MENYIKAPI RAHASIA ALLAH SWT DALAM AL QUR'AN

 MENYIKAPI RAHASIA ALLAH SWT DALAM AL QUR'AN
Oleh. Prof. Dr. Drs. Waharjani, M.Ag.
Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2015-2022

 

Cerita tentang peristiwa di masa Rasulullah SAW.Seorang sahabat yang datang dari jauh dengan penuh antusias akhirnya mendapat kesempatan menghadap Nabi. Setelah dipersilakan duduk dengan isyarat tangan penuh kelembutan dari Rasulullah SAW, sahabat itu langsung mengajukan lima pertanyaan berat:

 

“Ya Rasulullah, kapan datangnya hari kiamat? Di kampung kami tanah sudah pecah-pecah karena kemarau panjang, kapan hujan turun? Istri saya yang hamil tua, apakah bayinya laki-laki atau perempuan? Apa yang saya kerjakan besok? Dan, saya tahu siapa yang melahirkan saya, tapi di mana saya akan mati dan dikuburkan?”

 

Rasulullah, mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut, terdiam sejenak. Saat itulah, malaikat Jibril datang membawa wahyu yang kemudian termaktub dalam Surah Luqman ayat 34:

 

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

 

Penulis menjelaskan bahwa pertanyaan pertama tentang hari kiamat dijawab langsung dengan pernyataan bah wa hanya Allah SWT yang mengetahui waktunya: إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ. Ia mengisahkan pula dialog lain antara Rasulullah SAW dan Jibril, di mana Nabi menggambarkan kedekatan masa kenabian dengan hari kiamat seperti dua jari yang berdekatan.

 

“Kiamat ada dua: kiamat kubra, yaitu hancurnya alam semesta, dan kiamat sugra, yaitu kematian setiap makhluk,”

Pengetahuan tentang kapan kiamat terjadi adalah mutlak hak Allah SWT. Manusia hanya diberikan tanda-tanda atau rambu-rambunya saja, tetapi kepastian waktunya dirahasiakan agar manusia selalu waspada dan beramal shaleh.

Penjelasan ini mengingatkan kita semua agar tidak terjebak pada prediksi kiamat yang keliru, seperti yang pernah terjadi di Malaysia pada 28 Februari 2005, ketika seseorang memprediksi kiamat hingga menyebabkan kepanikan dan kerugian triliunan rupiah.

 

“Yang tahu hanya Allah. Kiamat sugra, seperti kematian, memang dekat dan harus kita siapkan dengan husnul khatimah,”

 

Pada pertanyaan kedua tentang hujan, mengutip وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ, menegaskan bahwa hanya Allah  SWT yang menentukan turunnya hujan. Namun, manusia dianugerahi akal untuk berikhtiar, seperti membuat hujan buatan dan lainnya itu hanya sebaai sebab dan sarana saja.

Hanya Allah SWT yang mengetahui secara pasti kapan, di mana, dan seberapa banyak air hujan akan turun. Walaupun teknologi modern saat ini bisa memprediksi cuaca atau membuat hujan buatan, manusia tetap tidak tahu hakikat mutlak dan takaran pastinya tanpa ketentuan Allah SWT.

Ia menceritakan pengalaman di Gunung Kidul pada era Soeharto, ketika Menteri Ir. Sutami menginisiasi hujan buatan untuk mengatasi kemarau. Meski mendung berhasil diciptakan, angin dari Australia membawa hujan ke Yogyakarta, bukan Wonosari.

“Manusia wajib berusaha, tapi Allah yang menentukan hasilnya,” katanya, seraya menyebut peran BMKG yang membantu masyarakat mempersiapkan diri menghadapi cuaca.

 

Pertanyaan ketiga tentang jenis kelamin bayi, yang dijawab dengan وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ, mengingatkan bahwa pengetahuan tentang isi rahim hanya milik Allah. Meski teknologi seperti USG atau prediksi dukun bayi bisa membantu, kebenarannya tidak mutlak.

berbagi kisah dari erupsi Merapi 2010, ketika seorang ibu melahirkan di tengah kepanikan. Bayi perempuan yang lahir diberi nama Siti Volkanowati, terinspirasi dari abu vulkanik. “Nama bisa kita siapkan, tapi Allah yang menentukan segalanya,” oleh karena  itu,  Allah mengetahui secara detail bukan hanya jenis kelamin janin, tetapi juga sifat, rezeki, nasib, kecelakaan, hingga apakah anak itu termasuk orang yang bahagia atau celaka. Alat USG atau teknologi medis hanya mampu melihat bentuk fisik atau jenis kelamin luar, bukan takdir hidup sang anak

Rasulullah SAW bersabda bahwa penciptaan seseorang dikumpulkan dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nuthfah (sperm/zigot), lalu 40 hari berupa 'alaqah (segumpal darah), dan 40 hari berikutnya berupa mudhgah (segumpal daging). Setelah sempurna 120 hari (4 bulan), Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh dan diperintahkan mencatat 4 ketetapan takdir:

  • Rezeki (rizquh)
  • Batas usia/Ajal (ajaluh)
  • Amal perbuatan (amaluh)
  • Nasib akhir (apakah celaka/shaqiy atau bahagia/sa'id

Penentu Akhir Hayat: Walaupun sudah dicatat, hadis ini juga menegaskan bahwa seseorang bisa saja melakukan amalan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal seampar hasta, namun takdir mendahuluinya lalu ia melakukan amalan ahli neraka, begitupun sebaliknya. Amal dinilai berdasarkan penutupannya (khawatim).

Bukan Berarti Pasrah: Ketetapan ini tidak berarti manusia hanya diam tanpa usaha, sebab ikhtiar, doa, dan perbuatan tetap menjadi bagian dari jalan takdir yang harus dijalani

Pertanyaan keempat, وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا, menegaskan bahwa manusia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Waharjani mengajak jemaah merenungi pentingnya perencanaan, seperti menyiapkan jadwal sekolah atau keberangkatan haji, namun tetap berserah diri pada kehendak Allah SWT. Ia menyebut keberangkatan 7.003 jemaah haji gelombang pertama ke Madinah baru-baru ini sebagai contoh ikhtiar yang disertai doa agar menjadi haji mabrur.

Jadi seseorang tidak tahu secara pasti apa amal, perbuatan, atau kejadian yang akan ia hadapi atau lakukan pada keesokan harinya, baik urusan dunia maupun akhirat. Manusia tetap harus berikhtiar, tetapi hasil dan kepastian takdir mutlak di tangan Allah Swt.

Terakhir, pertanyaan tentang tempat kematian, وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ, menegaskan bahwa hal ini merupakan bagian dari mafatihul ghaib (kunci-kunci perkara gaib) yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Dan semua yang disebutkan di atas, termasuk hal yang ghaib dan rahasia Allah SWT.

Tempat, waktu, dan cara kematian seseorang adalah rahasia Allah. Seseorang bisa saja merasa aman di negeri asalnya, namun takdir bisa membawanya wafat di tempat yang jauh yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.

Cerita  pengalaman di Gunung Kidul pada era Soeharto, ketika Menteri Ir. Sutami menginisiasi hujan buatan untuk mengatasi kemarau. Meski mendung berhasil diciptakan, angin dari Australia membawa hujan ke Yogyakarta, bukan Wonosari.

  • Sebagai makna dari pembahasani Adalah Kekuasaan Mutlak Allah SWT: Tempat kematian yang dirahasiakan menunjukkan bahwa ilmu manusia sangat terbatas dan seluruh ketentuan hidup-mati berada di tangan kekuasaan Allah SWT semata.
  • Kematian Datang Tanpa Pandang Tempat: Didukung pula oleh Surat an-Nisa ayat 78, kematian pasti akan menjumpai seseorang di mana pun ia berada, sekalipun ia bersembunyi di dalam benteng yang tinggi dan kokoh.
  • Motivasi Beramal: Karena tidak ada yang tahu kapan dan di bumi mana ajal menjemput, manusia dianjurkan untuk selalu menyiapkan bekal amal saleh agar senantiasa siap dan wafat dalam keadaan husnul khatimah

 

Tulisan ini tidak hanya memperkaya wawasan jemaah tentang makna Surah Luqman ayat 34, tetapi juga menginspirasi untuk menyeimbangkan ikhtiar dan tawakal.

 

“Manusia boleh berusaha, tapi Allah SWT yang menentukan. Yang terpenting, kita isi hidup dengan kebaikan agar siap menghadap-Nya kapan pun,”

Ayat penutup dari Surat Luqman ini menegaskan kesempurnaan ilmu dan kekuasaan Allah SWT sekaligus menunjukkan kelemahan dan keterbatasan manusia. Kesadaran ini semestinya membuat manusia, khususnya kita, untuk:

  • Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.
  • Tidak tertipu oleh kesenangan dunia yang melalaikan dari persiapan akhirat.
  • Memperbanyak amal saleh karena kematian dan hari pembalasan pasti datang

Itulah penjelasan Allah SWT. Dalam ayat tersebut, bahwa terdapat lima hal ghaib mutlak yang tidak diketahui oleh makhluk, termasuk para nabi dan malaikat, yatu;

Waktu terjadinya Kiamat

Waktu dan tempat turunnya hujan

Apa yang ada di dalam rahim (jenis kelamin, sifat, hingga takdir hidupnya)

Apa yang akan dikerjakan seseorang esok hari

Di bumi (atau tempat) mana seseorang akan meninggal dunia

 

MENYIKAPI RAHASIA ALLAH SWT DALAM AL QUR'AN  MENYIKAPI RAHASIA ALLAH SWT DALAM AL QUR'AN Reviewed by sangpencerah on Oktober 09, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar: