Refleksi Rangkaian Ibadah Haji

 Refleksi Rangkaian Ibadah Haji
Drs. M. Syarif Hidayatullah, S.Ag
 Anggota CMM Malang Raya


Puncak telah terlampaui. Arafah telah meluruhkan keangkuhan dalam wukuf yang memfanakan, Nahr telah menghunuskan pisau ketundukan ke urat nadi kecintaan yang paling halus. Kini, seorang muslim memasuki hamparan tiga hari yang dinamakan Tasyriq—hari kesebelas, kedua belas, dan ketiga belas Dzulhijjah. Secara bahasa, tasyriq berarti menjemur daging di bawah terik matahari, mengeringkannya agar tak membusuk, mengawetkannya agar menjadi bekal perjalanan panjang. Inilah hari-hari ketika daging-daging kurban yang telah disembelih tidak segera habis dimakan, melainkan diiris-iris, ditebarkan di atas hamparan tanah, dijemur di bawah sinar, berubah dari sesuatu yang mudah rusak menjadi sesuatu yang tahan lama. Bagi para pencari makna, Hari Tasyriq bukan sekadar lanjutan dari ritual haji dan Idul Adha; ia adalah madrasah ruhani yang paling halus, tempat cahaya penyembelihan diubah menjadi kekuatan yang menyebar, dan tempat dzikir menjadi napas kehidupan yang lestari.

 

Hakikat Hari Tasyriq terletak pada gerakan mengganda dari dua kalimat: menyebarkan dan mengingat. Setelah puncak pengorbanan, seorang muslim tidak tenggelam dalam euforia spiritual yang tertutup, melainkan diperintahkan untuk keluar, membagikan daging, menikmati makanan dan minuman, namun dalam seluruh sela-sela itu lidahnya basah oleh dzikir. Allah SWT berfirman:

 

وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْدُودَٰت

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dalam beberapa hari yang terbilang (hari-hari Tasyriq).” (QS. Al-Baqarah [2]: 203)

 

Ayat ini menegaskan bahwa amalan utama yang menyatukan seluruh gerak dan diam pada hari-hari itu adalah dzikrullah. Hari-hari itu “ma‘dūdāt”, terbilang, sedikit, terbatas pada tiga hari, seolah mengisyaratkan bahwa kesempatan menanam makrifat dalam keseharian hanya terbuka dalam waktu yang singkat dan harus segera dimanfaatkan. Rasulullah SAW kemudian mengukuhkan hakikat ini dengan sabda yang sangat dalam:

 

أَيَّامُ ٱلتَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍۢ وَشُرْبٍۢ وَذِكْرِ ٱللَّهِ

Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)

 

Hadis ini adalah kunci filsafat Tasyriq. Syariat secara tegas melarang berpuasa pada hari-hari ini, sebuah isyarat hukum (irsyād) bahwa setelah pendakian ruhani yang memuncak di Arafah dan puncak penyembelihan di Nahr, seorang hamba diundang untuk duduk di meja jamuan Ilahi dan menikmati karunia-Nya dengan gembira, namun dengan syarat bahwa kenikmatan jasmani itu dibingkai oleh dzikir yang tak putus. Makan dan minum bukan lagi sekadar aktivitas duniawi; ia berubah menjadi ibadah karena diliputi oleh kesadaran akan Pemberi nikmat. Di sinilah harmoni antara tasawuf dan filsafat hukum Islam tampak paling indah: hukum melarang puasa bukan untuk mendorong kerakusan, melainkan untuk mengajarkan bahwa puncak spiritualitas tidak mengharuskan kita lari dari dunia, melainkan mengintegrasikan kenikmatan duniawi ke dalam kesadaran ilahiah. Menikmati makanan halal sambil terus berdzikir adalah bentuk baqā’ setelah fanā’, kembali ke dunia setelah lebur dalam samudra keesaan, namun kini dengan membawa nama Allah SWT di setiap suapan dan tegukan.

 

Hari Tasyriq dinamai demikian karena secara lahiriah, pada masa itu orang-orang menjemur daging kurban di bawah matahari agar tidak membusuk, agar dapat dimakan dan dibagikan dalam waktu yang lebih lama. Di balik realitas lahiriah itu, tersembunyi isyarat ruhani yang menakjubkan: daging-daging kurban adalah simbol dari nafsu kebinatangan yang telah disembelih, dan “menjemurnya” berarti mengawetkan hasil penyembelihan itu agar tidak kembali membusuk dalam diri. Daging kurban, jika tidak dijemur, akan cepat busuk—begitu pula pengorbanan jiwa, jika tidak diikuti oleh penyebaran amal dan dzikir yang berkelanjutan, akan kehilangan daya tahannya. Tiga hari Tasyriq adalah tiga hari untuk memproses daging-daging pengorbanan itu menjadi bekal yang tahan lama, baik dalam bentuk makanan yang dibagikan kepada fakir miskin, maupun dalam bentuk energi ruhani yang dipancarkan melalui dzikir, takbir, dan tahlil yang menggema di setiap waktu.

 

Bagi para peziarah Baitullah, Hari Tasyriq adalah hari-hari melempar jumrah, sebuah ritual yang menyimpan filsafat mendalam. Melempar jumrah pada hari-hari Tasyriq adalah kelanjutan dari lemparan jumrah ‘Aqabah pada Hari Nahr. Jika lemparan pertama adalah deklarasi perang terhadap setan setelah puncak penyembelihan, maka lemparan pada tiga hari berikutnya adalah konsistensi dalam memerangi bisikan-bisikan yang akan selalu kembali. Setan tidak menyerah hanya dengan satu lemparan; ia akan terus mendatangi hati untuk mencuri kembali makrifat yang telah diraih. Tiga hari Tasyriq mengajarkan bahwa perjuangan melawan hawa nafsu adalah proses berkelanjutan yang memerlukan keteguhan hari demi hari. Setiap batu yang dilemparkan adalah penegasan tauhid yang diulang-ulang: “Allāhu Akbar, Allāhu Akbar,” mengecilkan apa pun selain Dia yang berusaha membesar dalam jiwa.

 

 Informasi: 0853-3596-6927 | IG: @ppinovasimalang


Sementara itu, bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia, Hari Tasyriq adalah hari-hari yang diisi dengan takbir muqayyad—takbir yang diucapkan setiap selesai shalat fardhu, mulai dari Subuh Hari Arafah hingga Ashar akhir Hari Tasyriq. Takbir ini adalah kelanjutan dari takbir mutlak yang telah dikumandangkan sejak awal Dzulhijjah. Jika takbir mutlak adalah pelepasan jiwa dari segala ikatan, takbir muqayyad adalah pengikatan kembali jiwa itu dengan Allah dalam ritme kehidupan sehari-hari yang tertata oleh shalat. Setiap selesai shalat, sebelum beranjak ke aktivitas dunia, seorang muslim mengumandangkan “Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Lā ilāha illallāhu Allāhu Akbar, Allāhu Akbar wa lillāhil hamd,” seolah menyelaraskan detak jantungnya dengan ketukan tauhid. Amalan utama pada hari-hari ini adalah memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih di setiap keadaan, hingga pasar, jalan, dan rumah-rumah pun menjadi masjid yang hidup.

 

Doa yang paling sering dipanjatkan oleh para jemaah haji dan dianjurkan bagi seluruh muslim di hari-hari Tasyriq adalah doa yang merangkum seluruh kebutuhan dunia dan akhirat:

 

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةًۭ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ حَسَنَةًۭ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah [2]: 201)

 

Doa ini, dalam konteks Tasyriq, adalah pengakuan bahwa setelah dikaruniai ma‘rifat (Arafah) dan kekuatan berkorban (Nahr), seorang hamba tetap membutuhkan kebaikan duniawi yang tidak melalaika n, dan kebaikan ukhrawi yang menjadi tujuan akhir. Ia tidak lagi menjadi pertapa yang menolak dunia, juga bukan materialis yang melupakan akhirat. Ia adalah ‘abd yang telah dimerdekakan dari perbudakan nafsu, sehingga dunia di tangannya dan akhirat di hatinya. Kebaikan dunia di sini bukanlah kekayaan yang menumpuk, melainkan dunia yang dijadikan jembatan menuju ridha Ilahi; dan kebaikan akhirat adalah puncak penyaksian wajah-Nya. Hari-hari Tasyriq menjadi waktu yang tepat untuk memanjatkan doa ini, karena di dalamnya terkandung permohonan agar hasil penjemuran ruhani selama tiga hari itu menjadi bekal yang kekal, bukan hanya untuk bertahan di dunia, tetapi untuk selamat dalam perjalanan panjang menuju keabadian.

 

Tiga hari Tasyriq adalah tiga langkah dalam perjalanan kembali. Hari pertama (11 Dzulhijjah) adalah awal integrasi: setelah penyembelihan, kita mulai mengiris-iris daging pengorbanan, merasakan buah dari ketundukan, membagikannya kepada sesama, dan merasakan manisnya berbagi. Ini adalah hari di mana kita menyadari bahwa kurban yang kita lakukan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi harus segera menjadi rahmat bagi orang lain. Hari kedua (12 Dzulhijjah) adalah pemantapan: jemuran daging mulai mengering, dzikir kian menetap di hati, lemparan jumrah terus diulang. Di sini, transformasi ruhani menjadi semakin kokoh, dan semangat untuk terus menyebarkan kebaikan tak boleh pudar. Hari ketiga (13 Dzulhijjah) adalah penyempurnaan: bagi yang memilih nafar akhir, mereka bertahan hingga akhir, menyempurnakan proses penyucian dan penjemuran. Ini adalah simbol penyelesaian siklus, di mana daging yang telah kering kini siap menjadi bekal perjalanan jauh, dan jiwa yang telah dijemur di bawah sinar Ilahi kini lebih tahan terhadap godaan pembusukan nafsu.

 

Tiga hari itu mengajarkan bahwa spiritualitas sejati bukanlah letupan sesaat di puncak gunung, melainkan proses panjang mengeringkan daging-daging ego di bawah terik kesadaran, hari demi hari, hingga ia layak menjadi bekal. Hari Tasyriq adalah hari untuk mengubah puncak menjadi lembah yang subur, mengubah sembelihan menjadi santapan yang mengenyangkan jiwa-jiwa yang lapar, dan mengubah dzikir menjadi irama yang mengiringi seluruh aktivitas hidup. Barangsiapa memahami ini, ia akan menjalani tiga hari Tasyriq bukan sebagai hari libur dari ibadah, melainkan sebagai tahap paling krusial dari ibadah itu sendiri: menjaga agar cahaya Arafah dan kekuatan Nahr tidak redup, melainkan terus mengalir, mengering, dan mengabadi dalam seluruh dimensi kemanusiaannya. Wallahu a'lam.



Refleksi Rangkaian Ibadah Haji Refleksi Rangkaian Ibadah Haji Reviewed by sangpencerah on Juni 19, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar: