilacap, dan Kebumen juga membuktikan bekerjanya filsafat Ikhwanul Safa. Kelompok pemikir abad ke-10 ini memandang manusia terikat dalam satu Jiwa Universal. Menyakiti manusia lain adalah menyakiti diri sendiri, dan melayani manusia lain adalah bentuk ibadah tertinggi. Praktik kurban di Batur bergerak melampaui batas primordial keagamaan sekuler karena digerakkan oleh Ibnu Sina (Avicenna) menyebutnya sebagai akal praktis yang dituntun oleh energi cinta ilahi (al-‘isyq). Cinta kepada Khalik secara otomatis menjelma menjadi pengorbanan tanpa pamrih bagi sang makhluk.

 

Secara Ontologis, Batur mengajarkan bahwa Tuhan adalah episentrum dari seluruh eksistensi manusia. Ketika Tuhan diletakkan di pusat kesadaran, klaim-klaim egoistik manusia modern seperti "merasa paling benar sendiri" dan "paling menang sendiri" runtuh seketika. Di hadapan kebesaran-Nya, manusia mengecil dan merunduk dalam kerendahan hati. Dari titik tunduk kepada Khalik inilah lahir penghormatan yang tulus kepada sesama makhluk.

 

Secara Epistemologis, kesadaran teosentris ini digerakkan oleh konsekuensi teologis yang absolut yang dibawa oleh Wahyu: bahwa setiap zarrah kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, dan setiap kejahatan serta keserakahan adalah simbol kemiskinan hati yang akan berujung pada keburukan di hadapan Tuhan. Jangkar metafisik inilah yang tidak dimiliki oleh moralitas ateistik yang rapuh. "Chip" akal kemudian bekerja melayani wahyu tersebut; menerjemahkannya menjadi sistem manajemen tabungan warga yang presisi selama setahun penuh, pengorganisasian logistik yang rapi, hingga distribusi yang adil.

 

Seluruh bangunan filosofis itu akhirnya bermuara pada Praksis Amal Saleh. Melalui ritual Idul Adha, masyarakat Batur menyembelih ego individual mereka. Berkorban tidak lagi dipandang sebagai kehilangan atau pengurangan harta berdasarkan matematika manusia yang serakah, melainkan sebagai sebuah puncak keindahan kemanusiaan. Mereka membuktikan bahwa jalan terdekat untuk menemui Tuhan bukanlah menjauhi dunia, melainkan dengan cara terjun langsung membawa maslahat dan menegakkan kesetiakawanan total bagi sesama ma
nusia.

 

Jika kitab suci diturunkan karena Allah SWT memelihara kemanusiaan manusia, maka Desa Batur telah berhasil menerjemahkan teks suci tersebut menjadi realitas sosial yang bergerak. Dari lereng Dieng, kita diingatkan sebuah kebenaran lama yang sering kita lupakan: bahwa berkorban demi manusia lain itu indah, dan memelihara keserakahan adalah bentuk kemiskinan hati yang paling memalukan.

 Pertanyaannya kini kembali kepada kita: sampai kapan kita hanya akan menjadi penonton yang menangis haru di depan layar ponsel, sementara ego dan keserakahan di dalam dada kita sendiri masih gagal kita sembelih?



Kebuntuan Humanisme Modern Kebuntuan Humanisme Modern Reviewed by sangpencerah on Juni 26, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar: