Dalam perjalanan hidup seorang mukmin, kesabaran sering dipahami sebagai
kemampuan untuk bertahan dalam segala keadaan. Bertahan menghadapi luka,
tekanan, dan kekecewaan kerap dianggap sebagai ukuran kedewasaan iman. Tidak
sedikit orang yang memaknai kesabaran sebagai sikap menerima apa pun yang
terjadi, meskipun hatinya remuk, jiwanya letih, dan imannya perlahan terkikis.
Padahal, Islam tidak mengajarkan kesabaran yang membiarkan hati terluka tanpa
batas, terlebih jika luka tersebut perlahan menggerogoti iman,. Kesabaran dalam
Islam bukanlah sikap pasif tanpa hikmah. Ia adalah keteguhan yang disertai
kesadaran, kebijaksanaan, dan penjagaan diri dari hal-hal yang membawa
kerusakan. Dalam banyak keadaan, bertahan memang mulia.
Menjaga hati adalah bagian dari menjaga agama. Dari hati lahir niat, amal,
keikhlasan, bahkan arah hidup seorang manusia. Hati yang terluka dan tidak
dirawat akan melahirkan amal yang lemah, ibadah yang kering, serta relasi yang
dipenuhi prasangka. Maka, keberanian untuk menjauh dari hal-hal yang melukai
hati bukanlah tanda kelemahan atau kekalahan, melainkan bentuk kebijaksanaan,
kedewasaan spiritual, dan kesadaran iman.
Hati sebagai Pusat
Kehidupan Iman
Islam menempatkan hati sebagai pusat
seluruh amal perbuatan. Baik dan buruknya seseorang sangat ditentukan oleh
keadaan hatinya. Rasulullah SAW bersabda:
“Ketahuilah, di dalam jasad terdapat segumpal
daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah
seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan
bahwa merawat hati merupakan kewajiban spiritual, bukan sekadar urusan
perasaan. Hati bukan hanya tempat emosi, tetapi pusat iman, taqwa, dan
kesadaran akan Allah SWT. Allah SWT juga
berfirman: “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang
datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”(QS. asy-Syu‘arā’: 88–89)
Ayat ini menegaskan
bahwa keselamatan sejati di akhirat tidak bergantung pada status sosial,
kekayaan, atau relasi duniawi, melainkan pada kondisi hati. Karena itu, menjaga
hati di dunia adalah investasi terbesar seorang mukmin. Hati yang bersih akan
melahirkan amal yang ikhlas, kesabaran yang lapang, dan ketenangan yang tidak
mudah goyah oleh ujian.
Islam adalah agama rahmat yang tidak
menghendaki kemudaratan bagi pemeluknya. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri
ke dalam kebinasaan.”(QS. al-Baqarah: 195)
Ayat ini tidak hanya
berbicara tentang bahaya fisik, tetapi juga mencakup kebinasaan batin dan
ruhani. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak
boleh ada bahaya dan tidak boleh saling membahayakan.”(HR. Ibnu Mājah)
Seorang mukmin tidak
dituntut untuk menjadi korban dari luka yang terus berulang atas nama
kesabaran, jika luka tersebut mengikis iman dan mengeraskan hati.
Menjauh sebagai Bentuk
Hikmah dan Keteguhan Iman
Menjauh dari sumber
luka sering disalahpahami sebagai sikap lari dari ujian. Padahal, dalam banyak
keadaan, menjauh justru merupakan bentuk kesadaran dan keteguhan iman.
Para ulama salaf sangat menekankan pentingnya menjaga hati melebihi
menjaga penampilan lahiriah. Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah berkata: “Menyia-nyiakan hati lebih berbahaya
daripada menyia-nyiakan waktu.” (Al-Fawā’id)
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah juga
berkata: “Seorang mukmin akan terus mengoreksi dirinya hingga ia menjadi
orang yang paling waspada dalam menjaga hatinya.”(Abu Nu‘aim, Hilyatul
Auliyā’)
Perkataan para ulama ini menunjukkan
bahwa menjaga hati adalah tanda kedewasaan iman. Seorang mukmin yang matang
secara spiritual tidak hanya sibuk memperbaiki amal lahir, tetapi juga sangat
berhati-hati terhadap apa yang masuk ke dalam hatinya.
Iman Tidak Selalu
Diuji dengan Bertahan
Sering kali iman diuji bukan dengan
kemampuan bertahan, melainkan dengan keberanian meninggalkan sesuatu yang
dicintai demi keselamatan iman. Rasulullah SAW bersabda:
“Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa
yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini mengajarkan
bahwa meninggalkan sesuatu demi ketenangan hati adalah pilihan yang bijak.
Menjaga hati bukanlah sikap egois, melainkan bentuk ibadah. Dalam banyak
keadaan, memaafkan tanpa terus membuka diri pada luka yang sama adalah jalan
terbaik untuk menjaga kejernihan iman.
Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah berkata:
“Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba selain memaafkan ketika
mampu, karena hal itu menenangkan hati dan membersihkannya dari kedengkian.” (Madārij
as-Sālikīn, 2/330)
Namun, memaafkan tidak selalu berarti
bertahan. Terkadang, memaafkan adalah melepaskan, lalu melangkah menjauh dengan
hati yang bersih.
Menjauh Bukan Berarti
Membenci
Penting untuk dipahami
bahwa menjauh dalam Islam tidak identik dengan kebencian, dendam, atau
permusuhan. Justru, menjauh sering kali lahir dari keinginan untuk menjaga hati
agar tetap bersih dari rasa-rasa yang merusak. Seorang mukmin boleh mengambil
jarak, namun tetap menjaga adab, doa, dan niat yang lurus.
Rasulullah SAW adalah
teladan terbaik dalam hal ini. Beliau tidak membalas keburukan dengan
keburukan, namun juga tidak selalu mempertahankan kedekatan dengan mereka yang
nyata-nyata merusak dakwah dan ketenangan umat. Dalam beberapa peristiwa,
Rasulullah SAW memilih diam, berpaling, atau menjaga jarak sebagai bentuk
hikmah dan penjagaan diri.
Allah SWT berfirman: “Dan apabila orang-orang
bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menyakitkan), mereka mengucapkan
‘salam’.” (QS. al-Furqān: 63)
Artinya berpaling
dengan damai adalah bentuk akhlak tertinggi. Menjauh bukan berarti memutus
rahmat, tetapi memilih jalan yang lebih aman bagi iman.
Menjaga Jarak demi
Menjaga Keikhlasan
Salah satu bahaya luka
yang terus dipelihara adalah hilangnya keikhlasan dalam beramal. Hati yang
dipenuhi sakit akan sulit menghadirkan niat yang murni. Amal bisa berubah
menjadi pelarian, pembuktian diri, atau bahkan ajang pelampiasan emosi.
Imam al-Ghazali
rahimahullah menjelaskan bahwa hati yang keruh akan memantulkan amal yang keruh
pula. Karena itu, menjaga jarak dari sumber luka sering kali menjadi langkah
awal untuk memulihkan keikhlasan. Ketika hati kembali tenang, ibadah pun
menjadi ringan dan bermakna.
Senada dengan firman Allah SWT dalam QS. al-Kahf: 110
Menjaga hati dari luka
yang berlarut-larut adalah bagian dari menjaga kemurnian ibadah agar tidak
tercampur dengan rasa marah, kecewa, atau keinginan untuk diakui.
Menjauh sebagai Bentuk Tanggung Jawab atas Amanah Diri
Tubuh, hati, dan iman
adalah amanah dari Allah SWT. Seorang mukmin bertanggung jawab atas amanah
tersebut. Bertahan dalam keadaan yang jelas-jelas merusak jiwa bukanlah bentuk
pengorbanan yang terpuji, melainkan kelalaian terhadap amanah.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya dirimu memiliki hak atasmu.”(HR.
Bukhari)
Hadits ini menegaskan
bahwa memperhatikan kondisi diri, termasuk kesehatan hati dan jiwa, adalah
kewajiban. Menjauh dari luka adalah upaya memenuhi hak diri agar tetap mampu
beribadah, berbuat baik, dan berjalan di jalan Allah SWT dengan utuh.
Menjauh untuk Menyembuhkan, Bukan Melarikan Diri
Perbedaan mendasar
antara menjauh yang terpuji dan lari yang tercela terletak pada niat dan arah.
Lari adalah menghindari tanggung jawab, sedangkan menjauh untuk menyembuhkan
adalah langkah sadar agar mampu kembali kepada Allah SWT dengan hati yang
sehat.
Menjauh yang benar
selalu diiringi muhasabah, doa, dan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih
baik. Ia bukan penutupan diri dari dunia, tetapi penataan ulang batas agar jiwa
tidak terus terluka.
Ibn Taimiyyah
rahimahullah berkata: “Hati jika
sakit, tidak akan mampu mengambil manfaat dari apa pun.”Maka, menyembuhkan
hati adalah prioritas sebelum melanjutkan perjalanan hidup dan pengabdian.
Ketenangan sebagai
Tanda Ridha Allah
Salah satu buah dari
keberanian menjauh demi menjaga iman adalah ketenangan. Ketenangan bukan
berarti bebas dari ujian, tetapi hadirnya rasa cukup, lapang, dan dekat dengan
Allah SWT meski dalam keterbatasan.
Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati
menjadi tenang.” (QS. ar-Ra‘d: 28)
Hati yang tenang
adalah tanda bahwa seorang hamba berada di jalur yang benar. Dan sering kali,
ketenangan itu datang setelah keberanian untuk meninggalkan sesuatu yang
melelahkan jiwa.
Tidak semua yang
ditinggalkan adalah kerugian; sebagian justru merupakan penyelamatan yang Allah
SWT anugerahkan. Ketika seorang mukmin berani menjauh dari luka, ia sedang
memilih ketenangan yang Allah SWT ridai. Ia sedang menjaga hati agar tetap
hidup, lembut, dan dekat dengan Rabb-nya. Sebab iman tidak hanya diuji dengan
kesabaran untuk bertahan, tetapi juga dengan keberanian untuk pergi demi
menjaga hati dan kedekatan dengan Allah SWT.
Semoga Allah SWT menuntun
langkah kita untuk berani menjauh dari luka yang melemahkan iman, menguatkan
hati untuk tetap berada di jalan yang diridai-Nya, serta membersihkan jiwa dari
dendam yang melelahkan. Sebab hati yang terjaga adalah tempat iman bersemi, dan
iman yang terpelihara adalah bekal terbaik untuk pulang menuju-Nya.
Reviewed by sangpencerah
on
Januari 23, 2026
Rating:





Tidak ada komentar: