Puncak telah terlampaui. Arafah telah meluruhkan keangkuhan dalam wukuf
yang memfanakan, Nahr telah menghunuskan pisau ketundukan ke urat nadi
kecintaan yang paling halus. Kini, seorang muslim memasuki hamparan tiga hari
yang dinamakan Tasyriq—hari kesebelas, kedua belas, dan ketiga belas
Dzulhijjah. Secara bahasa, tasyriq berarti menjemur daging di bawah terik
matahari, mengeringkannya agar tak membusuk, mengawetkannya agar menjadi bekal
perjalanan panjang. Inilah hari-hari ketika daging-daging kurban yang telah
disembelih tidak segera habis dimakan, melainkan diiris-iris, ditebarkan di
atas hamparan tanah, dijemur di bawah sinar, berubah dari sesuatu yang mudah
rusak menjadi sesuatu yang tahan lama. Bagi para pencari makna, Hari Tasyriq
bukan sekadar lanjutan dari ritual haji dan Idul Adha; ia adalah madrasah ruhani
yang paling halus, tempat cahaya penyembelihan diubah menjadi kekuatan yang
menyebar, dan tempat dzikir menjadi napas kehidupan yang lestari.
Hakikat Hari Tasyriq terletak
pada gerakan mengganda dari dua kalimat: menyebarkan dan mengingat. Setelah
puncak pengorbanan, seorang muslim tidak tenggelam dalam euforia spiritual yang
tertutup, melainkan diperintahkan untuk keluar, membagikan daging, menikmati
makanan dan minuman, namun dalam seluruh sela-sela itu lidahnya basah oleh
dzikir. Allah SWT berfirman:
وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْدُودَٰت
“Dan berdzikirlah (dengan
menyebut nama) Allah dalam beberapa hari yang terbilang (hari-hari Tasyriq).” (QS. Al-Baqarah [2]: 203)
Ayat ini menegaskan bahwa amalan
utama yang menyatukan seluruh gerak dan diam pada hari-hari itu adalah
dzikrullah. Hari-hari itu “ma‘dūdāt”, terbilang, sedikit, terbatas pada tiga
hari, seolah mengisyaratkan bahwa kesempatan menanam makrifat dalam keseharian
hanya terbuka dalam waktu yang singkat dan harus segera dimanfaatkan. Rasulullah
SAW kemudian mengukuhkan hakikat ini dengan sabda yang sangat dalam:
أَيَّامُ ٱلتَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍۢ وَشُرْبٍۢ وَذِكْرِ ٱللَّهِ
“Hari-hari Tasyriq adalah
hari-hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)
Hadis ini adalah kunci filsafat
Tasyriq. Syariat secara tegas melarang berpuasa pada hari-hari ini, sebuah
isyarat hukum (irsyād) bahwa setelah pendakian ruhani yang memuncak di Arafah
dan puncak penyembelihan di Nahr, seorang hamba diundang untuk duduk di meja
jamuan Ilahi dan menikmati karunia-Nya dengan gembira, namun dengan syarat
bahwa kenikmatan jasmani itu dibingkai oleh dzikir yang tak putus. Makan dan
minum bukan lagi sekadar aktivitas duniawi; ia berubah menjadi ibadah karena
diliputi oleh kesadaran akan Pemberi nikmat. Di sinilah harmoni antara tasawuf
dan filsafat hukum Islam tampak paling indah: hukum melarang puasa bukan untuk
mendorong kerakusan, melainkan untuk mengajarkan bahwa puncak spiritualitas
tidak mengharuskan kita lari dari dunia, melainkan mengintegrasikan kenikmatan
duniawi ke dalam kesadaran ilahiah. Menikmati makanan halal sambil terus
berdzikir adalah bentuk baqā’ setelah fanā’, kembali ke dunia setelah lebur
dalam samudra keesaan, namun kini dengan membawa nama Allah SWT di setiap
suapan dan tegukan.
Hari Tasyriq dinamai demikian
karena secara lahiriah, pada masa itu orang-orang menjemur daging kurban di
bawah matahari agar tidak membusuk, agar dapat dimakan dan dibagikan dalam
waktu yang lebih lama. Di balik realitas lahiriah itu, tersembunyi isyarat
ruhani yang menakjubkan: daging-daging kurban adalah simbol dari nafsu
kebinatangan yang telah disembelih, dan “menjemurnya” berarti mengawetkan hasil
penyembelihan itu agar tidak kembali membusuk dalam diri. Daging kurban, jika
tidak dijemur, akan cepat busuk—begitu pula pengorbanan jiwa, jika tidak
diikuti oleh penyebaran amal dan dzikir yang berkelanjutan, akan kehilangan
daya tahannya. Tiga hari Tasyriq adalah tiga hari untuk memproses daging-daging
pengorbanan itu menjadi bekal yang tahan lama, baik dalam bentuk makanan yang
dibagikan kepada fakir miskin, maupun dalam bentuk energi ruhani yang
dipancarkan melalui dzikir, takbir, dan tahlil yang menggema di setiap waktu.
Bagi para peziarah Baitullah,
Hari Tasyriq adalah hari-hari melempar jumrah, sebuah ritual yang menyimpan
filsafat mendalam. Melempar jumrah pada hari-hari Tasyriq adalah kelanjutan
dari lemparan jumrah ‘Aqabah pada Hari Nahr. Jika lemparan pertama adalah
deklarasi perang terhadap setan setelah puncak penyembelihan, maka lemparan
pada tiga hari berikutnya adalah konsistensi dalam memerangi bisikan-bisikan
yang akan selalu kembali. Setan tidak menyerah hanya dengan satu lemparan; ia
akan terus mendatangi hati untuk mencuri kembali makrifat yang telah diraih.
Tiga hari Tasyriq mengajarkan bahwa perjuangan melawan hawa nafsu adalah proses
berkelanjutan yang memerlukan keteguhan hari demi hari. Setiap batu yang
dilemparkan adalah penegasan tauhid yang diulang-ulang: “Allāhu Akbar, Allāhu
Akbar,” mengecilkan apa pun selain Dia yang berusaha membesar dalam jiwa.
Sementara itu, bagi kaum
muslimin di seluruh penjuru dunia, Hari Tasyriq adalah hari-hari yang diisi
dengan takbir muqayyad—takbir yang diucapkan setiap selesai shalat fardhu,
mulai dari Subuh Hari Arafah hingga Ashar akhir Hari Tasyriq. Takbir ini adalah
kelanjutan dari takbir mutlak yang telah dikumandangkan sejak awal Dzulhijjah.
Jika takbir mutlak adalah pelepasan jiwa dari segala ikatan, takbir muqayyad
adalah pengikatan kembali jiwa itu dengan Allah dalam ritme kehidupan
sehari-hari yang tertata oleh shalat. Setiap selesai shalat, sebelum beranjak
ke aktivitas dunia, seorang muslim mengumandangkan “Allāhu Akbar, Allāhu Akbar,
Lā ilāha illallāhu Allāhu Akbar, Allāhu Akbar wa lillāhil hamd,” seolah
menyelaraskan detak jantungnya dengan ketukan tauhid. Amalan utama pada
hari-hari ini adalah memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih di setiap
keadaan, hingga pasar, jalan, dan rumah-rumah pun menjadi masjid yang hidup.
Doa yang paling sering
dipanjatkan oleh para jemaah haji dan dianjurkan bagi seluruh muslim di
hari-hari Tasyriq adalah doa yang merangkum seluruh kebutuhan dunia dan
akhirat:
رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةًۭ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ
حَسَنَةًۭ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa
neraka.” (QS. Al-Baqarah [2]: 201)
Doa ini, dalam konteks Tasyriq,
adalah pengakuan bahwa setelah dikaruniai ma‘rifat (Arafah) dan kekuatan
berkorban (Nahr), seorang hamba tetap membutuhkan kebaikan duniawi yang tidak
melalaika n, dan kebaikan ukhrawi yang menjadi tujuan akhir. Ia tidak lagi
menjadi pertapa yang menolak dunia, juga bukan materialis yang melupakan
akhirat. Ia adalah ‘abd yang telah dimerdekakan dari perbudakan nafsu, sehingga
dunia di tangannya dan akhirat di hatinya. Kebaikan dunia di sini bukanlah
kekayaan yang menumpuk, melainkan dunia yang dijadikan jembatan menuju ridha
Ilahi; dan kebaikan akhirat adalah puncak penyaksian wajah-Nya. Hari-hari
Tasyriq menjadi waktu yang tepat untuk memanjatkan doa ini, karena di dalamnya
terkandung permohonan agar hasil penjemuran ruhani selama tiga hari itu menjadi
bekal yang kekal, bukan hanya untuk bertahan di dunia, tetapi untuk selamat
dalam perjalanan panjang menuju keabadian.
Tiga hari Tasyriq adalah tiga
langkah dalam perjalanan kembali. Hari pertama (11 Dzulhijjah) adalah awal
integrasi: setelah penyembelihan, kita mulai mengiris-iris daging pengorbanan,
merasakan buah dari ketundukan, membagikannya kepada sesama, dan merasakan
manisnya berbagi. Ini adalah hari di mana kita menyadari bahwa kurban yang kita
lakukan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi harus segera menjadi rahmat bagi
orang lain. Hari kedua (12 Dzulhijjah) adalah pemantapan: jemuran daging mulai
mengering, dzikir kian menetap di hati, lemparan jumrah terus diulang. Di sini,
transformasi ruhani menjadi semakin kokoh, dan semangat untuk terus menyebarkan
kebaikan tak boleh pudar. Hari ketiga (13 Dzulhijjah) adalah penyempurnaan:
bagi yang memilih nafar akhir, mereka bertahan hingga akhir, menyempurnakan
proses penyucian dan penjemuran. Ini adalah simbol penyelesaian siklus, di mana
daging yang telah kering kini siap menjadi bekal perjalanan jauh, dan jiwa yang
telah dijemur di bawah sinar Ilahi kini lebih tahan terhadap godaan pembusukan
nafsu.
Tiga hari itu mengajarkan bahwa
spiritualitas sejati bukanlah letupan sesaat di puncak gunung, melainkan proses
panjang mengeringkan daging-daging ego di bawah terik kesadaran, hari demi
hari, hingga ia layak menjadi bekal. Hari Tasyriq adalah hari untuk mengubah
puncak menjadi lembah yang subur, mengubah sembelihan menjadi santapan yang
mengenyangkan jiwa-jiwa yang lapar, dan mengubah dzikir menjadi irama yang
mengiringi seluruh aktivitas hidup. Barangsiapa memahami ini, ia akan menjalani
tiga hari Tasyriq bukan sebagai hari libur dari ibadah, melainkan sebagai tahap
paling krusial dari ibadah itu sendiri: menjaga agar cahaya Arafah dan kekuatan
Nahr tidak redup, melainkan terus mengalir, mengering, dan mengabadi dalam
seluruh dimensi kemanusiaannya. Wallahu a'lam.
Reviewed by sangpencerah
on
Juni 19, 2026
Rating:






Tidak ada komentar: