Cerita tentang peristiwa
di masa Rasulullah SAW.Seorang sahabat yang datang dari jauh dengan penuh
antusias akhirnya mendapat kesempatan menghadap Nabi. Setelah dipersilakan
duduk dengan isyarat tangan penuh kelembutan dari Rasulullah SAW, sahabat itu
langsung mengajukan lima pertanyaan berat:
“Ya Rasulullah,
kapan datangnya hari kiamat? Di kampung kami tanah sudah pecah-pecah karena
kemarau panjang, kapan hujan turun? Istri saya yang hamil tua, apakah bayinya
laki-laki atau perempuan? Apa yang saya kerjakan besok? Dan, saya tahu siapa
yang melahirkan saya, tapi di mana saya akan mati dan dikuburkan?”
Rasulullah, mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut,
terdiam sejenak. Saat itulah, malaikat Jibril datang membawa wahyu yang
kemudian termaktub dalam Surah Luqman ayat 34:
“Sesungguhnya hanya di sisi Allah sajalah pengetahuan
tentang hari kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada
dalam rahim. Dan tiada seorang pun
yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tiada seorang pun
yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
Penulis
menjelaskan bahwa pertanyaan pertama tentang hari kiamat dijawab langsung
dengan pernyataan bah wa hanya Allah SWT yang mengetahui waktunya: إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ. Ia mengisahkan pula dialog lain antara
Rasulullah SAW dan Jibril, di mana Nabi menggambarkan kedekatan masa kenabian
dengan hari kiamat seperti dua jari yang berdekatan.
“Kiamat ada dua:
kiamat kubra, yaitu hancurnya alam semesta, dan kiamat sugra, yaitu kematian
setiap makhluk,”
Pengetahuan
tentang kapan kiamat terjadi adalah mutlak hak Allah SWT. Manusia hanya
diberikan tanda-tanda atau rambu-rambunya saja, tetapi kepastian waktunya
dirahasiakan agar manusia selalu waspada dan beramal shaleh.
Penjelasan ini
mengingatkan kita semua agar tidak terjebak pada prediksi kiamat yang keliru,
seperti yang pernah terjadi di Malaysia pada 28 Februari 2005, ketika seseorang
memprediksi kiamat hingga menyebabkan kepanikan dan kerugian triliunan rupiah.
“Yang tahu hanya
Allah. Kiamat sugra, seperti kematian, memang dekat dan harus kita siapkan
dengan husnul khatimah,”
Pada pertanyaan kedua tentang hujan, mengutip وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ, menegaskan bahwa hanya Allah SWT yang menentukan turunnya hujan. Namun,
manusia dianugerahi akal untuk berikhtiar, seperti membuat hujan buatan dan lainnya itu hanya sebaai sebab
dan sarana saja.
Hanya Allah SWT yang mengetahui secara pasti kapan, di mana,
dan seberapa banyak air hujan akan turun. Walaupun teknologi modern saat ini
bisa memprediksi cuaca atau membuat hujan buatan, manusia tetap tidak tahu
hakikat mutlak dan takaran pastinya tanpa ketentuan Allah SWT.
Ia menceritakan pengalaman di Gunung Kidul pada era
Soeharto, ketika Menteri Ir. Sutami menginisiasi hujan buatan untuk mengatasi
kemarau. Meski mendung berhasil diciptakan, angin dari Australia membawa hujan
ke Yogyakarta, bukan Wonosari.
“Manusia wajib berusaha, tapi Allah yang menentukan
hasilnya,” katanya, seraya menyebut peran BMKG yang membantu masyarakat
mempersiapkan diri menghadapi cuaca.
Pertanyaan ketiga tentang jenis kelamin bayi, yang dijawab
dengan وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ,
mengingatkan bahwa pengetahuan tentang isi rahim hanya milik Allah. Meski
teknologi seperti USG atau prediksi dukun bayi bisa membantu, kebenarannya
tidak mutlak.
berbagi kisah dari erupsi Merapi 2010, ketika seorang ibu
melahirkan di tengah kepanikan. Bayi perempuan yang lahir diberi nama Siti
Volkanowati, terinspirasi dari abu vulkanik. “Nama bisa kita siapkan, tapi
Allah yang menentukan segalanya,” oleh karena itu, Allah mengetahui secara detail bukan
hanya jenis kelamin janin, tetapi juga sifat, rezeki, nasib, kecelakaan, hingga
apakah anak itu termasuk orang yang bahagia atau celaka. Alat USG atau
teknologi medis hanya mampu melihat bentuk fisik atau jenis kelamin luar, bukan
takdir hidup sang anak
Rasulullah SAW
bersabda bahwa penciptaan seseorang dikumpulkan dalam rahim ibunya selama 40
hari berupa nuthfah (sperm/zigot), lalu 40 hari berupa 'alaqah (segumpal
darah), dan 40 hari berikutnya berupa mudhgah (segumpal daging). Setelah
sempurna 120 hari (4 bulan), Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh dan
diperintahkan mencatat 4 ketetapan takdir:
- Rezeki (rizquh)
- Batas usia/Ajal (ajaluh)
- Amal perbuatan (amaluh)
- Nasib akhir (apakah celaka/shaqiy
atau bahagia/sa'id
Penentu Akhir Hayat: Walaupun sudah dicatat,
hadis ini juga menegaskan bahwa seseorang bisa saja melakukan amalan ahli surga
hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal seampar hasta, namun takdir
mendahuluinya lalu ia melakukan amalan ahli neraka, begitupun sebaliknya. Amal
dinilai berdasarkan penutupannya (khawatim).
Bukan Berarti Pasrah: Ketetapan ini tidak berarti
manusia hanya diam tanpa usaha, sebab ikhtiar, doa, dan perbuatan tetap menjadi
bagian dari jalan takdir yang harus dijalani
Pertanyaan keempat, وَمَا تَدْرِي
نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا, menegaskan bahwa manusia tidak tahu apa
yang akan terjadi esok hari. Waharjani mengajak jemaah merenungi pentingnya
perencanaan, seperti menyiapkan jadwal sekolah atau keberangkatan haji, namun
tetap berserah diri pada kehendak Allah SWT. Ia menyebut keberangkatan 7.003
jemaah haji gelombang pertama ke Madinah baru-baru ini sebagai contoh ikhtiar
yang disertai doa agar menjadi haji mabrur.
Jadi seseorang
tidak tahu secara pasti apa amal, perbuatan, atau kejadian yang akan ia hadapi
atau lakukan pada keesokan harinya, baik urusan dunia maupun akhirat. Manusia
tetap harus berikhtiar, tetapi hasil dan kepastian takdir mutlak di tangan Allah Swt.
Terakhir, pertanyaan tentang tempat kematian, وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ,
menegaskan bahwa hal ini merupakan
bagian dari mafatihul ghaib (kunci-kunci perkara gaib) yang hanya
diketahui oleh Allah SWT. Dan
semua yang disebutkan di atas, termasuk hal yang ghaib dan rahasia Allah SWT.
Tempat, waktu,
dan cara kematian seseorang adalah rahasia Allah. Seseorang bisa saja merasa
aman di negeri asalnya, namun takdir bisa membawanya wafat di tempat yang jauh
yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.
Cerita pengalaman di Gunung Kidul pada era Soeharto,
ketika Menteri Ir. Sutami menginisiasi hujan buatan untuk mengatasi kemarau. Meski
mendung berhasil diciptakan, angin dari Australia membawa hujan ke Yogyakarta,
bukan Wonosari.
- Sebagai
makna dari pembahasani Adalah Kekuasaan Mutlak Allah SWT: Tempat
kematian yang dirahasiakan menunjukkan bahwa ilmu manusia sangat terbatas
dan seluruh ketentuan hidup-mati berada di tangan kekuasaan Allah SWT semata.
- Kematian Datang Tanpa Pandang
Tempat:
Didukung pula oleh Surat an-Nisa ayat 78, kematian pasti akan menjumpai
seseorang di mana pun ia berada, sekalipun ia bersembunyi di dalam benteng
yang tinggi dan kokoh.
- Motivasi Beramal: Karena tidak ada yang tahu
kapan dan di bumi mana ajal menjemput, manusia dianjurkan untuk selalu
menyiapkan bekal amal saleh agar senantiasa siap dan wafat dalam keadaan husnul
khatimah
Tulisan ini tidak hanya memperkaya wawasan jemaah tentang
makna Surah Luqman ayat 34, tetapi juga menginspirasi untuk menyeimbangkan
ikhtiar dan tawakal.
“Manusia boleh
berusaha, tapi Allah SWT yang menentukan. Yang terpenting, kita isi hidup
dengan kebaikan agar siap menghadap-Nya kapan pun,”
Ayat penutup dari
Surat Luqman ini menegaskan kesempurnaan ilmu dan kekuasaan Allah SWT
sekaligus menunjukkan kelemahan dan keterbatasan manusia. Kesadaran ini semestinya membuat
manusia, khususnya kita, untuk:
- Meningkatkan keimanan dan ketakwaan
kepada Allah Swt.
- Tidak tertipu oleh kesenangan dunia
yang melalaikan dari persiapan akhirat.
- Memperbanyak amal saleh karena
kematian dan hari pembalasan pasti datang
Itulah penjelasan
Allah SWT. Dalam ayat tersebut, bahwa terdapat lima hal ghaib mutlak yang tidak
diketahui oleh makhluk, termasuk para nabi dan malaikat, yatu;
Waktu terjadinya Kiamat
Waktu dan tempat turunnya hujan
Apa yang ada di dalam rahim (jenis kelamin, sifat, hingga takdir hidupnya)
Apa yang akan dikerjakan seseorang esok hari
Di bumi (atau tempat) mana seseorang akan meninggal dunia
Reviewed by sangpencerah
on
Oktober 09, 2026
Rating:





Tidak ada komentar: