Sehubungan dengan pelaksanaan shalat idul adha 1447/2026, di bawah
ini tuntunan menyambut dan melaksanakan shalat Iduladha di daerah masing-masing,
dan dilaksanakan dengan penuh keikhlasan, kekhusyukan dan ketaqwaan kepada
Allah SWT. Ketentuan dalapelaksanaan shalat idul Adha sebagai berikut;
1. Memperbanyak Takbir
Pelaksanaan takbir sejak Subuh hari Arafah sampai pada hari-hari
tasyrik tidak hanya pada waktu-waktu tertentu, seperti setelah salat fardu,
tetapi dapat dibaca setiap waktu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhārī
berikut:
Bahwasanya ‘Umar r.a. bertakbir di kubahnya di Mina, kemudian
didengar oleh orang-orang
yang ada di masjid dan mereka pun mengikuti takbir, demikian juga orang-orang
yang di pasar ikut bertakbir, hingga bergemuruh suara takbir di Mina. Pada
hari-hari tasyrik, Ibn Umar juga bertakbir di Mina, baik sehabis salat, sewaktu
di tempat tidur, waktu duduk atau berjalan, di dalam kemah atau di tempat
lainnya. Maimunah juga bertakbir pada hari raya kurban, dan para wanita
bertakbir di masjid bersama kaum laki-laki di bawah pimpinan Abbān ibn ‘Uṡmān
dan ‘Umar ibn ‘Abd al-Azīz pada malam-malam tasyrik [HR
al-Bukhārī].
Bacaan takbir Iduladha sebagaimana tercantum dalam Tanya Jawab
Agama jilid 1 halaman 112 dan jilid 3 halaman 162-164 serta jilid 5 halaman 74,
berdasarkan riwayat yang kuat adalah,
Allāhu Akbar – Allāhu Akbar – Lā ilāha illallāh – Wallāhu Akbar –
Allāhu Akbar – Wa lillāhil hāmd.
Lafal takbir di atas, sesuai dengan hadis,
Dari Ibrāhim (diriwayatkan) ia berkata, ketika para sahabat
memasuki hari Arafah, dan salah satu di antara mereka menghadap ke kiblat di
akhir salat, mereka mengucapkan takbir: Allāhu Akbar – Allāhu Akbar – Lā ilāha illallāh – Wallāhu Akbar –
Allāhu Akbar – Wa lillāhil hāmd[HR Ibn Abī Syaibah].
2. Berhias dengan pakaian bagus dan memakai wangi-wangian
Hal ini didasarkan pada:
Dari Ja‘far ibn Muḥammad dari ayahnya dari kakeknya
(diriwayatkan), bahwa Nabi SAW selalu memakai wool (Burda) bercorak (buatan
Yaman) pada setiap hari Id [HR
asy-Syāfi‘ī dalam kitabnya Musnad asy-Syāfi‘ī].
Dari Zaid ibn al-Ḥasan bin Alī dari ayahnya
(diriwayatkan) ia berkata: Kami diperintahkan oleh Rasulullah SAW pada dua
hari raya (Idulfitri dan Iduladha) untuk memakai pakaian terbaik yang ada,
memakai wangi-wangian terbaik yang ada, dan menyembelih binatang kurban
tergemuk yang ada (sapi untuk tujuh orang dan unta untuk sepuluh orang) dan
supaya kami menampakkan keagungan Allah, ketenangan dan kekhidmatan [HR al-Ḥākim dalam kitabnya al-Mustadrak, IV: 256].
3. Tidak makan sebelum shalat Iduladha
Dari Abdullah ibn Buraidah dari ayahnya (yaitu Buraidah
bin al-Husaib) (diriwayatkan) ia berkata: Rasulullah SAW pada hari Idulfitri
tidak keluar sebelum makan, dan pada hari Iduladha tidak makan sehingga selesai
shalat [HR Tirmiżī].
4. Waktu shalat Iduladha
Waktu shalat Id adalah pagi hari, dimulai dari matahari setinggi
tombak sampai waktu zawāl (matahari bergeser ke barat). Ibn
Qayyim al-Jauziyah mengatakan: “Nabi SAW biasa mengakhirkan shalat Idulfitri
dan mempercepat pelaksanaan shalat Idul adha” [Ibn Qayyim al-Jauziyah, Zād
al- Ma’ād fī Hadyi Khair al-‘Ibād, 1:425].
Tujuan shalat Idulfitri agak diundur agar kaum muslimin masih
punya kesempatan untuk menunaikan zakat fitri. Sedangkan shalat Idul adha
dikerjakan lebih awal adalah agar orang-orang dapat segera menyembelih kurban
[Abu Bakr Jābir al-Jazāiri, Minhāj al-Muslim, hlm. 201]. Hal ini
sejalan dengan pendapat Ibn Qudamah, yaitu karena pada hari Adha, umat Islam
akan sibuk melakukan pemotongan hewan qurban (al-Mughnī: II/280)
Pelaksanaan shalat hendaknya disegerakan, ini dapat dipahami dari
hadis,
Dari ‘Abdullāh ibn Busr –seorang sahabat
Rasulullah- (diriwayatkan) bahwasanya ia bersama orang-orang
berangkat pada hari raya Idulfitri, atau Iduladha, kemudian ia
keberatan dengan keterlambatan imam seraya mengatakan,seharusnya kita telah
selesai pada saat ini, dan itu tatkala tasbih (duha) [HR Abū Dāwūd, Ibn Mājah dan aṭ-Ṭabrānī]
5. Shalat Idul adha dikerjakan dua rakaat dan tidak ada shalat
sunah sebelum maupun sesudahnya,
Dari Ibn ‘Abbās (diriwayatkan) bahwasanya Rasulullah SAW pada
hari Iduladlha atau Idulfitri keluar, lalu shalat dua rakaat, dan tidak mengerjakan
shalat apa pun sebelum maupun sesudahnya [HR Muslim].
6. Tidak ada azan dan iqamah sebelum salat Iduladha serta tidak
ada ucapan aṣ-ṣalātu jāmi’ah
Dari Jābir ibn Samurah (diriwayatkan) ia berkata: Aku pernah
melaksanakan shalat Id (Idulfitri dan Iduladha) bersama Rasulullah SAW bukan
hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqamah [HR Muslim].
Ibn Qayyim mengatakan: Jika Nabi SAW sampai ke tempat salat,
beliau pun mengerjakan shalat Id tanpa ada adzan dan iqamah. Juga ketika itu
untuk menyeru jemaah tidak ada ucapan “aṣ-ṣalātu jāmi‘ah [Ibn
Qayyim al-Jauziyah, Zād al-Ma’ād, I: 425].
7. Tatacara shalat Idul adha
a. Memulai dengan takbiratul ihram, sebagaimana salat-salat
lainnya, diiringi niat ikhlas karena Allah
b. Membaca doa Iftitah
c. Takbir (takbīr al-zawāid/takbir tambahan) sebanyak 7
(tujuh) kali pada rakaat pertama setelah takbiratul ihram dan doa iftitah,
serta 5 (lima) kali pada rakaat kedua setelah takbir intiqāl (bangkit
dari sujud), dengan mengangkat tangan
Dari Āisyah (diriwayatkan bahwa) Rasulullah SAW pada salat dua
hari raya bertakbir tujuh kali dan lima kali sebelum membaca (al-Fatihah dan
surah) [HR Aḥmad].
Dari Wā’il ibn Ḥujr al-Ḥaḍramī(diriwayatkan) bahwa
ia berkata: Saya melihat Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ketika
bertakbir [HR Aḥmad dan
Abū Dāwūd].
Di antara takbir-takbir (takbīr al-zawāid) tidak ada bacaan
zikir tertentu. Belum didapatkan hadis ṣaḥīh marfū’ yang
menerangkan bacaan Rasulullah SAW di antara takbir-takbir tersebut.
d. Membaca surah al-Fatihah, diawali dengan bacaan ta‘āwuż dan
basmalah
e. Setelah membaca al-Fatihah membaca surah yang dianjurkan, yaitu
antara lain surat al-Aʻlā dan al-Gāsyiyah berdasarkan hadis,
Dari an-Nu‘mān ibn Basyīr (diriwayatkan) ia berkata:
Rasulullah SAW biasa membaca dalam salat Id maupun salat Jumat “Sabbiḥisma rabbikal-a`lā” dan “Hal atāka hadīṡul-ghāsyiyah.”An-Nu`mān
mengatakan begitu pula ketika Id bertepatan dengan hari Jumat, beliau membaca
kedua surat tersebut di masing-masing salat [HR Muslim].
Membaca kedua surah dalam hadis di atas merupakan anjuran, tetapi
juga dibolehkan membaca surat lain karena suatu atau lain alasan semisal tidak
hafal. Hal ini sesuai firman,
… karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu)
dari al–Quran [QS.
al-Muzzammil (73): 20].
f. Rukuk, sujud dan seterusnya sampai salam sebagaimana dalam
salat biasa
8. Khutbah setelah shalat Idul adha
Setelah selesai shalat hendaklah imam berkhutbah satu kali,
dimulai dengan “alḥamdulillāh” berdasarkan dalil, Dari Abū Sa’īd al-Khudrī
(diriwayatkan) ia berkata: Nabi SAW pada hari raya Fitri dan Adha
Rasulullah SAW pergi ke tempat salat. Hal pertama yang beliau kerjakan adalah
salat, kemudian apabila telah selesai beliau bangkit menghadap orang banyak
ketika mereka masih duduk pada saf-saf mereka. Lalu beliau menyampaikan
peringatan dan wejangan kepada mereka dan mengumumkan perintah-perintah pada
mereka dan jika beliau hendak memberangkatkan angkatan atau mengumumkan tentang
sesuatu beliau laksanakan kemudian pulang [HR Bukhārī dan Muslim,
lafal Bukhārī].
Dari Jābir ibn‘Abdillāh (diriwayatkan) ia berkata, pernah aku
mengalami salat hari raya bersama Rasulullah SAW, lalu dimulai salat sebelum
khutbah tanpa adzan dan iqamah. Kemudian beliau bangkit bersandar pada Bilal,
lalu beliau menganjurkan orang tentang takwa kepada Allah dan menyuruh patuh
kepada-Nya dan menyampaikan nasihat dan peringatan kepada mereka. Lalu beliau
mendatangi para wanita dan menyampaikan nasihat dan peringatan kepada mereka …
dan seterusnya hadis. [HR
Muslim dan an-Nasā’ī]. Dalam riwayat Muslim dengan kalimat: Setelah
Nabi SAW selesai, beliau turun dan mendatangi para wanita dan menyampaikan
peringatan-peringatan kepada mereka … dan seterusnya hadis.
Oleh karena dalam hadis-hadis itu tidak disebutkan khutbah Id
dimulai dengan takbir, maka digunakan dalil yang menjelaskan praktik Rasulullah
SAW dalam memulai khutbah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis,
Dari Jābir (diriwayatkan) ia berkata Rasulullah SAW
berkhutbah di hadapan manusia memuji Allah dan memujinya kemudian
bersabda: Siapa saja yang mendapat petunjuk dari Allah maka
tidak ada yang menyesatkannya, dan siapa saja yang disesatkan oleh Allah, maka
tidak ada yang dapat memberi petunjuk [HR Muslim].
Dalam hadis-hadis di atas, tidak ada pula keterangan tentang
khutbah Id dengan dua khutbah, sehingga khutbah Id hanya satu kali tanpa duduk.
Khutbah diakhiri dengan berdoa sambil mengangkat jari telunjuk
seperti dalam khutbah Jumat, sebagaimana hadis,
Dari Huṣain (diriwayatkan), bahwa Bisyr ibn Marwān mengangkat
kedua tangannya pada khutbah Jumat di atas mimbar, kemudian dimarahi oleh
Umārah ibn Ruwaibah aṡ-Ṡaqafī dan berkata: Rasulullah SAW tidak menambah ini,
dengan mengisyaratkan jari telunjuknya [HR an-Nasā’ī].
Pada masa seperti saat ini, tidak terlalu Panjang isi khutbah yang
disa
mpaikan, karena begitu banyak sumber dan refernsi yang bisa dicari sendiri
oleh para jama’ah, sedikit tapi bisa dipahami daripada banyak tapi kurang
diperhatikan. Minimal khutbah dilaksanakan seringkas mungkin dengan durasi
maksimal 15-20 menit.
Reviewed by sangpencerah
on
Mei 22, 2026
Rating:





Tidak ada komentar: