Tafsir QS Adh-Dhuha, ayat 1-4 Ibnu Katsir
وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا
سَجَى (2) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (3) وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ
الْأُولَى (4
Demi waktu matahari yang sepenggalah naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan.
Imam Ahmad mengatakan, telah
menceritakan kepada kami Abu Na'im, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari
Al-Aswad ibnu Qais yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Jundub
menceritakan bahwa Nabi SAW. mengalami sakit selama satu atau dua malam hingga
beliau tidak melakukan qiyamul lail. Maka datanglah kepadanya seorang wanita
dan berkata, "Hai Muhammad, menurut hematku setanmu itu tiada lain telah
meninggalkanmu," maksudnya malaikat yang membawa wahyu kepadanya. Maka
Allah SWT. menurunkan firman-Nya: Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan
demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada
(pula) benci kepadamu. (Adh-Dhuha: 1-3)
Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam
Turmuzi, Imam Nasai, Imam Ibnu Abu Hatim, dan Imam Ibnu Jarir telah
meriwayatkan hadis ini melalui berbagai jalur dari Al-Aswad ibnu Qais, dari
Jundub ibnu Abdullah Al-Bajali yang juga dikenal pula dengan Al-Alaqi dengan sanad
yang sama. Menurut riwayat Sufyan ibnu Uyaynah, dari Al-Aswad ibnu Qais,
disebutkan bahwa ia pernah mendengar Jundub mengatakan bahwa Malaikat Jibril
datang terlambat kepada Rasulullah SAW., maka orang-orang musyik mengatakan,
"Muhammad ditinggalkan oleh Tuhannya." Maka Allah menurunkan
firman-Nya: Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi malam apabila
telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.
(Adh-Dhuha: 1-3)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah
menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj dan Amr ibnu Abdullah Al-Audi,
keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah
menceritakan kepadaku Sufyan, telah menceritakan kepadaku Al-Aswad ibnu Qais;
ia pernah mendengar Jundub mengatakan bahwa Rasulullah SAW. pernah dilempar
dengan batu hingga mengenai jari tangannya sampai berdarah, maka beliau
mengucapkan kalimat berikut: Tiadalah engkau selain dari jari tangan yang
berdarah, di jalan Allah padahal engkau mengalaminya.
Lalu Rasulullah SAW. tinggal
selama dua atau tiga malam tanpa mengerjakan qiyamul lail (salat sunat malam
hari). Maka ada seorang wanita (musyrik) yang berkata kepadanya,
"Menurutku tiada lain setanmu telah meninggalkanmu." Maka turunlah
firman Allah SWT.: Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi malam
apabila telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci
kepadamu. (Adh-Dhuha: 1-3)
Menurut konteks hadis yang ada
pada Abu Sa'id, suatu pendapat mengatakan bahwa wanita tersebut adalah Jamil,
istri Abu Lahab. Disebutkan pula bahwa jari tangan beliau SAW. terluka. Dan
mengenai sabdaNabi SAW. di atas bertepatan dengan wazan syair telah disebutkan
di dalam kitab Sahihain. Akan tetapi, hal yang aneh dalam hadis ini ialah luka
di ibu jari itu menjadi penyebab beliau SAW. meninggalkan qiyamul lailnya dan
juga menjadi turunnya surat ini.
Adapun menurut apa yang telah
diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abusy
Syawarib, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid ibnu Ziyad, telah
menceritaka'n kepada kami Sulaiman Asy-Syaibani, dari Abdullah ibnu Syaddad,
bahwa Siti Khadijah berkata kepada Nabi SAW., "Menurut hemat saya, Tuhanmu
telah meninggalkan kamu." Maka Allah SWT. menurunkan firman-Nya: Demi
waktu matahari sepenggalah naik, dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu
tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. (Adh-Dhuha: 1-3)
Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa
telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami
Waki', dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Malaikat
Jibril datang terlambat kepada Nabi SAW. Maka nabi SAW. merasa sangat gelisah
karenanya, lalu Siti Khadijah mengatakan, "Sesungguhnya aku melihat
Tuhanmu telah meninggalkan kamu, karena aku melihat kegelisahanmu yang
berat." Urwah melanjutkan kisahnya, bahwa maka turunlah firman Allah SWT.:
Demi waktu matahari sepenggalah naik dan demi malam apabila telah sunyi.
Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.
(Adh-Dhuha: 1-3) hingga akhir surat.
Maka sesungguhnya hadis ini
berpredikat mursal dari kedua jalur tersebut. Barangkali penyebutan Khadijah
bukanlah berdasarkan hafalan, atau memang dia terlibat dan mengatakannya dengan
nada menyesal dan bersedih hati; hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.
Sebagian ulama Salaf —antara lain
Ibnu Ishaq— menyebutkan, bahwa surat inilah yang disampaikan oleh Jibril a.s.
kepada Nabi SAW. ketika Jibril a.s. menampakkan rupa aslinya kepada Nabi SAW.
dan datang mendekatinya, lalu turun menuju kepada beliau SAW. yang saat itu
beliau sedang berada di Lembah Abtah, seperti yang disebutkan firman-Nya: Lalu
dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.
(An-Najm: 10)
Ibnu Ishaq mengatakan bahwa saat
itulah Jibril menyampaikan kepada Rasulullah SAW. surat ini yang diawali oleh
firman-Nya: Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi malam apabila
telah sunyi. (Adh-Dhuha: 1 -2)
Al-Aufi telah meriwayatkan dari
Ibnu Abbas, bahwa setelah diturunkan kepada Nabi SAW. permulaan wahyu
Al-Qur'an, maka Jibril datang terlambat beberapa hari dari Nabi SAW. sehingga
roman muka beliau SAW. berubah sedih karenanya. Dan orang-orang musyrik
mengatakan, "Dia telah ditinggalkan oleh Tuhannya dan dibenci."
Maka Allah SWT. menurunkan firman Allah SWT.: Tuhanmu tiada meninggalkan
kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. (Adh-Dhuha: 3) Ini merupakan sumpah
dari Allah SWT. dengan menyebut waktu duha dan cahaya yang Dia ciptakan
padanya.
وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى
dan demi malam apabila telah
sunyi. (Adh-Dhuha: 2)
Yakni bila telah tenang dan gelap
gulita. Demikianlah menurut Mujahid, Qatadah, Ad-Dahhak, Ibnu Zaid, dan
lain-lainnya. Hal ini menunjukkan akan kekuasaan Tuhan Yang Maha Pencipta, dan
merupakan bukti yang jelas lagi gamblang. Makna ini sama dengan apa yang
disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى
وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى
Demi malam apabila menutupi
(cahaya siang), dan siang apabila terang benderang. (Al-Lail: 1-2)
Juga sama dengan firman Allah SWT.:
فالِقُ الْإِصْباحِ وَجَعَلَ
اللَّيْلَ سَكَناً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْباناً ذلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ
الْعَلِيمِ
Dia menyingsingkan pagi dan
menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk
perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.
(Al-An'am: 96)
Adapun firman Allah SWT.:
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ
Tuhanmu tiada meninggalkan
kamu. (Adh-Dhuha: 3)
Artinya, Dia tidak
meninggalkanmu.
وَمَا قَلَى
dan tiada (pula) benci
kepadamu. (Adh-Dhuha: 3)
Yakni Dia tidak murka kepadamu.
وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ
الأولَى
dan sesungguhnya akhir itu
lebih baik bagimu daripada permulaan. (Adh-Dhuha: 4)
Sesungguhnya negeri akhirat itu
lebih baik bagimu daripada negeri ini (dunia). Karena itu, Rasulullah SAW.
adalah orang yang paling zuhud terhadap perkara dunia dan paling menjauhinya
serta paling tidak menyukainya, sebagaimana yang telah dimaklumi dari
perjalanan hidup beliau SAW. ketika Nabi SAW. disuruh memilih di usia senjanya
antara hidup kekal di dunia sampai akhir usia dunia —kemudian ke surga— dan
antara kembali ke sisi Allah SWT. Maka beliau SAW. memilih apa yang ada di sisi
Allah daripada dunia yang rendah ini.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ، حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ
إِبْرَاهِيمَ النَّخعِي، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ -هُوَ ابْنُ
مَسْعُودٍ-قَالَ: اضْطَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَلَى حَصِيرٍ، فَأَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ جَعَلْتُ أَمْسَحُ
جَنْبَهُ وَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا آذَنْتَنَا حَتَّى نَبْسُطَ لَكَ
عَلَى الْحَصِيرِ شَيْئًا؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"ما لِي وَلِلدُّنْيَا؟! مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟! إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ
الدُّنْيَا كَرَاكِبٍ ظَلّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ راح وتركتها
Imam Ahmad mengatakan, telah
menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Al-Mas'udi, dari
Amr ibnu Murrah, dari Ibrahim An-Nakha'i, dari Alqamah, dari Abdullah ibnu
Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW. berbaring di atas hamparan tikar
sehingga anyaman tikar yang kasar itu membekas di lambungnya. Ketika beliau
bangkit dari berbaringnya, maka aku (Ibnu Mas'ud) mengusap lambung beliau dan
kukatakan kepadanya, "Wahai Rasulullah, izinkanlah kepada kami untuk
menggelarkan kasur di atas tikarmu." Maka Rasulullah SAW. menjawab: Apakah
hubungannya antara aku dan dunia, sesungguhnya perumpamaan antara aku dan dunia
tiada lain bagaikan seorang musafir yang berteduh di bawah naungan sebuah
pohon, kemudian dia pergi meninggalkannya.
Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Majah
meriwayatkannya melalui hadis Al-Mas'udi, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa
hadis ini kalau tidak hasan berarti sahih.
Reviewed by sangpencerah
on
Agustus 22, 2026
Rating:





Tidak ada komentar: