Firman
Allah Swt. Dalam QS An-Najm 32
فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ
بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ
"...Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia
paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa."
Ayat ini menegaskan beberapa prinsip penting:
- Larangan Merasa
Suci/Merasa Benar: Allah SWT melarang manusia untuk menyombongkan diri,
merasa paling suci, atau menganggap amal ibadah kita sudah pasti diterima.
- Hanya
Allah SWT yang Tahu: Manusia tidak berhak menilai kesucian atau ketakwaan
seseorang karena hanya Allah SWT yang mengetahui hakikat hati dan kadar
ketaqwaan hamba-Nya.
Memperhatikan ayat di atas mengajarkan kepada kita bagaimana
menjalankan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa memamerkan segala
aktifitas yang telah dan sedang kita lakukan.
Berangkat dari sebuah kisah Desa Batur: Jalan Keluar dari
Kebuntuan Humanisme Modern
Di sebuah lereng curam, di mana kabut Dieng turun
seperti kain mori yang memeluk bumi, sebuah desa bernama Batur di Banjarnegara
sedang menggerakkan dunia. Mereka tidak sedang berpidato tentang teori-teori
sosial yang rumit, melainkan sedang mempraktikkan sebuah simfoni kemanusiaan
yang mengetuk kesadaran kita yang paling dalam. Ketika ribuan paket daging
qurban bergerak melintasi sekat-sekat geografis dan administratif untuk
mengenyangkan perut sesama yang tak mereka kenal namanya, air mata yang menetes
dari balik layar ponsel kita sesungguhnya adalah sebuah alarm psikologis. Ia
adalah rasa takjub sekaligus rasa malu yang akut atas egoisme kita sendiri.
Desa Batur bukan sekadar titik di peta pegunungan Jawa
Tengah. Batur adalah sebuah paradigma, sebuah kompas peradaban yang hidup di
tengah dunia yang sedang limbung. Di era ketika ruang digital kita dipenuhi
oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—sebuah dunia yang dingin di
mana chip komputer mampu menghitung segalanya secara efisien namun kehilangan
kemampuan untuk peduli—masyarakat Batur justru mendemonstrasikan bekerjanya
sejenis perangkat lunak ilahi (divine software): sinergi sempurna antara akal
dan wahyu.
Fenomena ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi
formalisme beragama kita hari ini. Kita tidak perlu membaca kitab
bertumpuk-tumpuk kalau ujungnya hanya membuat kita merasa paling suci, merasa
paling benar, atau merasa menguasai teks suci karena aktif menghafal hadis,
tetapi di saat yang sama mengabaikan jeritan di ruang sosial. Agama yang
terjebak pada sekadar teks dan ritual kosmetik akan kehilangan ruhnya. Batur
mengajarkan bahwa keberagamaan yang sejati tidak diuji di atas mimbar yang
sunyi, melainkan di atas tanah sosial yang riuh, di mana ego harus ditekuk demi
tegaknya martabat sesama.
Untuk memahami mengapa fenomena Batur begitu
menggetarkan, kita harus berani menengok luka batin sejarah peradaban modern.
Modernitas Barat sejak awal kelahirannya telah kehilangan jangkar moralitasnya.
Lahir dari trauma Abad Pertengahan, di mana tirani institusi agama mengasingkan
bahkan membunuh intelektualisme, manusia modern bangkit dengan dendam sejarah.
Mereka memanjakan rasio, memuja pikiran bebas, dan merasa jijik pada moralitas
yang pernah menyakiti mereka. Agama diusir ke ruang privat yang sunyi.
Namun, sains dan teknologi yang dikembangkan secara
luar biasa tanpa kompas spiritual itu akhirnya berujung pada petaka.
Industrialisasi kematian mewujud dalam Perang Dunia pertama dan kedua.
Puncaknya, ketika manusia kehilangan arah dan didera frustrasi akut, bom atom
dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Itulah monumen dehumanisasi yang paling
sempurna di etalase sains modern: kecerdasan intelegensi berada di titik
tertinggi, sementara kecerdasan ruhani berada di titik nol. Manusia tidak tahu
cara menghentikan monster yang mereka ciptakan sendiri.
Kebuntuan ini sempat disadari oleh para pemikir dunia.
Para filsuf Prancis mencoba merumuskan eksistensialisme yang akhirnya
terperosok dalam labirin nihilisme—sebuah kesimpulan bahwa hidup ini absurd dan
tak bermakna. Sementara di Inggris, para pemikir mencoba membangun moralitas
sekuler non-agama berbasis kesepakatan rasional.
Hasilnya? Perang, genosida, dan konflik geopolitik
terus terjadi hingga hari ini. Humanisme sekuler terbukti rapuh karena sifatnya
yang transaksional. Ia menjelma menjadi "humanisme sesaat" yang
munafik dan selektif; berteriak tentang hak asasi manusia, namun mendadak buta
dan tuli ketika korban kemanusiaan berbeda warna kulit, berbeda haluan politik,
atau berbeda sekat primordial.
Di tengah kegelapan etis itulah Desa Batur hadir
sebagai oase. Batur menawarkan Humanisme Teosentris, sebuah penghargaan
terhadap manusia yang tumbuh dari lubuk spiritualitas yang paling dalam, yang
tidak dibatasi oleh sekat-sekat primordial. Apa yang dipraktikkan secara
organik oleh warga Batur sesungguhnya merupakan gaung hidup dari warisan
intelektual para filsuf Islam klasik, sebuah jembatan emas yang menjembatani
jurang pemisah antara langit wahyu dan bumi kemanusiaan.
Ketika warga Batur mengerahkan akal kolektif mereka
untuk mengelola manajemen tabungan kurban demi kemaslahatan sosial, kita sedang
melihat bekerjanya tesis Ibnu Rusyd (Averroes).
Filsuf besar dari Cordoba ini menegaskan bahwa syariat
dan akal tidak pernah bertentangan; seluruh hukum Tuhan diturunkan bukan untuk
kepentingan-Nya, melainkan demi menjaga esensi kemanusiaan itu sendiri.
Keberadaan ratusan hewan kurban di Batur adalah wujud nyata dari pemeliharaan
jiwa dan harta masyarakat secara universal.
Lebih dari itu, keteraturan sosial yang masif di
lereng Dieng ini merefleksikan konsep Al-Madinah al-Fadhilah (Kota Utama) yang
digagas oleh Al-Farabi. Bagi Al-Farabi, manusia hanya bisa mencapai
kesempurnaan sejati jika mereka saling bekerja sama (ta’awun) untuk meraih
kebahagiaan kolektif, bukan kebahagiaan individualis yang egois. Di Batur,
kebahagiaan itu tidak ditimbun, melainkan dialirkan secara terstruktur.
Aliran daging kurban yang melintasi batas kabupaten
hingga ke Wonosobo, Cilacap, dan Kebumen juga membuktikan bekerjanya filsafat
Ikhwanul Safa. Kelompok pemikir abad ke-10 ini memandang manusia terikat dalam
satu Jiwa Universal. Menyakiti manusia lain adalah menyakiti diri sendiri, dan
melayani manusia lain adalah bentuk ibadah tertinggi. Praktik kurban di Batur
bergerak melampaui batas primordial keagamaan sekuler karena digerakkan oleh
Ibnu Sina (Avicenna) menyebutnya sebagai akal praktis yang dituntun oleh energi
cinta ilahi (al-‘isyq). Cinta kepada Khalik secara otomatis menjelma menjadi
pengorbanan tanpa pamrih bagi sang makhluk.
Secara Ontologis, Batur mengajarkan bahwa Tuhan adalah
episentrum dari seluruh eksistensi manusia. Ketika Tuhan diletakkan di pusat
kesadaran, klaim-klaim egoistik manusia modern seperti "merasa paling
benar sendiri" dan "paling menang sendiri" runtuh seketika. Di
hadapan kebesaran-Nya, manusia mengecil dan merunduk dalam kerendahan hati.
Dari titik tunduk kepada Khalik inilah lahir penghormatan yang tulus kepada
sesama makhluk.
Secara Epistemologis, kesadaran teosentris ini
digerakkan oleh konsekuensi teologis yang absolut yang dibawa oleh Wahyu: bahwa
setiap zarrah kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, dan setiap kejahatan serta
keserakahan adalah simbol kemiskinan hati yang akan berujung pada keburukan di
hadapan Tuhan. Jangkar metafisik inilah yang tidak dimiliki oleh moralitas
ateistik yang rapuh. "Chip" akal kemudian bekerja melayani wahyu
tersebut; menerjemahkannya menjadi sistem manajemen tabungan warga yang presisi
selama setahun penuh, pengorganisasian logistik yang rapi, hingga distribusi
yang adil.
Seluruh bangunan filosofis itu akhirnya bermuara pada
Praksis Amal Saleh. Melalui ritual Idul Adha, masyarakat Batur menyembelih ego
individual mereka. Berkorban tidak lagi dipandang sebagai kehilangan atau
pengurangan harta berdasarkan matematika manusia yang serakah, melainkan
sebagai sebuah puncak keindahan kemanusiaan. Mereka membuktikan bahwa jalan
terdekat untuk menemui Tuhan bukanlah menjauhi dunia, melainkan dengan cara
terjun langsung membawa maslahat dan menegakkan kesetiakawanan total bagi
sesama ma
nusia.
Jika kitab suci diturunkan karena Allah SWT memelihara
kemanusiaan manusia, maka Desa Batur telah berhasil menerjemahkan teks suci
tersebut menjadi realitas sosial yang bergerak. Dari lereng Dieng, kita
diingatkan sebuah kebenaran lama yang sering kita lupakan: bahwa berkorban demi
manusia lain itu indah, dan memelihara keserakahan adalah bentuk kemiskinan
hati yang paling memalukan.
Pertanyaannya kini kembali kepada kita: sampai kapan kita hanya akan menjadi penonton yang menangis haru di depan layar ponsel, sementara ego dan keserakahan di dalam dada kita sendiri masih gagal kita sembelih?
Reviewed by sangpencerah
on
Juni 26, 2026
Rating:





Tidak ada komentar: