Perjalanan Isra’ Mi’raj
Nabi Muhammad saw. adalah peristiwa yang tidak ada habisnya untuk dipelajari
dan diambil ibrah dari peristiwa agung itu, karena peristiwa ini terjadi di
luar jangkaun nalar manusia. Karena itu banyak dari kalangan kaum muslimin yang
masih mempermasalahkan peristiwa tersebut.
Dalam perjalanan peristiwa
isra’ mi’raj tersebut, menurut penuturan Sayyid Alawiy al-Maliki, dialami oleh
Rasulullah SAW dalam keadaan nyata dan dengan kesadaran penuh, pada malam itu
ruh dan jasad Rasulullah SAW menuju Sidratulmuntaha menghadap Allah SWT. Karena
ada sebagain ulama’ tafsir menjelaskan bahwa yang menghadap Allah adalah ruh
saja, tanpa jasad. Hal inilah yang menjadi polemik setiap tahunnya, khusus
bulan Rajab bagi yang meyakini isra’ mi’raj itu terjadi di bulan tersebut.
Pemahaman ini ruh (mimpi)
berdasar pada ayat 60 surat al-Isra’; "Dan (ingatlah), ketika Kami perlihatkan kepadamu (Musa),
penglihatan yang telah Kami jadikan perlihatan kepadamu itu, melainkan sebagai
cobaan bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang
terkutuk dalam Al-Qur'an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang
demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka." (Tafsir:
Penglihatan yang dimaksud adalah peristiwa Isra' Mi'raj yang terjadi
saat Nabi SAW sadar, bukan tidur/mimpi, sebagai ujian iman)
Sedangkan yang
berkeyakinan bahwa Rasulullah SW menghadap Allah SWT secara utuh (jasad dan
ruh) terdapat beberapa beberapa hujah untuk mendukung pernyataan ini,
pertama; firman Allah SWT:
“Mahasuci (Allah) yang
telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari.”
Kata abdun
memiliki makna hakikat ruh dan jasad. Artinya secara tegas Al-Qur’an menyatakan
bahwa Allah SWT. membawa jasad dan ruh Rasulullah SAW pada malam Isra’ mi’raj.
Kedua; firman Allah SWT.:
“Pengelihatan (Nabi
Muhammad SAW) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya).”
Pada ayat ini Allah SWT.
menegaskan bahwa Rasulullah SAW melihat secara nyata apa yang ditampakkan Allah
SWT saat Isra’ Mi’raj, misalnya melihat surga, neraka dan yang lainnya. Kata bashar
menegaskan bahwa Rasulullah SAW melihat semua itu dengan kedua mata kepala
beliau secara nyata dan nampak.
Ketiga; firman Allah SWT.:
“Sungguh, dia benar-benar
telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar.”
Pada ayat tersebut Allah SWT.
menegaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj adalah sebuah mukjizat kenabian.
Seumpama peristiwa tersebut dialami oleh Rasulullah SAW. lewat mimpi, maka
tidak pantas dianggap sebagai mukjizat, juga tidak akan membuat orang-orang
Arab yang mendengar Rasulullah SAW. sangat ingkar bahkan ada sebagian yang
sampai murtad. Dengan demikian maka peristiwa isra’ mi’raj ini dikenal juga
dengan sebutan ujian keimanan pada saat itu.
Sayyid Alawi al-Maliki
dalam al-Anwar al-Bahiyyah menjelaskan:
“Seandainya hanya mimpi,
tentu tidak pantas jadi mukjizat yang menyalahi kebiasaan dan membuktikan
kejujuran nabi, meskipun mimpi para nabi merupakan wahyu. Sebab, mimpi tidak
sejelas dan seaneh peristiwa yang ada dalam keadaan terjaga.”
“Selain itu, jika hanya
mimpi, niscaya orang kafir tidak akan ingkar, mendustakan, dan tidak pula orang
yang lemah imannya menjadi murtad dan terguncang, karena peristiwa semacam itu
sangat aneh dan terjadi pada masa yang sangat sulit diterima secara logika,
tapi jika hanya mimpi hal seperti ini biasanya tidak diingkari.”
“Justru pendustaan, pengingkaran, dan
kemurtadan mereka merupakan bukti paling kuat bahwa Mi’raj junjungan kita Nabi
Muhammad SAW. adalah berita yang beliau sampaikan tentang perjalanan yang
nyata, secara fisik, dalam keadaan terjaga sepenuhnya, yang tidak ada keraguan
di dalamnya.”
Salah satu mukjizat dalam
Isra’ Mi’raj adalah bagaimana Rasulullah SAW diperlihatkan keadaan penghuni
surga dan neraka di masa depan. Bagaimana keadaan Khutoba’ al-Fitnah (orator
fitnah), mereka yang tidak mengerjakan apa yang mereka katakan, dipotong lidah
dan bibir mereka dengan gunting yang membara api dan para penghuni neraka yang
lain.
Dalam sebuah hadis
riwayat Imam Tirmidzi disebutkan:
“Dari Anas r.a., ia berkata: Rasulullah SAW.
bersabda: ‘Pada malam aku diisrakan, aku melewati suatu kaum yang bibir-bibir
mereka digunting dengan gunting dari api. Maka aku bertanya: Wahai Jibril,
siapakah mereka ini? Jibril menjawab: Mereka adalah para penceramah dari umatmu
yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan.’”
Cerita tersebut tentu
menjadi pengingat bagi siapa saja yang ucapannya tidak sesuai dengan
tindakannya, memerintah orang lain shalat, malah dirinya sendiri tidak shalat,
melarang orang lain mencuri, malah dirinya sendiri sering mengambil hak orang
lain secara zalim.
Akan tetapi peringatan
ini tidak sepenuhnya mutlak, menunggu menjadi sempurna untuk menyampaikan
kebaikan hanya akan menunda kebaikan itu sampai kepada orang lain.
Menurut al-Baijuri,
ucapan dan perbuatan adalah dua ketaatan yang berbeda, artinya jika seseorang
tahu bahwa shalat wajib, maka dia memiliki dua kewajiban, pertama: menjalankan
shalat, kedua: menyampaikan pemahaman bahwa shalat itu hukumnya wajib kepada
orang yang belum tahu.
Simak penjelasan
al-Baijuri terkait permasalahan ini:
“Dan secara lahiriah, perkataan pengarang
menunjukkan bahwa istigfar itu berasal dari perbuatan tanpa amal. Dikuatkan
sebagian ulama bahwa yang langsung dipahami dari perintah dan larangan adalah
yang memerintah melaksanakan apa yang ia perintahkan, yang melarang
meninggalkan apa yang ia larang. Jika kenyataannya tidak demikian, maka
perintah dan larangannya menjadi riya dan kemunafikan, sehingga perlu
diistigfari.”
“Sebagian ulama memandang bahwa istigfar itu
tertuju hanya pada unsur pembatasnya, yaitu tidak
mengamalkan. Sebab,
perkataan itu sendiri adalah ketaatan, sehingga tidak perlu dimintakan ampunan,
sedangkan tidak mengamalkan adalah meninggalkan ketaatan, maka hal itu perlu
istighfar.”
“Pendapat ini sesuai dengan mazhab
Ahlussunnah, bahwa amar makruf dan nahi mungkar tidak disyaratkan harus
dibarengi dengan pengamalan pelakunya. Karena meninggalkan amar dan nahi adalah
satu kemaksiatan, dan tidak mengamalkan adalah kemaksiatan yang lain. Sedangkan
mengurangi kemaksiatan semampunya adalah tuntutan syariat.”
“Oleh karena itu, mereka
mengatakan: wajib bagi pengelola tempat minum keras untuk mengingkari para
peminumnya, dan wajib bagi seorang laki-laki yang berzina dengan seorang
perempuan untuk memerintahkannya menutup wajah. Dari sini dapat diketahui bahwa
orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya masih lebih baik daripada orang
bodoh.”
Dari keterangan
al-Baijuri tersebut dapat disimpulkan bahwa: Ada dua pendapat terkait Khuthaba’
al-Fitnah (orator fitnah) yang kelak disiksa dengan dipotong lidah dan
bibirnya. Menurut sebagian ulama, siksaan itu karena ucapan yang tanpa
dibarengi tindakan merupakan sifat pamer.
Menurut ulama yang lain,
yang sesuai mazhab Ahlussunnah, siksaan itu bukan karena ucapannya, akan tetapi
karena meninggalkan kewajiban dan meninggalkan larangan itu sendiri. Adapun
ucapannya adalah sebuah ketaatan yang berpahala. Maka sudah layaknya bagi orang
yang berilmu untuk menyampaikan ilmunya walau diri sendiri belum sempurna
mengamalkan ilmu yang dimiliki, sembari terus memperbaiki diri agar menjadi
lebih baik.
Secara sederhana bahwa
inti dari peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, adalah Allah SWT ingin
menghibur hamba pilihan dan kesayanannya,
karena sebelum itu orang tersayang beliau wafat yaitu pamannya Abu Thalib dan
istri pertmanya yaitu Siti Khadijah, keduanya merupakan pendukung dakwah
Islamiyah baik jiwa, harta dan waktu serta pikirannya. Selain itu Allah SWT berkehendak
untuk memerintahkan kewajiban shalat bagi umat Rasulullah SAW, mulai saat itu
sampai hari kiamat kelak. Karena itu mari kita kaum muslimin beriman untuk
terus memahami makna shalat yang telah kita lakukan dalam kehidupan ini, supaya
lebih bermakna dan bernilai dalam
kehidupan sehari-hari.
Jadi Isra’ Mi'raj adalah
peristiwa mukjizat Nabi Muhammad SAW yang menjadi fondasi kewajiban shalat lima waktu, bukti kebesaran Allah SWT, penguatan
iman, dan inspirasi spiritual bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada-Nya
serta meneladani keteguhan Rasulullah dalam menghadapi tantangan, menunjukkan
bahwa di balik kesulitan ada kemudahan.
Reviewed by sangpencerah
on
Januari 16, 2026
Rating:





Tidak ada komentar: