Sepenggal kisah
dalam Islam dapat menumbuhkan kecintaan kepada Islam sebagai agama mulia dan
memberi keselamatan pada pemeluknya. Bahkan bisa menambah keimanan seseorang
kepada Allah SWT, karena sebuah kisah itu memberikan ruang aspiratif dan
akomodatif pada pembacanya.
Kisah ini mungkin
telah sering kita dengar. Namun, sekedar mengingatkan kembali tentang
perjuangan wanita mulia ini, semoga dapat mengembalikan ghirah kita untuk juga
bisa menteladani beliau, wanita yang ‘berhati baja’.
Nusaibah Binti
Ka’ab radhiyallahu anha, namanya tercatat dalam tinta emas penuh kemuliaan.
Bahkan kematiannya mengundang ribuan malaikat untuk menyambutnya.
Hari itu Nusaibah
sedang berada di dapur. Suaminya, Said sedang beristirahat di bilik tempat
tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang
runtuh. Nusaibah menerka, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini
ketegangan memuncak di kawasan Gunung Uhud. Dengan bergegas, Nusaibah
meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik. Suaminya yang
sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya.
“Suamiku
tersayang”, Nusaibah berkata, “Aku mendengar pekik suara menuju ke Uhud.
Mungkin orang-orang kafir telah menyerang.”
Said yang masih
belum sadar sepenuhnya, tersentak. Dia menyesal mengapa bukan dia yang
mendengar suara itu. Malah isterinya. Dia segera bangun dan mengenakan pakaian
perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan
sebilah pedang kepada Said.
“Suamiku, bawalah
pedang ini. Jangan pulang sebelum menang.”
Said memandang
wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya itu, tak pernah ada keraguan
padanya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu
terdengarlah derap suara langkah kuda menuju ke utara. Said langsung terjun ke
tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain,
Rasulullah SAW melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu
semakin mengobarkan keberanian Said.
Di rumah, Nusaibah
duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad
yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika
itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.
“Ibu, salam dari
Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru sahaja gugur di
medan perang.
Beliau syahid…”
Nusaibah tertunduk
sebentar,
“Inna lillah…..”
gumamnya,
“Suamiku telah
menang perang. Terima kasih, ya Allah.”
Setelah pemberi
kabar itu meninggalkan tempat, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya
di tengah tangis yang tertahan,
“Amar, kaulihat Ibu
menangis?.. Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah Syahid. Aku sedih
karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi.
Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”
Amar mengangguk.
Hatinya berdebar-debar.
“Ambillah kuda di
kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir
terhapus.”
Mata Amar
bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku
ragu, seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela agama Allah.”
Putera Nusaibah
yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah.
Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di hadapan Rasulullah, ia
memperkenalkan diri.
“Ya Rasulullah, aku
Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.”
Rasul dengan
terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar.
Allah memberkatimu….”
Hari itu
pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang.
Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan di medan
tempur, mereka menuju ke rumah Nusaibah.
Setibanya di sana,
wanita yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah
gerangan?..” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya,
“Apakah anakku gugur?..”
Utusan itu menunduk
sedih, “Betul….”
“Inna lillah….”
Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis.
“Kau berduka, ya
Ummu Amar?..”
Nusaibah menggeleng
kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan
kuberangkatkan?.. Saad masih kanak-kanak.”
Mendengar itu, Saad
yang sedang berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku.
Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putera seorang ayah
yang gagah berani.”
Nusaibah
terperanjat. Ia memandang puteranya. “Kau tidak takut, nak?..”
Saad yang sudah
meloncat ke atas kudanya menggeleng, yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya.
Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama
utusan tentara itu.
Di arena
pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun
itu telah banyak menghempaskan nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat
itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur
mencium bumi dan menyerukan, “Allahu Akbar!..”
Kembali Rasulullah SAW
memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah.
Mendengar berita
kematian itu, Nusaibah meremang bulu tengkuknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kau
saksikan sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa
diriku yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”
Sang utusan
mengerutkan keningnya. “Tapi engkau wanita, ya Ibu….”
Nusaibah
tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku wanita?.. Apakah wanita tidak
ingin pula masuk ke Syurga melalui jihad?..”
Nusaibah tidak
menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap Rasulullah SAW
dengan mengendarai kuda yang ada.
Tiba di sana,
Rasulullah SAW mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah SAW
pun berkata dengan senyum.
“Nusaibah yang
dimuliakan Allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. Untuk sementara
engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka.
Pahalanya sama dengan yang bertempur.”
Mendengar
penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng obat-obatan dan
berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.
Dirawatnya mereka
yang mengalami luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang
menunduk dan memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba
rambutnya terkena percikan darah. Nusaibah lalu memandang. Ternyata kepala
seorang tentara Islam tergolek, tewas terbabat oleh senjata orang kafir.
Timbul kemarahan
Nusaibah menyaksikan kekejaman ini.
Apalagi ketika
dilihatnya Rasulullah SAW terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet
anak panah musuh. Nusaibah tidak dapat menahan diri lagi, menyaksikan hal itu.
Ia bangkit dengan
gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang tewas itu.
Dinaiki kudanya.
Lantas bagaikan
singa betina, ia mengamuk.
Musuh banyak yang
terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang.
Hingga pada suatu
waktu ada seorang kafir yang mengendap dari arah belakang, dan langsung menebas
putus lengan kirinya. Nusaibah pun terjatuh, terinjak-injak oleh kuda.
Peperangan terus berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga tubuh
Nusaibah teronggok sendirian.
Tiba-tiba Ibnu
Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada orang yang bisa
ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat ada tubuh yang bergerak-gerak dengan
susah payah, dia segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu.
Akhirnya Ibnu
Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau?..”
Nusaibah samar-sama
memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “Bagaimana dengan Rasulullah?..
Selamatkah baginda?..”
“Baginda Rasulullah
tidak kurang suatu apapun…”
“Engkau Ibnu
Mas’ud, bukan?.. Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”
“Engkau masih
terluka parah, Nusaibah….”
“Engkau mau
menghalangi aku untuk membela Rasulullah?..”
Terpaksa Ibnu
Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah menaiki
kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke medan pertempuran. Banyak musuh yang
dijungkirbalikkannya. Namun karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung
juga lehernya terbabat putus oleh sabetan pedang musuh.
Gugurlah wanita
perkasa itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.
Tiba-tiba langit
berubah mendung, hitam kelabu. Padahal tadinya langit tampak cerah dan terang
benderang. Pertempuran terhenti sejenak.
Rasul SAW kemudian
berkata kepada para sahabatnya,
“Kalian lihat
langit tiba-tiba menghitam bukan?.. Itu adalah bayangan para malaikat yang
beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah
Nusaibah, wanita yang perkasa.”
Maa Syaa Allah
Tabaarakallah
Reviewed by sangpencerah
on
Februari 05, 2026
Rating:





Tidak ada komentar: