(Pasca Ramadhan)
Tim Redaksi MPID PDM Kota Malang
Setelah kita menjalani puasa 1 bulan penuh, maka selanjutnya kita berharap
dan berdo’a agar ibadah dan amal shaleh yang telah kita lakukan dapat
diterima dan menjadi bekal saat nanti
kita menghadapkepada Allah SWT. Jangan sampai terjadi sebuah distorsi amal
manusia yaitu banyak beibadah dan beramal tapi kosong dari nilai di akhirat,
karena itulah maka ada sebutan orang muflis dalam beribadah dan beramal.
Sebagaimana hadit riwayat Muslim dann
Ahmad.
Dari
Abu Hurairah Rasulullah bersabda: “Tahukah Kalian, siapakah muflis (orang
yang bangkrut) itu?” Para sahabat menjawab: “Di kalangan kami, muflis itu
adalah seorang yang tidak mempunyai dirham dan harta benda”. Nabi
bersabda: ‘Muflis di
antara umatku itu ialah seseorang yang kelak di Hari Kiamat datang lengkap
dengan membawa pahala ibadah shalatnya, ibadah puasanya dan ibadah
zakatnya.
Di
samping itu dia juga membawa dosa berupa makian pada orang ini, menuduh yang
ini, menumpahkan darah yang ini serta menyiksa yang ini. Lalu diberikanlah pada
yang ini sebagian pahala kebaikannya, juga pada yang lain.
Sewaktu
kebaikannya sudah habis padahal dosa belum terselesaikan, maka diambillah
dosa-dosa mereka itu semua dan ditimpakan kepada dirinya. Kemudian dia
dihempaskan ke dalam neraka. (HR Muslim, Ahmad, dan lain-lain).
Muflis
Muflis
dari akar kata aflasa yuflisu yang didefinisikan dengan khasira tijaaratahu yakni
rugi perniagaannya atau bisnisnya. Maka muflis yang berbentuk isim fa’il bermakna
orang yang rugi bisnisnya atau bangkrut. Tetapi dalam definisi hadits di
atas, sebagaimana jawaban para shahabat, yaitu man laa dirhama lahu wala
mataa’a atau orang yang tidak memiliki dirham (mata uang) dan
harta benda lainnya. Maka Rasulullah SAW memberikan penjelasan tentang
hakikat muflis itu
bagi kehidupan umat manusia ini.
Tidak
ada seorang pun dalam hidup ini yang ingin bangkrut. Dalam setiap aktivitas
yang dilakukannya pasti yang ada di benaknya adalah keuntungan dan keuntungan.
Bahkan ada pula yang berprinsip dengan modal seminim-minimnya tapi dapat untung
yang sebesar-besarnya.
Ada pula yang cukup ingin untung kecil-kecilan tapi berlangsung secara
terus-menerus atau lumintu (bahasa Jawa). Maka dapat dipastikan
bahwa semuanya ingin mendapatkan keuntungan dari apa yang dilakukannya.
Rela sama Rela
Maka profit oriented menjadi
bagian yang tak terpisahkan dari para pebisnis. Hal ini tentu tidak masalah
sepanjang bisnis yang dilakukannya tidak terdapat unsur tipu-menipu di
dalamnya, baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Semua harus dijalankan
secara tranparan sehingga benar-benar menghasilkan akad rela sama rela.(QS.
an-Nisa’;4: 29)
Ayat
di atas menjadi hujjah bahwa bisnis tidak boleh ada unsur
penipuan dan juga harus dilaksanakan dengan landasan suka sama suka tanpa ada
unsur paksaan. Termasuk di dalam ayat tersebut adalah larangan untuk bunuh diri
karena tidak kuatnya terhadap tekanan kehidupan yang semakin kuat. Yang
dimaksud bunuh diri adalah ketika seorang Muslim sudah tidak lagi mengindahkan
hukum Allah SWT dalam berbisnis, dengan prinsip asal dapat. Allah Maha
Penyayang kepada semua hamba-Nya.
Akan
tetapi jika terjadi kegagalan atau bahkan berakibat bangkrut dalam bisnis maka
hal itu adalah ujian yang harus siap diterimanya. Di samping itu haruslah
selalu introspeksi diri terhadap kegagalannya tersebut untuk berbenah lebih
baik lagi. Bukankah kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda! Itu artinya
kegagalan merupakan pelajaran yang sangat berharga dan ilmu yang sangat mahal
yang tidak dapat dirasakan oleh orang lain kecuali dirinya sendiri. Dan dari
kegagalan itulah akan menjadikan lebih berpengalaman. Dan dari pengalaman
itulah kita lebih mudah untuk meraih keberhasilan. Sehingga ada pepatah experience
is the best teacher, bahwa pengalaman itu adalah guru yang sangat berharga.
Maka
jika sebagai pengusaha Muslim orientasi hidup kita adalah tetap berkomitmen
atau tetap bermisi keumatan, yaitu dalam rangka menopang kegiatan dakwah demi
kepentingan kualitas umat ini. Justru sangat berbahagialah bagi mereka yang
diamanahi harta kemudian ia dapat menggunakannya di jalan Allah SWT, karena
jika tidak demikian justru di akhirat akan menjadi bahan bakar bagi pemiliknya
sendiri.
Kebangkrutan
di dunia merupakan hal yang harus dihindari dengan menajemen usaha yang baik.
Tetapi jika hal itu benar-benar terjadi pastilah ada kesalahan yang bisa jadi
merupakan bentuk teguran dari Allah Swt untuk kemudian kita diperintahkan
instropeksi diri.
Bangkrut di Akhirat
Tetapi
yang wajib kita hindari adalah kebangkrutan di akhirat nantinya. Karena bagi
yang mengalami kebangkrutan di akhirat sungguh sangatlah merugi dan akan
mengalami penyesalan terus-menerus. Sedangkan jika bangkrut di dunia masih ada
kesempatan untuk memperbaikinya. Maka kewaspadaan terhadap terjadinya
kebangkrutan di akhirat haruslah menjadi perhatian utama.
Apa
yang digambarkan dalam hadits di atas sungguh sangat menyentakkan jiwa.
Bagaimana tidak, seseorang yang senantiasa melakukan berbagai macam ibadah
termasuk shalat, puasa dan zakat, tetapi semua itu akhirnya tidak bernilai dan
bermanfaat secara langsung kepada diri sendiri. Hal ini disebabkan karena
kita tidak dapat menjaga hubungan baik dengan sesama. Sehingga ibadah tersebut
tidak berdampak positif secara maksimal. Dan jika telah demikian maka jadilah
kebangkrutan tersebut. Dan sungguh kebangkrutan di dunia saja sudah sedemikian
menyedihkan dan menimbulkan penyesalan yang luar biasa, apalagi jika ini
terjadi di akhirat. Na’udzubillah min dzalik!
Seimbang Vertikal dan Horizontal
Maka
hubungan baik manusia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala lewat ibadah mahdhah, belumlah
memberikan jaminan bahwa pelakunya dipastikan akan mendapatkan kebahagiaan di
akhirat kelak. Hal ini tentu harus diimbangi pula dengan hubungan baik dengan
sesama manusia. Sehingga hablumminallah dan hablumminannaas adalah satu
kesatuan yang harus senantiasa dijaga dengan sebaik-baiknya.
Lebih
menyedihkan lagi jika seorang hamba tidak dapat menjaga dengan baik
ibadah mahdhah-nya
tersebut, sementara hubungan sesama manusia juga sama buruknya. Pasti yang akan
dideritanya kelak adalah semakin banyaknya kerugian atau dosa orang lain yang
akan dipikulnya, sebagai ganti kedhaliman yang dilakukannya kepada orang lain.
Ibadah
shalat, puasa, zakat, dan bahkan ibadah haji memang memberikan pahala besar di
sisi Allah Subhanahu wa Taala. Tetapi sebagaimana hadits di atas, kelak
di yaumul
hisabatau hari perhitungan, dikarenakan kesalahan menyakiti hati
orang lain menyebabkan pahala dari ibadah-ibadah tersebut habis untuk diberikan
kepada orang-orang yang telah didhaliminya tersebut. Sehingga yang ada tinggal
dosa-dosa tanpa pahala sedikit pun, maka inilah yang menyebabkan ia akan
dilemparkan ke dalam neraka.
Sungguh
kehidupan dunia yang begitu indah ini sangatlah merugi jika kita tidak dapat
meraih surga nantinya. Maka kesempatan ini haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya
dan jangan di sia-siakan. Berbuat yang terbaik dengan seluruh potensi yang
Allah SWT anugrahkan kepada kita merupakan keniscayaan. Sehingga doa yang kita
panjatkan untuk mendapatkan bahagia dunia akhirat benar-benar harapan yang
dapat menjadi kenyataan.
Keadilan Ditegakkan
Allah
Subhanahu wa Taala menegakkan keadilan bagi siapa saja tanpa kecuali. Siapa
saja yang pernah dizalimi di dunia pasti nantinya akan dihadirkan untuk
ditegakkannya keadilan tersebut. Sehingga tidak ada lagi seorang pun yang masih
merasa terdhalimi di akhirat nantinya. Semua akan merasakan keadilan yang
sebenar-benarnya. Baik mereka yang beriman ataupun yang kafir kepada Allah.
Sehingga dengan perhitungan dan keadilan tersebut, setiap manusia akan
menyadari akan tanggung jawab dari apa yang telah dilakukannya sewaktu di
dunia. Dan termasuk pula adalah konsekwensi yang harus diterima dari
perbuatannya tersebut yakni apakah akan dimasukkan ke dalam syurga atau neraka.
Maka
kesadaran akan hal ini mestinya tetap menjadi perhatian utama bagi setiap
hamba. Sehingga nantinya tidak terjadi suatu penyesalan karena sikap dan sifat
yang tidak semestinya sewaktu hidup di dunia yang sangat fana’ ini (*)
Reviewed by sangpencerah
on
Maret 27, 2026
Rating:





Tidak ada komentar: