BENCANA DAN TANTANGAN DAKWAH

 BENCANA DAN TANTANGAN DAKWAH
Oleh :  Ust. Drs. H. Radix Mursenoaji
Ketua MT PDM Kota Malang


 

Dan peliharalah dirimu dari siksaan(bencana/ujian) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. Al Anfaal;8:25)

Bencana alam yang menimpa umat manusia selalu datang silih-berganti dari waktu ke waktu, terjadi pada musim penghujan berupa banjirtanah longsor, kekeringan dan paceklik di musim kemarau; gempa bumi dan gunung meletus; angin puting beliung di daratan maupun ombak besar di lautan. Bencana yang terjadi, tidak hanya menimpa masyarakat tertentu yang berbuat kerusakan dan dosa tetapi juga menimpa orang-orang yang dikenal sebagai orang shalih. Secara faktual memang demikian adanya bahwa para korban bencana tidak pernah terpilah dan terpilih pada kelompok orang tertentu.

Dari makna yang terkandung pada ayat di atas, dapat dipahami bahwa orang shalih dimanapun berada tetap merupakan bagian dari identitas kelompok masyarakat setempat. Artinya mereka harus mampu menjadi pemantik untuk berbuat kebaikan dalam jalan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dan ber fastabiqul khairat. Bukankah setiap dari kita dituntut oleh Qur’an agar menjadi Da’i atau Muballigh, sebagaimana Firman-Nya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia , menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah  (QS. Ali Imran(3): 110).  Kita selalu ingin menjadi penebar kebaikan, bukan orang yang merugi: “ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran(QS. Al ‘Asr;103:1-3)

Orang beriman yang arif, senantiasa berusaha mengambil hikmah dan ibrah dari setiap bencana, baik yang menimpa dirinya maupun yang terjadi di seberang. Hal ini menjadi tantangan dakwah sebagai bentuk kepedulian menuju masyarakat (Islam) yang berkemajuan yakni masyarakat yang mematuhi perintah agama (Islam) tidak hanya urusan ibadah mahdhah saja, namun juga menjalankan perintah agama terkait dengan hubungan antar sesama, mengangkat harkat-martabat kemanusiaan lingkungan.

Dengan demikian cakupan materi dakwah akan semakin berkembang, dinamis berimprovisasi dari dalil kontekstual ke ranah praktek semua segi kearifan hidup; tempat dan media dakwah tidak lagi terpusat di Masjid dan Mushalla atau rumah/gedung saja tetapi dapat disampaikan kepada sasaran dakwah sesuai dengan keadaan dan keberadaannya.

Dari potongan ayat di atas dengan jelas memberikan pemahaman bahwa bencana yang datang menimpa manusia adalah akibat dari perbuatan tangan manusia sendiri, baik secara kolektif maupun pribadi. kerusakan akibat tangan manusia tidak hanya terjadi pada dataran bumi yang dipijaknya tetapi juga akan merembet sampai ke lautan dan atmosfir. Memang secara keilmuan, daratan – lautan dan – udara (atmosfer) adalah satu sistem yang saling mempengaruhi. Harus kita sadari bahwa bencana yang datang hanya sebahagian kecil saja sebagai peringatan. Namun apabila manusia tidak tergugah dan tidak mau segera kembali kepada jalan kebenaran maka akan datang bencana yang  lebih besar lagi! Kita harus memahami juga bahwa kedahsyatan bencana tidak hanya menimpa orang yang dzalim saja di muka bumi ini.

Hal ini berarti kita juga dituntut untuk ikut peduli ber-amar ma’ruf nahi mungkar” dalam urusan lingkungan alam, menjaga kelestariannya dan sekaligus bertindak mencegah dari kerusakan yang akan terjadi. Kepedulian itu secara spiritual untuk membentuk pribadi masyarakat/komunal yang muttaqien karena masyarakat yang bertaqwa akan mendapatakan limpahan barakah, baik yang datang dari langit maupun yang muncul dari bumi. Allah SWT berfirman: “jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan(ayat-ayat) itu, maka Kami siksa mereka disebakan perbuatannya” *(QS. Al A’raaf;7:96)*


Dua Aspek

Tangan manusia yang telah berbuat kerusakan (al mafsadah) yang berakibat bencana alam adalah mencakup dua aspek, yakni aspek moral - spiritual dan aspek teknis. Aspek moral-spiritual, yang didasari oleh sifat ketamakan manusia sehingga tidak mampu melihat anugerah Allah SWT sebagai amanah dari Allah SWT yang harus dimanfaatkan dengan baik, disyukuri, dipelihara dan kelak akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya.  Perilaku dosa ini lebih disebabkan rendahnya pengetahuan dan kesadaran dalam beragama sehingga mereka tidak mampu menempatkan dirinya sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi, mencegah terjadinya mafsadah, atau segera kembali kepada jalan yang benar apabila sudah ada sinyal berupa bencana. Pada aspek ini, kiranya sangat tepat menjadi bidang garap bagi para Da’i dan “Ulama untuk mengajak masyarakat negeri guna membangun taqwallah, namun kita harus mengindentifikasi diri bahwa setiap dari kita adalah Da’i sesuai kadar kemampuan. Tentu kita paham bahwa manusia bertaqwa adalah yang selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari kesengsaraan, kesusahan atau siksa baik sewaktu masih hidup di dunia maupun di akherat kelak dengan cara melakukan amal shalih dan menjauhi ma’siyat.  “ dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota sebelum Dia mengutusdi ibukota itu seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kedzaliman” (QS. Al Qasas:59)

Aspek teknis yang perlu kita pahami adalah terkait dengan berbagai upaya dilakukan agar bencana itu tidak terjadi lagi atau meminimalisir korban atau kerugian. Perbuatan kita yang salah terhadap ayat kauniah dapat kita kaji, dimana letak kesalahan itu, kemudian kita melangkah untuk melakukan sesuatu yang konstruktif.

Dalam pemahaman keilmuan lingkungan hidup, diperlukan adanya upaya konservasi tanah dan air. upaya ini akan dapat menjaga dan meningkatkan kelestarian sumberdaya alam anugerah Allah SWT. Sunnatullah memberi pelajaran kepada kita bahwa air di planet bumi ini selalu berproses atau siklus hidrologi. Secara singkat dapat diketahui bahwa air dimuka bumi ini akan menguap karena pemanasan atupun anomali. Uap air yang berkumpul diangkasa menjadi gumpalan mendung lalu terjadi hujan. Secara sunnatullah pula, Allah SWT menyelamatkan tanah dari pukulan air hujan yang jatuh dengan menumbuhkan berbagai tumbuhan, baik yang berupa hutan maupun semak belukar. Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi sebagian akan meresap kedalam tanah mengisi kantung aquiver tanah dan sebagian lagi akan mengalir diatas tanah yang dapat menyebabkan terjadinya erosi (membawa larutan butiran tanah) dan banjir. Seringnya bencana banjir dan erosi, tanah longsor bahkan kekeringan di musim kemarau adalah karena volume air hujan yang meresap kedalam tanah lebih sedikit dari pada yang mengalir diatas permukaan tanah (survace run off). Keadaan ini disebabkan antara lain karena hutan dan tetumbuhan sudah banyak yang rusak ditebang sehingga pelindung tanah tidak ada lagi atau permukaan tanah sudah semakin luas yang dibuat kedap air menjadi lantai, rabat dan jalan beraspal dan sebagainya. Erosi, selain menjadikan lahan pertanian semakin tandus juga menyebakan terjadinya pendangkalan diberbagi jaringan air, saluran draenase, sungai, waduk/bendungan sampai dengan di pantai. Akibat kondisi ini maka akan terjadi langganan bencana banjir, tanah longsor pada musim hujan; dan bencana kekeringan dan paceklik di musim kemarau… nau’udzubillah. Miskinnya hutan dan tumbuhan pada suatu luasan daratan akan memiskinkan terjadinya mendung dan hujan, memudahkan terjadinya angin kencang atau puting beliung dan kondisi buruk lainnya.

Air hujan yang meresap kedalam tanah maka akan menjadi ‘air mantab’ yakni lebih bermanfaat untuk kehidupan dan tidak menjadikan kerusakan. Air dalam tanah senantiasa juga bergerak memenuhi tempat yang lebih rendah. Apabila pergerakannya terpotong oleh permukaan kelerengan topografi tanah maka akan muncul menjadi sumber mata air atau yang kita kenal sebagai belik. Apabila air hujan itu mengisi aquiver tanah maka apabila kita gali akan menjadi air sumur. Sedangkan apabila aquiver tanah itu masih terjaga hingga di wilayah pantai maka akan mencegah terjadinya air asin masuk kedaratan – intruksi. Subhanallah, ini tugas khalifah!  Air QS.29:14, pernah menenggelamkan kaum Nabi Nuh as . menceritakan tentang pengutusan Nabi Nuh as, kepada kaumnya selama 950 tahun, yang kemudian ditimpa banjir besar karena kedzaliman dan kekufuran mereka, menjadi peringatan bagi umat lain bahwa Allah SWT menguji keimanan dan akan memberikan adzab bagi yang durhaka.

Jadi! Semua kejadian di langit dan bumi serta diantara keduanya adalah akibat dari perbuatan tangan manusia sendiri, sebagai sinyal peringatan agar manusia kembali kepada jalan kebenaran Ilahiyah. Orang yang tidak mengambil pelajaran dari suatu kejadian maka akan merugi dan terancam akan datangnya bencana yang lebih dahsyat lagi. Jalan kebenaran ilahiyah mencakup kesadaran dan upaya moral spiritual menjadikan manusia semakin bertaqwa, dan upaya teknis untuk mengembalikan kerusakan sumberdaya alam melalui konservasi tanah dan air, dan ini menjadi bidang garap para birokrat dan praktisi lingkungan. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita menjadi khalifah dimuka bumi ini dengan baik.

Wallahu a’lam bis shawab



BENCANA DAN TANTANGAN DAKWAH  BENCANA DAN TANTANGAN DAKWAH Reviewed by sangpencerah on Januari 01, 2026 Rating: 5

Tidak ada komentar: