MENGGAPAI MALAM QADAR -1

 MENGGAPAI MALAM QADAR -1

Oleh. Ust .Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA,

Ketua PC Muhammadiyah Syah Kuala Banda Aceh





 

Di antara keutamaan bulan Ramadhan yaitu adanya malam Lailatul Qadar. Pada bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang paling berkah dan mulia yang dinamakan Lailatul Qadar. Pada malam inilah diturunkan Al-Qur’an.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadr. Dan tahukah kamu apakah malam Qadr itu? Malam qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.” (Al-Qadr: 1-5).

Allah Ta’ala juga berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhan: 3-4).

 

Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir –rahimahullah– dan para ulama tafsir lainnya menjelaskan makna “malam yang diberkahi” dalam ayat di atas adalah malam Lailatul Qadar.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya bulan yang penuh berkah telah datang kepada kalian. Allah Ta’ala mewajibkan kalian puasa padanya. Di bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para syaitan diikat. Padanya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa dihalangi kebaikannya, maka ia benar-benar telah dihalangi (sangat rugi).” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).

Malam Lailatul Qadar itu hanya ada pada bulan Ramadhan, tidak ada pada bulan lainnya. Ini menunjukkan keutamaan bulan Ramadhan.

 

Allah Ta’ala berfirman, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (Al-Baqarah: 185).

Berdasarkan ayat-ayat di atas, maka jelaslah bahwa Al-Qur’an itu diturunkan di bulan Ramadhan tepatnya pada malam Lailatul Qadar. Dan sebagaimana dimaklumi, malam Lailatul Qadar ini hanya terdapat pada malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan dalam kitabnya Fathul Bari mengenai munasabah (kesesuaian atau hubungan) judul bab keutamaan Lailatul Qadar dengan firman Allah Ta’ala surat Al-Qadr ayat 1-5, beliau berkata, “Munasabah firman Allah SWT tersebut dengan judul bab adalah dari segi bahwa turunnya Al-Qur’an pada suatu waktu menunjukkan secara pasti keutamaan waktu itu. Dan dhamir (kata ganti) dalam firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Kami menurunkannya” untuk Al-Qur’an, berdasarkan firman-Nya, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an…” (Al-Baqarah: 185), dan di antara keutamaan Lailatul Qadar yang dikandung oleh surat (Al-Qadr) adalah turunnya para malaikat padanya (malam tersebut).”(Fathul Bari: 4/323).

 

Makna Lailatul Qadar

Para Ulama berbeda pendapat mengenai makna Lailatul Qadar. Menurut sebagian ulama, makna Lailatul Qadar adalah malam kemuliaan. Dinamakannya dengan malam kemuliaan karena keagungan kedudukan, kemuliaan dan ketinggian malam ini di sisi Allah Ta’ala. Karena Dia menurunkan Al-Qur’an yang memiliki kemuliaan, dengan perantara malaikat yang memiliki kemuliaan, atas umat yang memiliki kemuliaan. Maka umat Islam menjadi mulia dan mempunyai kedudukan yang tinggi dengan turun Al-Qur’an.

Maka datangnya malam Lailatul Qadar pada setiap tahun untuk mengingatkan umat Islam bahwa jika umat ingin kemuliaan dan kedudukan yang tinggi, maka umat wajib kembali kepada Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai manhaj (pedoman hidup).

 

Sebagian ulama lain berpendapat bahwa maknanya adalah malam ketetapan. Dinamakan malam Lailatul Qadar dengan malam ketetapan karena pada malam ini semua amalan manusia dan lainnya selama setahun ditetapkan berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. ” (Ad-Dukhan: 3-4).

Ibnu Qutaibah berkata, “Makna al-qadr adalah al-qadar (ketetapan). Maka makna Lailatul Qadar adalah malam yang ditetapkan hukum-hukum (ketetapan-ketetapan) Allah Ta’ala dalam setahun.

Ada juga yang berpendapat al-qadar itu bermakna adh-dhaiq berarti sempit. Maka makna malam Lailatul Qadar adalah malam yang sempit. Maksudnya malam yang bumi menjadi sempit dengan turunnya para malaikat. Makna ini diperkuat dengan ayat, “Namun, apabila Tuhan mengujinya, lalu membatasi rezkinya,” (Al-Fajr: 16).

Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Para ulama berbeda pendapat dalam maksud Al-Qadar yang disandarkan kepada Lailah (malam). Ada ulama yang berpendapat maksudnya at-ta’zhim (pengagungan) sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Mereka tidak mengagungkan Allah Ta’ala sebagaimana mestinya…” (Al-An’am: 91). Maknanya adalah malam yang mempunyai keagungan karena padanya turun Al-Qur’an, atau karena padanya terjadi turunnya para malaikat, atau karena padanya turun keberkahan, rahmat dan maghfirah, atau apa yang dihidupkan padanya menjadi mulia. Ada juga ulama yang berpendapat maknanya at-tadhyiq (penyempitan), sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan orang yang terbatas rezkinya” (Ath-Thalaq: 7). Makna ath-thadyiq padanya (malam ini) adalah tersebunyinya malam ini dari pengetahuan secara pastinya, atau karena dunia sempit padanya dengan para malaikat. Ada juga yang berpendapat bahwa al-qadar disini dengan fahah dal yang bermakna sama dengan al-qadha’ (ketetapan). Maknanya pada malam ini ditetapkan hukum-hukum tahun itu sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhan: 4). Dengan inilah imam An-Nawawi memulai perkataannya, ia berkata, “Para ulama telah berkata, dinamakan Lailatul Qadar karena para malaikat menulis ketetapan-ketetapan sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh.” (Ad-Dukhan: 4). Dan diriwayatkan dengan makna ini oleh Abdurrazaq dan lainnya dari para ulama tafsir dengan sanad-sanad yang shahih dari Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan lainnya.” (Fathul Bari: 4/324).

Syaikh Al-U’tsaimin berkata, “Dinamakan malam Lallatul Qadar karena dua segi: Pertama, karena pada malam itu amalan-amalan manusia dan lainnya dalam setahun ditetapkan. Dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh. ” (Ad-Dukhan: 3-4). Yakni dirinci dan dijelaskan. Kedua; kemuliaan itu – yakni Lailatul Qadar berarti malam yang memilik kemuliaan, karena kedudukannya sangat agung. Hal itu ditunjukkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar. Tahukah kamu apa malam Lailatul Qadr itu? Malam lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (Al-Qadr: 1-3). (Syarhu Riyadhish Shalihin: 5/221-222)

 

 

Anjuran Mencari Malam Lailatul Qadar

Malam Lailatul Qadar itu disediakan oleh Allah Ta’ala di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahih.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Beliau bersabda, “Carilah oleh kalian Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang terakhir di bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Carilah oleh kalian Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya para sahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– melihat Lailatul Qadar dalam mimpi pada tujuh malam terakhir, maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Aku lihat mimpi kalian sepakat dalam tujuh malam yang terakhir, maka barangsiapa yang benar-benar mencarinya, hendaknya mencarinya pada tujuh malam yang terakhir.” (Muttafaq ‘alaih).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ia bersabda, “Carilah oleh kalian sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Jika salah seorang dari kalian lemah maka janganlah ia meninggalkan tujuh malam terakhir.” (HR..Muslim)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, saya bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bila aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang aku ucapkan?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni. (Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memberi maaf, maka maafkanlah aku).

Inilah amalan-amalan yang sangat dianjurkan pada malam Ramadhan khususnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar.

Maka, mari kita bersemangat dan bersungguh-sungguh melakukan ibadah dan amal shalih tersebut pada sepuluh malam terakhir sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Semoga ibadah dan amal shalih kita diterima oleh Allah Ta’ala dan semoga kita mendapatkan malam Lailatul Qadar. Aamin..!!

 

Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk mencari malam Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan bersungguh-bersungguh dalam beribadah dan melakukan itikaf (berdiam diri di masjid untuk beribadah dengan maksimal) pada sepuluh malam ini sesuai dengan sunnah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam–.Tujuannya, untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar.

 



 



 

 

MENGGAPAI MALAM QADAR -1 MENGGAPAI MALAM QADAR -1 Reviewed by sangpencerah on Maret 13, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar: