Dan
peliharalah dirimu dari siksaan(bencana/ujian) yang tidak khusus menimpa
orang-orang yang dzalim saja di antara kamu dan ketahuilah bahwa Allah amat
keras siksaan-Nya. (QS. Al Anfaal;8:25)
Bencana alam
yang menimpa umat manusia selalu datang silih-berganti dari waktu ke waktu,
terjadi pada musim penghujan berupa banjir’ tanah longsor, kekeringan dan
paceklik di musim kemarau; gempa bumi dan gunung meletus; angin puting beliung
di daratan maupun ombak besar di lautan. Bencana yang terjadi, tidak hanya
menimpa masyarakat tertentu yang berbuat kerusakan dan dosa tetapi juga menimpa
orang-orang yang dikenal sebagai orang shalih. Secara faktual memang demikian
adanya bahwa para korban bencana tidak pernah terpilah dan terpilih pada
kelompok orang tertentu.
Dari makna yang
terkandung pada ayat di atas, dapat dipahami bahwa orang shalih dimanapun berada tetap merupakan bagian
dari identitas kelompok masyarakat setempat. Artinya mereka harus mampu
menjadi pemantik untuk berbuat kebaikan dalam jalan dakwah amar ma’ruf nahi
mungkar dan ber fastabiqul khairat. Bukankah setiap dari kita dituntut oleh Qur’an
agar menjadi Da’i atau Muballigh, sebagaimana Firman-Nya: “Kamu adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia , menyuruh kepada yang ma’ruf dan
mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah” (QS.
Ali Imran(3): 110). Kita selalu ingin menjadi penebar kebaikan,
bukan orang yang merugi: “ Demi masa. Sesungguhnya
manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan
nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Asr;103:1-3)
Orang beriman
yang arif, senantiasa berusaha mengambil hikmah dan ibrah dari setiap bencana,
baik yang menimpa dirinya maupun yang terjadi di seberang. Hal ini menjadi
tantangan dakwah sebagai bentuk kepedulian menuju masyarakat (Islam) yang
berkemajuan yakni masyarakat yang mematuhi perintah agama (Islam) tidak hanya
urusan ibadah mahdhah saja, namun juga menjalankan perintah agama terkait
dengan hubungan antar sesama, mengangkat harkat-martabat kemanusiaan lingkungan.
Dengan demikian
cakupan materi dakwah akan semakin berkembang, dinamis berimprovisasi dari
dalil kontekstual ke ranah praktek semua segi kearifan hidup; tempat dan media dakwah
tidak lagi terpusat di Masjid dan Mushalla atau rumah/gedung saja tetapi dapat
disampaikan kepada sasaran dakwah sesuai dengan keadaan dan keberadaannya.
Dari potongan ayat di atas dengan jelas memberikan pemahaman bahwa
bencana yang datang menimpa manusia adalah akibat dari perbuatan tangan manusia sendiri, baik secara
kolektif maupun pribadi. kerusakan akibat
tangan manusia tidak hanya terjadi pada dataran bumi yang
dipijaknya tetapi juga akan merembet sampai ke lautan dan atmosfir. Memang
secara keilmuan, daratan – lautan dan – udara (atmosfer) adalah satu sistem
yang saling mempengaruhi. Harus kita sadari bahwa bencana yang datang hanya sebahagian
kecil saja sebagai peringatan. Namun apabila manusia tidak tergugah dan tidak
mau segera kembali kepada jalan kebenaran maka akan datang bencana yang lebih besar lagi! Kita harus memahami juga
bahwa kedahsyatan bencana tidak hanya menimpa orang yang dzalim saja di muka bumi ini.
Hal ini berarti
kita juga dituntut untuk ikut peduli ber-amar ma’ruf nahi mungkar” dalam urusan
lingkungan alam, menjaga kelestariannya dan sekaligus bertindak mencegah dari
kerusakan yang akan terjadi. Kepedulian itu secara spiritual untuk membentuk
pribadi masyarakat/komunal yang muttaqien karena masyarakat yang bertaqwa akan
mendapatakan limpahan barakah, baik yang datang dari langit maupun yang muncul
dari bumi. Allah SWT berfirman: “jika sekiranya penduduk negeri beriman dan
bertaqwa, pastilah Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan
bumi. Tetapi mereka mendustakan(ayat-ayat) itu, maka Kami siksa mereka
disebakan perbuatannya” *(QS. Al A’raaf;7:96)*
Dua Aspek
Tangan manusia
yang telah berbuat kerusakan (al mafsadah) yang berakibat bencana
alam adalah mencakup dua aspek, yakni aspek moral - spiritual dan aspek teknis.
Aspek moral-spiritual, yang didasari oleh sifat ketamakan manusia sehingga tidak mampu melihat
anugerah Allah SWT sebagai amanah dari Allah SWT yang harus dimanfaatkan dengan
baik, disyukuri, dipelihara dan kelak akan dipertanggungjawabkan
kepada-Nya. Perilaku dosa ini lebih
disebabkan rendahnya pengetahuan dan kesadaran dalam beragama sehingga mereka
tidak mampu menempatkan dirinya sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi,
mencegah terjadinya mafsadah, atau segera kembali kepada jalan yang benar
apabila sudah ada sinyal berupa bencana. Pada aspek ini, kiranya sangat tepat
menjadi bidang garap bagi para Da’i dan “Ulama untuk mengajak masyarakat negeri
guna membangun taqwallah, namun kita harus mengindentifikasi diri bahwa setiap
dari kita adalah Da’i sesuai kadar kemampuan. Tentu kita paham bahwa manusia
bertaqwa adalah yang selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari
kesengsaraan, kesusahan atau siksa baik sewaktu masih hidup di dunia maupun di
akherat kelak dengan cara melakukan amal shalih dan menjauhi ma’siyat. “ dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan
kota-kota sebelum Dia mengutusdi ibukota itu seorang Rasul yang membacakan
ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan
kota-kota kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kedzaliman” (QS. Al Qasas:59)
Aspek teknis
yang perlu kita pahami adalah terkait dengan berbagai upaya dilakukan agar
bencana itu tidak terjadi lagi atau meminimalisir korban atau kerugian.
Perbuatan kita yang salah terhadap ayat kauniah dapat kita kaji, dimana letak
kesalahan itu, kemudian kita melangkah untuk melakukan sesuatu yang konstruktif.
Dalam pemahaman
keilmuan lingkungan hidup, diperlukan adanya upaya konservasi tanah dan air.
upaya ini akan dapat menjaga dan meningkatkan kelestarian sumberdaya alam
anugerah Allah SWT. Sunnatullah memberi pelajaran kepada kita bahwa air di
planet bumi ini selalu berproses atau siklus hidrologi. Secara singkat dapat
diketahui bahwa air dimuka bumi ini akan menguap karena pemanasan atupun
anomali. Uap air yang berkumpul diangkasa menjadi gumpalan mendung lalu terjadi
hujan. Secara sunnatullah pula, Allah SWT menyelamatkan tanah dari
pukulan air hujan yang jatuh dengan menumbuhkan berbagai tumbuhan, baik yang
berupa hutan maupun semak belukar. Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi
sebagian akan meresap kedalam tanah mengisi kantung aquiver tanah dan sebagian
lagi akan mengalir diatas tanah yang dapat menyebabkan terjadinya erosi
(membawa larutan butiran tanah) dan banjir. Seringnya bencana banjir dan erosi,
tanah longsor bahkan kekeringan di musim kemarau adalah karena volume air hujan
yang meresap kedalam tanah lebih sedikit dari pada yang mengalir diatas
permukaan tanah (survace run off). Keadaan ini disebabkan antara lain
karena hutan dan tetumbuhan sudah banyak yang rusak ditebang sehingga pelindung
tanah tidak ada lagi atau permukaan tanah sudah semakin luas yang dibuat kedap
air menjadi lantai, rabat dan jalan beraspal dan sebagainya. Erosi, selain
menjadikan lahan pertanian semakin tandus juga menyebakan terjadinya
pendangkalan diberbagi jaringan air, saluran draenase, sungai, waduk/bendungan
sampai dengan di pantai. Akibat kondisi ini maka akan terjadi langganan bencana
banjir, tanah longsor pada musim hujan; dan bencana kekeringan dan paceklik di
musim kemarau… nau’udzubillah. Miskinnya hutan dan tumbuhan pada suatu
luasan daratan akan memiskinkan terjadinya mendung dan hujan, memudahkan
terjadinya angin kencang atau puting beliung dan kondisi buruk lainnya.
Air hujan yang meresap kedalam tanah maka akan menjadi ‘air mantab’
yakni lebih bermanfaat untuk kehidupan dan tidak menjadikan kerusakan. Air
dalam tanah senantiasa juga bergerak memenuhi tempat yang lebih rendah. Apabila
pergerakannya terpotong oleh permukaan kelerengan topografi tanah maka akan
muncul menjadi sumber mata air atau yang kita kenal sebagai belik. Apabila air
hujan itu mengisi aquiver tanah maka apabila kita gali akan menjadi air sumur.
Sedangkan apabila aquiver tanah itu masih terjaga hingga di wilayah pantai maka
akan mencegah terjadinya air asin masuk kedaratan – intruksi. Subhanallah, ini
tugas khalifah! Air QS.29:14, pernah menenggelamkan kaum Nabi Nuh as . menceritakan tentang
pengutusan Nabi Nuh as, kepada kaumnya selama 950 tahun, yang kemudian ditimpa
banjir besar karena kedzaliman dan kekufuran mereka, menjadi peringatan bagi
umat lain bahwa Allah SWT menguji keimanan dan akan memberikan adzab bagi yang
durhaka.
Jadi! Semua
kejadian di langit dan bumi serta diantara keduanya adalah akibat dari
perbuatan tangan manusia sendiri, sebagai sinyal peringatan agar manusia
kembali kepada jalan kebenaran Ilahiyah. Orang yang tidak mengambil pelajaran
dari suatu kejadian maka akan merugi dan terancam akan datangnya bencana yang
lebih dahsyat lagi. Jalan kebenaran ilahiyah mencakup kesadaran dan upaya moral
spiritual menjadikan manusia semakin bertaqwa, dan upaya teknis untuk
mengembalikan kerusakan sumberdaya alam melalui konservasi tanah dan air, dan
ini menjadi bidang garap para birokrat dan praktisi lingkungan. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita menjadi khalifah dimuka bumi ini dengan baik.
Wallahu a’lam bis shawab
Reviewed by sangpencerah
on
Januari 01, 2026
Rating:





Tidak ada komentar: