Memahami
ayat 4 surat at-Tiin, bahwa manusia diciptakan dalam kondisi yang
sebaik-baiknya,dibandingkan makhluk Allah SWT lainnya, seperti hewan, jin dan
iblis, indikasi dari kata “Ahsani taqwim” adalah bahwa manusia dibekali indera yang
cukup oleh Allah SWT untuk difungsikan dalam kehidupan di dunia ini.
Sebgaaimana
perjelasan Allah SWT bahwa Manusia merupakan makhluk
ciptaan Allah SWT yang paling sempurna jika
dibandingkan dengan makhluk lainnya. Hal ini sebagaimana Allah SWT sebutkan dalam Al-Qur’an surat
At-Tiin ayat 4 yang artinya “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya”.
Kesempurnaan penciptaan manusia
ini merupakan suatu karunia dari Allah SWT yang
sudah sepatutnya kita syukuri. Cara mensyukurinya tentu saja dengan menjaga
potensi yang telah Allah SWT anugerahkan
tersebut.
Ada tiga potensi yang secara
utuh dimiliki oleh manusia, sedangkan makhluk lain tidak memiliki ketiganya
sekaligus. Dengan adanya ketiga potensi ini membuat kedudukan manusia lebih
tinggi dibanding dengan makhluk lainnya di muka bumi ini.
Ada pun ketiga potensi tersebut
adalah:
1. Jasadiyah (fisik)
2. Aqliyah (akal)
3. Ruhiyah (hati/qalbu)
Bagaimana
kita sebagai muslim sejati melihat dan memanfataakan ketiga potensi dasar
manusia yang dimiliki sejak manusia lahir ke dunia ini.
1. Jasadiyah (fisik).
Sejak seseorang masih berada di
dalam rahim ibunya, Allah SWT sudah
menciptakan fisiknya secara lengkap. Sebelum lahir ke dunia, Allah SWT sudah membekali kita panca
indera yang akan kita pergunakan dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini.
Allah menganugerahkan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk meraba,
dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, mulut untuk berbicara
serta hidung untuk mencium. Meskipun ada juga orang yang tidak memiliki panca
indera tersebut seluruhnya, akan tetapi Allah SWT telah
menyediakan sesuatu yang istimewa kepadanya.
Bagi kita yang Allah
anugerahkan anggota tubuh yang lengkap, maka kita wajib mensyukurinya dengan
cara mempergunakannya untuk melakukan hal-hal yang diridhai oleh Allah SWT.
Memang ada satu makhluk hidup
lain yang memiliki fisik sama seperti manusia, yakni hewan (binatang). Namun
fisik binantang tidak sesempurna manusia. Tidak semua hewan mempunyai telinga,
tangan dan atau kaki sehingga mereka tidak bisa beraktivitas dengan baik
sebagaimana manusia. Meskipun tentu saja setiap hewan tersebut memiliki
keistimewaan masing-masing, sehingga dengan keistimewaan tersebut mereka mampu
bertahan hidup khususnya jika ada musuh yang hendak memangsanya.
Jadi, sebagai makhluk yang
paling sempurna, maka tugas kita selanjutnya adalah menjaga fisik yang kita
miliki agar tetap sehat sehingga kita dapat beraktivitas dan beribadah dengan
baik. Setiap hari kita wajib memberikan kebutuhan fisik kita dengan
sebaik-baiknya, seperti : memakan makanan bergizi, minum air putih yang banyak
(setidaknya dua liter sehari), istirahat yang cukup serta memakai pakaian yang
menutup aurat.
Selain itu, fisik juga
memerlukan kebutuhan tambahan yang disebut dengan kebutuhan skunder dan
tersier. Seperti: memiliki rumah untuk tempat tinggal, berhias, memakai
perhiasan, memiliki kendaraan dan sebagainya. Semua kebutuhan tersebut perlu
kita penuhi demi terciptanya kesehatan pada diri kita.
2. Aqliyah (akal)
Akal merupakan salah satu
potensi utama yang dimiliki oleh manusia. Akal merupakan pembeda antara manusia
dengan binatang. Dengan akal manusia bisa membedakan antara yang benar dengan
yang salah. Dengan menggunakan akal manusia bisa memikirkan tentang hakikat
kehidupan ini.
Sebagaimana fisik, akal juga
wajib kita penuhi kebuthannya. Di antara cara untuk memenuhi kebutuhan akal
adalah dengan menuntut ilmu. Semakin rajin menuntut ilmu, maka akal manusia
akan semakin cerdas. Namun tentu saja ilmu yang kita pelajari bukan hanya ilmu
pengetahuan duniawi semata, melainkan juga ilmu yang berkaitan dengan akhirat.
Dengan ilmu kita bisa meraih
kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sebagaimana yang
disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam suatu hadits “Barang siapa yang ingin (berbahagia
di) dunia harus dengan ilmu. Barang siapa yang ingin (berbahagia di) akhirat
harus dengan ilmu. Dan barang siapa yang ingin (berbahagia) kedua-duanya, maka
harus dengan ilmu.”
Oleh karenanya kita tidak boleh
merasa puas atau merasa cukup dalam menuntut ilmu.
Karena sejatinya semakin banyak
ilmu yang kita pelajari, maka semakin banyak pula ilmu yang belum kita ketahui.
Dan sebaiknya ilmu yang kita miliki kita ajarkan juga kepada orang lain, karena
mengajarkan ilmu yang bermanfaat (‘ilman nafi’an) maka pahalanya akan mengalir
terus-menerus hingga ke alam barzakh nanti.
3. Ruhiyah (hati/qalbu)
Hati merupakan tempat
bersemayamnya iman, kejujuran, keyakinan dan pengagungan kepada Allah SWT, Sang Pencipta semesta alam.
Hati adalah tempat berhimpunnya rasa takut, tawakal, kecintaan kepada Allah SWT, ketundukan dan penyerahan
diri sepenuhnya hanya kepada Allah SWT semata
(tawakkal).
Hati yang bersih akan dipenuhi
dengan pikiran-pikiran positif (husnudzan), baik kepada Allah SWT maupun kepada orang lain.
Dengan hati yang bersih dapat membuat seluruh tubuh seseorang menjadi sehat.
Sedangkan hati yang kotor ia akan cenderung berprasangka buruk (su’udzan), baik
kepada Allah SWT maupun terhadap manusia. Hal
ini mengakibatkan seseorang selalu merasa resah dan tidak tenang hingga
akhirnya dapat menimbulkan berbagai macam penyakit pada dirinya.
Dalam suatu hadits Rasulullah
SAW bersabda: “Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika
ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh
jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari. 52 dan
Muslim, 1599).
Berbeda dengan malaikat yang
selalu patuh kepada Allah SWT, manusia diberikan kebebasan
untuk memilih jalannya sendiri. Manusia dapat memilih antara jalan yang benar
maupun jalan yang buruk. Dan keduanya dapat dibedakan bila seseorang memiliki
hati nurani yang murni.
Sebagai seorang mukmin kita
harus terus menjaga hati kita agar tetap bersih. Di antara cara menjaga
kebersihan hati adalah dengan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT, seperti: shalat, puasa,
membaca Al-Qur’an, memperbanyak mengingat Allah (berdzikir) dan menuntut
ilmu agama Islam.
Dengan demikian insyaAllah hati
kita akan tetap bersih dan terjaga, sehingga kita senantiasa bersemangat dalam
menjalankan perintah Allah SWT dan
ikhlas menjalani semua takdir yang telah Allah SWT tetapkan
kepada kita.
Jika hati kita selalu terhubung
dengan Allah SWT,
maka InsyaAllah saat kembali kepada Allah SWT nanti
kita termasuk ke dalam hamba yang dimuliakan Allah SWT sebagaimana
firman-Nya dalam surat Al-Fajr ayat 27 – 30 yang artinya “Wahai jiwa yang
tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka
masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Oleh karenanya jika kita merasa
ada yang mengotori hati kita, seperti: iri, dengki dan sombong, maka segeralah
membersihkannya dengan cara beristighfar, memohon ampun kepada Allah SWT serta membaca ta’awwudz (a’udzubillahi
minassyaithanirrajim). Mudah-mudahan dengan demikian hati kita bersih
dan bercahaya kembali. Jangan sampai membiarkan hati menjadi menghitam dan
gelap sehingga cahaya kebenaran tidak dapat menembusnya. Na’udzubillah min
dzalik.
Sebagai penutup, saya ingin
mengingatkan kepada diri saya sendiri dan pembaca sekalian bahwa karena begitu
pentingnya ketiga potensi pada diri manusia tersebut, maka kita wajib selalu
menjaga keseimbangannya. Kita penuhi kebutuhan masing-masing dengan seimbang,
jangan sampai ada ketimpangan antara yang satu dengan yang lainnya.
Mari kita manfaatkan tubuh yang
kita miliki untuk beribadah kepada Allah SWT, kita pergunakan akal untuk
memikirkan hal-hal yang baik, menuntut ilmu yang bermanfaat serta kita hati
kita agar tetap bersih dan selalu terikat dengan Allah SWT. Mudah-mudahan
dengan adanya keseimbangan ini, kita dapat menikmati kebahagiaan hidup baik di
dunia maupun di akhirat kelak.
Wallahu a’lam bisshawwab.
Seperti istilah anak-anak yang
belajar di jurusan Akuntansi “antara Debet dan Kredit harus seimbang (balance).
Jika tidak, pasti ada kesalahan pada perhitungan atau penulisan angkanya. Maka,
perlu dicari akar masalahnya, supaya neracanya bisa seimbang dan mendapat nilai
seratus dari gurunya..
Reviewed by sangpencerah
on
Desember 19, 2025
Rating:






Tidak ada komentar: